Sri Mulyani Perkirakan Pandemi Covid-19 Masih Berlangsung hingga 2021

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati melihat bahwa pandemi Covid-19 masih akan berlangsung di 2021. Hal ini karena vaksin masih terus diujicoba dan kemungkinan proses vaksinasi juga memerlukan waktu.

"Walupun ada upaya penemuan vaksin tidak akan terjadi secara serentak dan cepat pada awal 2021. Jadi 2021 masih akan hadapi pandemi dan masih ada," kata dia dalam acara Simposium Nasional Keuangan Negara (SNKN) 2020, Rabu (4/11/2020).

Saat ini ada lebih dari 25 jenis vaksin yang sedang diujicoba oleh berbagai lembaga di banyak negara. Hanya saja penemuan vaksin ini harus melalui berbagai tahap uji coba untuk menjamin keamanan.

"Dari situ ada yang sudah paling depan disebut testing tahap III dan bahkan nanti ada emergency use autorization diberikan oleh badan-badan seperti BPOM sehingga dianggap sudah aman dan dilakukan vaksinasi," jelas dia.

Selain vaksin, ancaman gelombang kedua pamdemi Covid-19 juga menjadi tantangan yang harus dihadapi. Sebab, di beberapa negara di Eropa seperti Prancis, Jerman, Inggris, Italia, Spanyol, bahkan Amerika Serikat (AS) telah menghadapi gelombang kedua Covid-19.

Dia menyadari pengendalian pandemi di gelombang kedua akan lebih sulit. Itu dikarenakan semua orang tidak ingin menutup usahanya kembali sehingga menyebabkan tekanan di bidang sosial, ekonomi, maupun keuangan yang lebih besar lagi.

"Jadi kita jangan under etimate bahwa tantangan ini masih harus kita hadapi dan kelola sama-sama. APBN akan terus melakukan fungsinya. Tapi semua pihak harus benar-benar ikut menjaga supaya masalah awalnya yaitu pandemi Covid-19 tetap bisa terjaga dan terkendali," pungkasnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Menlu Harap Vaksin Merah Putih Bisa Dipakai Pertengahan 2021

Petugas kesehatan menyuntik pasien saat simulasi vaksin COVID-19 di Puskesmas Tapos, Depok, Jawa Barat, Kamis (22/10/2020). Pemkot Depok menggelar simulasi vaksin COVID-19 dalam rangka persiapan vaksinasi yang rencananya akan dilaksanakan bulan November 2020. (Liputan6.com/Herman Zakharia)
Petugas kesehatan menyuntik pasien saat simulasi vaksin COVID-19 di Puskesmas Tapos, Depok, Jawa Barat, Kamis (22/10/2020). Pemkot Depok menggelar simulasi vaksin COVID-19 dalam rangka persiapan vaksinasi yang rencananya akan dilaksanakan bulan November 2020. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menyebut jika keberadaan atau upaya pemenuhan vaksin Covid-19 di Indonesia dilakukan melalui dua pendekatan.

Pertama, pendekatan untuk jangka pendek, di mana pemerintah berupaya mampu memenuhi vaksin dalam waktu singkat.

"Jangka pendek yang mau tidak mau kita harus lakukan kerja sama dengan pihak luar," kata Menlu Retno dalam sebuah diskusi virtual di Jakarta, pada Minggu 1 November 2020.

Kemudian pendekatan kedua untuk jangka panjang. Pemerintah menginginkan agar industri di Indonesia membangun kemandirian dalam bidang vaksin. Sehingga lahirlah vaksin merah putih.

"Alhamdulillah kita sedang mengembangkan vaksin merah-putih. Mudah-mudahan pertengahan tahun depan, kita sudah dapat memiliki vaksin merah putih yang akan bisa dipakai oleh masyarakat Indonesia dalam jangka panjang. Dan juga Insya Allah bisa kepada dunia," sebutnya.

Kendati begitu, fokus pemerintah saat ini adalah pengembangan vaksin jangka pendek. Selama ini, kata Menlu Retno, Indonesia sudah bekerjasama dengan beberapa pihak, seperti misalnya Sinovac.

Di mana kerjasama dilakukan cukup bervairasi. Dengan melakukan uji klinis ketiga yang diharapkan pada Januari nanti interim reportnya akan keluar.

Di samping itu, kita juga kerjasama dengan Sinovac untuk manufakturing vaksin dengan Bio Farma. Kita beruntung memiliki Biofarma yang sudah sangat dikenal oleh dunia. Manufakturing vaksin Sinovac nanti akan dilakukan dengan Bio Farma," jelasnya.

Dia menambahkan, Bio Farma nantinnya juga tidak hanya memanufaktur vaksin dari Sinovac. Akan tetapi juga dari CEPI (Coalition for Epidemic Preparedness iInovations). Itu dalah PP atau private partnership untuk penyediaan vaksin untuk kebutuhan global.

"Insya Allah Bio Farma akan jadi partner utk CEPI untuk pengadaan vaksin dunia," katanya.

Dalam jangka pendek, Indonesia tidak hanya menggandeng Sinovac. Namun juga merangkul kerjasama dengan Astra Zeneca, dan kerjasama multilateral, Gavi, Covad facillity, dan juga CEPI. Di mana semua itu bertujuan untuk mengamankan kebutuhan jangka pendek vaksin untuk masyarakat Indonesia dan dunia.

"Sejak awal masuk pandemi, Indonesia adalah termasuk negara yang menjadi atau memberikan dukungan penuh terhadap akses vaksin yang setara dengan harga terjangkau," tandas dia

Saksikan video pilihan berikut ini: