Sri Mulyani Revisi Proyeksi Ekonomi RI 2020 Jadi Minus 2,2 Persen

Dusep Malik, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengumumkan bahwa perekonomian Indonesia diproyeksikan memburuk pada 2020. Dia melakukan revisi ke bawah terhadap proyeksi ekonomi sebelumnya.

Untuk proyeksi hingga Desember 2020, Sri mengatakan ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini akan terkontraksi di kisaran minus 2,2 persen hingga minus 1,7 persen secara tahunan.

"Kita melihat data hingga November 2020 dan kita revisi proyeksi di minus 2,2 persen sampai minus 1,7 persen," kata Sri secara virtual, Senin, 21 Desember 2020.

Proyeksi itu lebih rendah dari perkiraan kontraksi yang dilakukan Sri Mulyani pada kuartal III-2020. Pada saat itu, Sri memperkirakan kontraksinya di sekitar minus 1,7 persen sampai minus 0,6 persen.

"Menggambarkan tahun ini terjadi perubahan forecasting karena dinamika COVID hampir semua negara dan institusi tidak bisa memprediksi secara akurat," ucapnya.

Sri menjelaskan, salah satu faktor utama yang memengaruhi perubahan proyeksi tersebut karena adanya peningkatan penyebaran COVID-19 pada akhir tahun ini di sebagian besar negara-negara.

"Karena COVID meningkat secara pesat pada Desember ini dan langkah untuk pembatasan juga mulai diketatkan menyebabkan konsumsi tidak bisa normalisasi lebih cepat seperti yang kita prediksi semula," tutur mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Sri memperkirakan sepanjang tahun ini konsumsi rumah tangga akan berada di kisaran minus 2,7 persen hingga minus 2,4 persen. Konsumsi pemerintah minus 0,3 persen sampai dengan positif 0,3 persen.

Sementara itu, dari sisi investasi diperkirakan minus 4,5 persen hingga minus 4,4 persen. Ekspor minus 6,2 persen sampai dengan minus 5,7 persen dan impor minus 15 persen sampai dengan minus 14,3 persen.

Meski begitu, Sri meyakini, dengan adanya vaksin COVID-19 di berbagai negara, ekonomi Indonesia pada 2021 bisa tumbuh positif di level 5 persen, lebih baik dari perkiraan Maret-April 2020 yang di kisaran 4,5-5,5 persen.

"2021 Perekonomian Indonesia akan kembali positif, ditopang vaksinasi dan upaya-upaya pengendalian pandemi, kebijakan pemulihan serta agenda reformasi," tutur Sri Mulyani. (ren)