Sri Mulyani Ramal Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 2021 Cuma 4 Persen

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memaparkan perkiraan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II dan kuartal III 2021. Menurut dia, ekonomi pada kuartal II 2021 bisa tumbuh di kisaran 7 persen.

"Untuk semester I perekonomian sudah menunjukan perbaikan cukup baik, namun kuartal I yang masih pertumbuhan -0,7 persen akan terakselerasi di kuartal II. Di kuartal II kita masih perkirakan pertumbuhan ekonomi sekitar 7 persen," ungkapnya, Senin (5/7/2021).

Pertumbuhan ekonomi pada semester II 2021 akan sangat bergantung pada kondisi Covid-19 yang terjadi saat ini. Utamanya selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat pada 3-20 Juli 2021.

Terutama seberapa lama kenaikan Covid-19 dan pengetatan yang harus dilakukan. Kalau skenarionya akan cukup moderat, Sri Mulyani memprediksi, maka Juli sudah bisa dikendalikan dan pada Agustus sudah ada aktivitas yang normal.

"Kemudian restriksi dikurangi, maka ekonomi akan bisa tumbuh pada kondisi pertumbuhan di atas 4 persen, mendekati 5 persen," ujar dia.

Namun apabila restriksinya cukup panjang karena penyebaran Covid-19 masih sangat tinggi, Sri Mulyani memperkirakan, pertumbuhan ekonomi di kuartal III bisa turun di sekitar 4 persen.

"Ini yang harus kita waspadai. Untuk itu ketetatan imunitas yang bisa diluncurkan di masyarakat melalui vaksinasi menjadi syarat yang penting, dan juga pelaksanaan protokol kesehatan. Sehingga kondisi dari covid tetap bisa dikendalikan, namun pemulihan ekonomi tetap bisa dipertahankan," imbuhnya.

Ada PPKM Darurat, Pemerintah Jangan Harap Ekonomi Tumbuh 7 Persen

Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski membaik, namun pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 masih tetap minus. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski membaik, namun pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 masih tetap minus. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sebelumnya, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, menilai pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III (Q3) 2021 akan menghadapi tantangan berat. Utamanya akibat adanya kebijakan PPKM darurat di Jawa dan Bali mulai 3 Juli 2021.

"Ini juga akan menurunkan lagi konsumsi rumah tangga, investasi juga akan berpengaruh, kinerja ekspor satu-satunya yang bisa diandalkan, yang bisa dimaksimalkan. Lainnya berarti menunggu efektivitas penurunan kasus positif Covid-19 dulu," kata Bhima kepada Liputan6.com, Kamis (1/7/2021).

Oleh karenanya, ia meminta pemerintah tidak terlena dengan sinyal pertumbuhan ekonomi positif pada kuartal II 2021, yang diprediksi akan bergerak naik hingga kisaran 7 persen.

"Jadi pemerintah jangan terlalu over pede dengan pertumbuhan 7 persen. Karena itu adalah pertumbuhan yang semu. Cuman satu kuartal positif, selanjutnya bisa negatif," tegas Bhima.

Menurut dia, pemerintah seharusnya mengambil opsi kebijakan lockdown ketimbang PPKM darurat yang terkesan setengah-setengah.

"Upayanya adalah selama satu tahun penuh bagaimana menciptakan pertumbuhan ekonomi yang positif. Makanya saya usulkan berani pak Jokowi untuk lakukan lockdown. Jangan PPKM darurat dia tutupnya jam 5 sore, pengaruhnya kecil," ujar dia.

Bhima menyebutkan, opsi lockdown memang akan menghambat pertumbuhan ekonomi kuartal III, namun akan kembali positif pada kuartal berikutnya.

"Di kuartal ke III pertumbuhan sama sama negatif, tapi bedanya ada di kuartal IV dengan lockdown ekonomi paska pelonggaran akan tumbuh positif bahkan bisa 4 persen. Tanpa lakukan lockdown ketidakpastian bagi pengusaha justru tinggi," tandasnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel