Sri Mulyani Pastikan APBN Tetap Fleksibel Hadapi Kenaikan Inflasi

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, tantangan ekonomi Indonesia saat ini bukan lagi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung. Melainkan inflasi yang menyebabkan kenaikan harga komoditas akibat geopolitik Rusia dan Ukraina yang menciptakan ketegangan politik dan sisi operasi militer.

"Kalau tahun 2020-2021 ancaman masyarakat paling besar pandemi, sekarang tahun 2022 ancaman terbesar adalah inflasi, naiknya harga-harga," kata Sri Mulyani dikutip dari laman kemenkeu.go.id, Jakarta, Kamis (12/5).

Menurutnya, APBN akan terus adaptif dan fleksibel menghadapi berbagai tantangan yang terus berubah. Dia menjelaskan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tahun 2020-2021 mayoritas digunakan untuk mengatasi pandemi, baik untuk vaksinasi, terapeutik, maupun meningkatkan belanja bantuan sosial.

Sedangkan untuk tahun 2022, belanja PEN tetap akan didominasi untuk bantuan sosial dalam bentuk bantalan subsidi untuk mengurangi shock yang begitu dahsyat yang berasal dari luar. "Jadi ini harus kita jaga, menggunakan beberapa instrumen APBN yang ada, termasuk di dalamnya subsidi," kata dia.

Dari sisi internal pemerintah sudah dibahas dalam sidang kabinet untuk melakukan penyesuaian APBN tahun ini. Setelahnya pemerintah akan duduk bersama DPR untuk membahasnya lebih dalam. "Implikasinya nanti postur APBN-nya berubah. Dalam dua bulan kedepan, kita akan bicara dengan DPR lagi," kata dia.

Sehingga APBN akan terus fleksibel untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi sekaligus melindungi masyarakat. "Strategi akan terus kita akan kalibrasi sehingga ekonominya pulih itu tetap kita jaga momentumnya dan instrumennya kita akan fleksibel," tandasnya. [azz]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel