Sri Mulyani Sebut Harga Karbon Terlalu Murah Timbulkan Praktik Greenwashing, Apa Itu?

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan jika harga karbon di Indonesia terlalu murah maka akan menyebabkan greenwashing, yakni praktik membuat klaim yang tidak berdasar atau menyesatkan tentang manfaat lingkungan dari suatu produk perusahaan.

“Di negara maju polusi terus, dia beli karbonnya di Indonesia murah ini yang disebut nanti akan terjadi greenwashing, di sana tetap polusi dan belinya di tempat karbon yang murah maka Indonesia harus protecting our karbon on market,” kata Sri Mulyanidalam CEO Forum, Kamis (18/11/2021).

Memang dalam Undang-undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan Pemerintah menetapkan harga karbon di Indonesia sebesar Rp 30 ribu per kg karbon dioksida ekuivalen (CO2e), tentu harga ini jauh lebih rendah dibandingkan negara maju seperti Kanada yang dikisaran USD 40 dan sekarang naik menjadi USD 125.

“Di dalam undang-undang HPP, kita sudah meng introduce karbon dengan harga awal adalah 30 ribu per kg itu adalah ekuivalen USD 2. Harga karbonnya jauh banget dari harga di Kanada yang udah USD 40, namun kalau dilihat itu namun kalau terlalu murah nanti banyak yang beli karbon di Indonesia,” ujarnya.

Lebih lanjut, kata Menkeu, memang saat ini penentuan harga karbon masih menjadi pembahasan secara global. Karena menurut komitmen Change Conference of the Parties (COP26) beberapa waktu yang lalu di Glasgow, dinyatakan jika ingin tidak ingin suhu di dunia naik maka harga karbon harus semakin mahal.

“Nah ini yang menjadi soal juga sedang dibahas, di Kanada harga karbon itu sampai USD 40 akan naik menjadi USD 125 bahkan USD 140 dollar, karena menurut komitmen COP26 kalau kita ingin kenaikan suhu di dunia maka harga carbon harus makin mahal,” ujarnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Harga Karbon

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati  dalam konferensi pers, KSSK, Rabu (27/10/2021)
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers, KSSK, Rabu (27/10/2021)

Kendati begitu, untuk menaikkan harga karbon di pasar tidak mudah, melainkan dibutuhkan koordinasi dan regulasi yang jelas agar kedepannya tidak menimbulkan masalah baru.

“Sangat rumit namun harus dimulai. Karbon market ini nanti yang akan mulai di introduce nanti ada masalah siapa yang menjadi regulatornya, tempatnya di mana kredibilitas karbon marketnya Seperti apa terus harganya di mana awalnya,” pungkasnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel