Sri Mulyani: Pemulihan Ekonomi Belum Merata

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Ekonomi Indonesia sudah mulai terlihat pulih dari dampak pandemi Covid-19. Namun menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, pemulihan ekonomi tersebut belum merata. Ada beberapa sektor dan daerah yang masih merasakan dampak akibat dari pandemi Covid-19.

"Pemulihan ekonomi kita masih belum merata antar sektor-sektor yang mungkin lebih mudah pulih, dan yang lebih sulit pulih, juga antar daerah," kata dia dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional 2021, Selasa (4/5/2021).

Oleh karenanya, penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai instrumen countercyclical akan digunakan untuk menciptakan kebijakan yang berimbang. Selain itu, dukungan APBD juga diharapkan bisa membantu mendorong pemulihan ekonomi nasional.

"Ini akan menimbulkan kompleksitas karena APBD di daerah dan transfer ke daerah itu sepertiga dari APBN kita, ditambah dengan APBD jumlahnya cukup mempengaruhi perekonomian Indonesia," jelasnya.

"Oleh karena itu, sinergi dan koordinasi kelembagaan antar pusat dan daerah menjadi suatu keharusan," pungkas Sri Mulyani.

Sebelumya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebut bahwa saat ini tengah terjadi proses pemulihan ekonomi nasional menuju level sebelum pandemi Covid-19. Kepastian ini tercermin dari perbaikan kinerja sejumlah leading sektor.

"(Saat ini) momentum pemulihan ekonomi sedang berlangsung. Ini tercermin dari berbagai leading indikator yang menunjukkan perbaikan," ujarnya dalam webinar bertajuk Transformasi Ekonomi: Mendorong Investasi di Indonesia Melalui Implementasi UU Cipta Kerja, Kamis (29/4).

Dari sisi konsumsi, ini ditandai dari peningkatan indeks keyakinan konsumen dan penambahan angka penjualan retail yang terus membaik. "Penjualan kendaraan bermotor meningkat 28 persen di bulan Maret seiring dengan kebijakan PPnBM," paparnya.

Tren positif juga dicatatkan sektor investasi. Survei kegiatan dunia usaha telah berada di level positif. Dan diproyeksikan terus meningkat di kuartal II mendatang. "Di mana Index PMI terus menujukkan di level ekspansif, terakhir itu (Maret) 53,2," terangnya.

Neraca Perdagangan

Sejumlah truk masuk ke dalam kapal di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (4/12/2020). Deputi Bidang Perekonomian Setkab Satya Bhakti Parikesit menyampaikan upaya pemulihan ekonomi di tengah pandemi pemerintah telah mengeluarkan stimulus di sektor perdagangan. (merdeka.com/Imam Buhori)
Sejumlah truk masuk ke dalam kapal di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (4/12/2020). Deputi Bidang Perekonomian Setkab Satya Bhakti Parikesit menyampaikan upaya pemulihan ekonomi di tengah pandemi pemerintah telah mengeluarkan stimulus di sektor perdagangan. (merdeka.com/Imam Buhori)

Lalu, kinerja neraca perdagangan Indonesia juga kian kinclong sejak akhir tahun 2020 lalu. Ini ditandai dengan adanya surplus yang diiringi dengan peningkatan kinerja ekspor maupun impor.

Untuk impor tertinggi ialah mencakup komoditas bahan baku dan barang modal. "Ini menunjukkan geliat dunia usaha sudah mendekati pulih," tekannya.

Sementara dari sisi ekspor, surplus yang dicatatkan sejak tahun lalu diakibatkan oleh meningkatnya permintaan akan berbagai komoditas lokal yang terus berlanjut hingga saat ini. "Apalagi seiring dengan harga komoditas yang terus meningkat," tambahnya.

Tak hanya itu, pemulihan ekonomi menuju pulih terlihat dari peningkatan belanja masyarakat di bulan April lalu hingga sebesar 32,48 persen secara year on year (yoy). "Dan penerimaan industri juga mengalami peningkatan dengan mencatatkan pertumbuhan 10,26 persen secara yoy," tukasnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com