Sri Mulyani minta AIIB dukung wujudkan transisi rendah karbon

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati meminta Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) terus memberikan dukungan kepada negara anggota, termasuk Indonesia untuk mewujudkan transisi rendah karbon dengan cara adil dan terjangkau.

Permintaan Sri Mulyani tersebut disampaikannya saat menghadiri secara virtual Sidang Tahunan AIIB ketujuh yang diselenggarakan di Beijing, China, dengan tema Sustainable Infrastructure Toward a Connected World.

“AIIB diharapkan dapat berkolaborasi dalam memberikan dukungan kepada negara anggota menuju transisi rendah karbon dengan cara yang adil dan terjangkau,” katanya dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat.

Sri Mulyani menuturkan AIIB dapat berperan dalam menggandeng sektor swasta untuk meningkatkan pendanaan dalam rangka transisi menuju net-zero termasuk melalui instrument pasar modal berkelanjutan dan fasilitas de-risking.

AIIB diharapkan dapat memberikan bantuan teknis untuk mendukung klien dalam penyiapan proyek yang bankable dan feasible sehingga AIIB perlu meningkatkan keahlian dan kemampuan termasuk melalui peningkatan staf.

Sri Mulyani menjelaskan Indonesia sendiri dalam menjalankan transisi energi di antaranya dilakukan melalui agenda Energy Transition Mechanism (ETM) yang bekerja sama dengan ADB.

Kerja sama antara Indonesia dan ADB terkait ETM ini bertujuan mempercepat penghentian penggunaan pembangkit listrik batu bara sehingga dapat mempromosikan pengembangan energi terbarukan.

Untuk menjalankan agenda tersebut diperlukan skema pembiayaan yang sesuai dan pendekatan transaksi yang mampu memberikan manfaat bagi komunitas, ekonomi di daerah dan lingkungan.

Dalam implementasi ETM, Indonesia telah membentuk ETM Country Platform dan akan mengumumkan proyek pilot dalam G20 Leader Summit pada November 2022.

“AIIB diharapkan dapat berpartisipasi dalam mendukung program ETM di Indonesia,” ujar Sri Mulyani.

Meski demikian, Indonesia sebenarnya telah memperoleh manfaat dari kerjasama dengan AIIB dalam mendukung pembiayaan bagi proyek infrastruktur.

Indonesia menjadi negara keempat penerima dukungan AIIB dengan nilai sebesar 3,13 miliar dolar AS yakni di antaranya untuk penanganan pandemi COVID-19 melalui fasilitas COVID-19 Crisis Recovery Facility (CRF) senilai 1,5 miliar dolar AS.

Dalam Sidang Tahunan ini, Presiden AIIB menyampaikan laporan perkembangan operasional AIIB termasuk strategi korporasi yang akan dijalankan untuk mendukung negara anggota dalam pembangunan infrastruktur berkelanjutan.

Dalam Sidang Tahunan ini juga diputuskan bahwa Sidang Tahunan berikutnya akan diselenggarakan pada 25-26 September 2023 di Sharm el Sheikh, Mesir.

Baca juga: AIIB targetkan 50 persen pinjaman untuk pembiayaan iklim 2025

Baca juga: AIIB perkirakan pendanaan iklim capai 50 miliar dolar AS pada 2030

Baca juga: AIIB setujui pembiayaan 150 juta dolar AS untuk proyek satelit RI