Sri Mulyani: RI harus kombinasikan "rebound" dan "recovery" ekonomi

·Bacaan 2 menit

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan tantangan Indonesia saat ini adalah mengkombinasikan rebound (kebangkitan) dan recovery (pemulihan) terhadap perekonomian yang tertekan akibat dampak COVID-19.

“Salah satu tantangan kita tahun ini adalah kita bisa mengkombinasikan antara rebound dan recovery,” kata Menkeu Sri Mulyani dalam Raker bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin.

Sri Mulyani menjelaskan rebound sendiri memiliki arti ekonomi tumbuh tinggi karena adanya dasar pencapaian yang rendah pada kuartal sebelumnya.

Sebagai contoh, ekonomi Indonesia kuartal II tahun ini berhasil melambung tinggi hingga 7,07 persen (yoy) karena salah satu faktornya adalah pada kuartal II-2020 lalu mengalami kontraksi minus 5,32 persen (yoy).

Sementara untuk menciptakan ekonomi berkualitas, ia menuturkan Indonesia harus mampu rebound sekaligus recovery yaitu motor penggerak perekonomian harus pulih dan lebih baik.

Rebound bisa saja hanya karena base-nya rendah tapi tidak menjadi translate recovery. Orang bisa rebound tanpa recovery hanya karena pick up base-nya rendah,” kata Sri Mulyani.

Baca juga: Di DPR, Sri Mulyani ungkap potensi pencapaian pertumbuhan ekonomi 2022

Oleh sebab itu, ia menegaskan kombinasi ini harus diwujudkan mengingat kebijakan PPKM juga telah menyebabkan hampir seluruh aspek pendukung perekonomian lumpuh kembali setelah sempat mengalami perbaikan.

“Kuartal III mengalami koreksi dari berbagai indikator. Kita berharap mungkin September masih bisa mengejar karena Juli kita mengalami PPKM seluruh bulan dan Agustus sampai dua minggu,” kata Sri Mulyani.

Ia pun berharap kebijakan PPKM yang mulai diturunkan levelnya terutama untuk Jawa dan Bali dari level 4 menjadi level 3 dapat secara perlahan menormalkan aktivitas perekonomian masyarakat.

Untuk keseluruhan tahun Sri Mulyani mengatakan outlook perekonomian nasional berada di kisaran 3,7 persen sampai 4,5 persen dengan catatan kuartal III terutama September mampu lebih recovery dan tumbuh normal.

Jika dilihat dari komponen agregat demand, konsumsi Indonesia diperkirakan hanya akan tumbuh 2,2 persen sampai 2,8 persen karena pada kuartal II-2021 melonjak namun kuartal IV tertekan akibat PPKM.

“Kuartal IV nanti kalau Natal dan Tahun Baru biasanya cukup meningkat lagi. Jika COVID-19 tidak mengancam kita bisa dapat full capitalizing atau memanfaatkan momentum kuartal IV,” kata Menkeu Sri Mulyani.

Baca juga: Sri Mulyani sebut 96,5 juta dosis vaksin COVID-19 telah disuntikkan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel