Sri Mulyani Yakin Pemerintah Tidak Akan Gagal Kelola Utang

Fikri Halim, Arrijal Rachman
·Bacaan 1 menit

VIVA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan bahwa pemerintah akan terus menjaga kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap sehat di tengah terjadinya lonjakan utang di banyak negara.

Apalagi, di masa pandemi COVID-19, menurutnya APBN juga terus tertekan sehingga defisit bisa membengkak sampai Rp1.039,2 triliun atau 6,34 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Jadi masalah utang merupakan satu persoalan yang harus tetap dijaga, no matter what," tegas dia secara virtual, Rabu, 4 November 2020.

Baca juga: Bahlil Terima Tantangan Mahasiswa Cipayung Plus Debat UU Ciptaker

Sebab, menurutnya, banyak negara yang gagal dalam mengelola APBN-nya, terutama dalam mengelola utang, berujung pada bermasalahnya perekonomian mereka. Sehingga masyarakatnya tidak sejahtera.

"Mereka tidak menggunakan instrumen APBN secara berkelanjutan, berkesinambungan, sehingga dia bukan menjadi sumber solusi," ujar Sri.

Oleh karena itu, dia memastikan pemerintah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti negara yang gagal dalam mengelola APBN-nya, khususnya dalam mengelola utang.

"Maka APBN sebagai instrumen, juga harus tetap dijaga untuk mencapai masyarakat yang adil, sejahtera, dan berkesinambungan," tegasnya.

Diketahui, hingga akhir September 2020, Kementerian Keuangan mencatat utang pemerintah sebesar Rp5.756,87 triliun dengan rasio utang pemerintah terhadap PDB sebesar 36,41 persen.

Utang itu terdiri dari pinjaman sebesar Rp864,29 triliun dan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp4.892,57 triliun. Sebagian besar SBN dipegang oleh domestik sebesar Rp3.629,04 triliun.

Diberitakan sebelumnya, Sri Mulyani Indrawati sempat menanggapi masih banyaknya sindiran yang dilayangkan orang kepada dirinya terkait lonjakan utang pemerintah di tengah masa pandemi COVID-19.

Dia mengaku tak mempersoalkan sindiran itu karena utang yang dibuat di tengah masa krisis ini ditujukan demi menyelamatkan masyarakat Indonesia secara keseluruhan dari dampak virus tersebut.

"Makanya ada aja orang yang nyinyir ke saya itu utang-utang. Ya, enggak apa-apa, wong itu utang untuk selamatkan jiwa seluruh Republik Indonesia," tuturnya, Senin, 2 November 2020. (ase)