Sri Mulyani Ungkap Ekonomi Indonesia Sudah Mulai Pulih, Ini Buktinya

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menjelaskan, ekonomi Indonesia sudah mulai pulih dari tekanan pandemi Covid-19. Hal ini seiring kasus positif Covid-19 yang menurun ke level 5.000 dibandingkan sebelumnya yang mencapai 12 ribu kasus. Selain itu, percepatan vaksinasi juga menjadi dasar pemulihan tersebut.

Sri Mulyani mencontohkan, beberapa aktivitas di lokasi perdagangan bahan pokok dan sektor farmasi sudah mengalami pemulihan pada Maret 2021. Bahkan aktivitas perbelanjaan ritel dan transportasi juga menunjukkan perbaikan sejak awal tahun.

"Aktivitas menunjukan perbaikan sejak awal tahun," katanya dalam konferensi pers APBN Kita, Edisi Maret, Selasa (23/3/2021).

Indeks penjualan ritel sempat turun pada Februari 2021, namun indeks keyakinan konsumen membaik dibandingkan bulan sebelumnya, sehingga diharapkan membaik pada Maret 2021.

Dari sisi investasi, Sri Mulyani melihat adanya perbaikan sektor konsumsi semen pada Februari 2021. Hal sama juga terjadi perbaikan komoditas besi dan baja mulai tumbuh positif.

“Tren ini tampak pada pertumbuhan impor dua komoditas tersebut sebesar 0,2 persen. Penetapan modal tetap bruto (PMTB) mesin juga tumbuh positif pada Februari, yang impornya tumbuh 17,7 persen. Dengan tanda-tanda ini pemulihan ekonomi diharapkan semakin kuat," ucapnya.

Dengan berbagai kondisi aktivitas tersebut, dirinya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih kisaran 4,5 persen sampai 5,3 persen pada tahun ini. Adapun lembaga-lembaga global seperti OECD, IMF dan Bank Dunia, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masing-masing kisaran 4,9 persen, 4,8 persen dan 4,4 persen.

“Proyeksi OECD meningkat dari sebelumnya sebesar empat persen. Fitch juga memperkirakan pertumbuhan Indonesia sebesar 5,3 persen tahun depan,” tukas Sri Mulyani.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Ekonomi Indonesia Baru Bisa Pulih 2 Tahun Lagi

Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski membaik, namun pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 masih tetap minus. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski membaik, namun pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 masih tetap minus. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sebelumnya, ekonom Senior Centre of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah Redjalam, menganggap penanggulangan pandemi Covid-19 saat ini berjalan lambat dan tidak maksimal. Imbasnya, Piter mengatakan, pemulihan ekonomi yang kini banyak digadang-gadang bakal ikut berjalan lambat dan baru terasa hasilnya dua tahun lagi.

"Kita bisa pulih kembali ke pertumbuhan ekonomi bisa dua tahun lagi," kata Piter kepada Liputan6.com, Jumat (5/2/2021).

Menurut dia, krisis pandemi Covid-19 secara natural nantinya pasti akan berakhir. Tapi proses tersebut diperkirakan akan berlangsung lama.

"Demikian juga dengan ekonomi, pasti akan pulih mengikuti berakhirnya pandemi," sambung dia.

Oleh karenanya, ia berpendapat strategi terbaik saat ini adalah mempercepat penanggulangan pandemi virus corona, yang secara angka kasus positif masih terus meningkat.

"Sesederhana itu. Selama pandemi masih berlangsung ekonomi tidak akan bisa pulih. Fokus dulu ke penanggulangan pandemi. Saat ini Kita belum fokus, belum habis-habisan menanggulangi pandemi," cetusnya.

Dia lantas mencontohkan, pemerintah kerap abai melakukan penelusuran (tracing) di setiap kasus positif Covid-19 yang terjadi.

"Kita tidak melakukan tracing setiap kasus terjadi agar kita bisa mengisolasi mereka yang memang positif. Isolasi itu harusnya untuk yang positif, jadi menentukan orang yang positif itu harus diutamakan," pungkasnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: