Sri Mulyani Ramal Pertumbuhan Ekonomi 2021 Maksimal Hanya 4,5 Persen

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Keuangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2021 hanya berada di kisaran 4 persen-5,4 persen. Hal ini melihat dari ekskalasi kasus Covid-19 yang meningkat tajam dan adanya Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Darurat.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, sisiko pandemi Covid-19 yang masih tinggi, khususnya varian baru (delta), membuat pemerintah harus melaksanakan PPKM Darurat. Kebijakan ini pun secara otomatis berimplikasi terhadap berkurangnya mobilitas masyarakat dan konsumsi masyarakat yang melambat.

"Pemulihan ekonomi akan tertahan, pertumbuhan ekonomi Triwulan III diprediksi melambat ke 4 persen hingga 5,4 persen (yoy/year on year)," tulis bahan paparan Kemenkeu yang diterima merdeka.com, Senin (12/7).

Dalam bahan paparan tersebut, pemerintah juga memperkirakan pada kuartal IV-2021 pertumbuhan ekonomi pada rentang 4,6 persen sampai 5,9 persen.

Pemerintah juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Semester I-2021 hanya tumbuh sekitar 3,1 persen sampai 3,3 persen dengan keseluruhan tahun 2021 diproyeksikan tumbuh 3,7 persen sampai 4,5 persen.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Terlalu Pede, Indef Sarankan Pemerintah Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2022

Suasana arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Suasana arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Institute of Development of Economics and Finance (Indef) menyarankan pemerintah untuk merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2022.

Direktur Program Indef Esther Sri Astuti mengatakan, penanganan Covid-19 di Indonesia masih belum maksimal sehingga kemungkinan besar target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan akan meleset.

"Jika menargetkan 5 persen, itu terlalu optimistis. Kalau saat pandemi ini ditargetkan 5 persen, mohon bisa dikoreksi," ujar Esther dalam webinar Kajian Tengah Tahun Indef 2021, Rabu (7/7/2021).

Lanjut Esther, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebelum pandemi melanda saja hanya berada di kisaran 5 persen. Oleh karenanya, mencapai angka yang sama saat pandemi belum selesai dan ekonomi masih mengalami pemulihan menjadi hal yang sulit dilakukan.

Selain itu, secara keseluruhan penyaluran kredit masih tertahan karena risikonya masih tinggi, beriringan dengan jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) yang meningkat.

Hal ini disebabkan karena tingkat konsumsi masyarakat yang berkurang untuk berjaga-jaga di masa ketidakpastian.

"Dan kita lihat juga risiko kredit ini ditunjukkan dengan NPL (non performing loan) yang secara agregat nilainya masih tinggi," ujar Esther.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel