Sri Sultan HB X Sebut Warga Lereng Merapi Lebih Tahu soal Erupsi

Raden Jihad Akbar, Cahyo Edi (Yogyakarta)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan temuan penggembungan Gunung Merapi pada Kamis, 9 Juli 2020.

Dari laporan diketahui penggembungan terjadi usai Gunung Merapi mengalami erupsi pada 21 Juni 2020 yang lalu. Dalam sehari dilaporkan terjadi penggembungan sebesar 0,5 centimeter.

Menyikapi laporan adanya penggembungan Gunung Merapi, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan HB X pun berkomentar. Sultan meminta masyarakat terutama yang ada di lereng Gunung Merapi agar tidak perlu panik.

Dia menilai, meskipun ada penggembungan, tak ada perubahan status Gunung Merapi. Terhitung sejak Mei 2018, Gunung Merapi masih berstatus waspada atau level II.

Sultan memaparkan dari pengalamannya, kondisi Gunung Merapi saat ini masih dalam tahap sewajarnya. Terlebih Gunung Merapi masuk menjadi salah satu gunung api teraktif di dunia.

Raja Keraton Yogyakarta ini memaparkan memang terjadi perubahan siklus erupsi Gunung Merapi. Gunung Merapi biasanya memiliki siklus aktif empat tahunan namun saat ini berganti menjadi siklus delapan tahunan.

"Jadi kalau saya ya, Merapi itu dulu aktivitasnya kan 4 tahun sekali dan sekarang lebih dari 4 tahun, 8 tahun baru ada aktivitas, kan wis bedo, satu. Kedua, biar pun dia (Merapi) punya aktivitas mengeluarkan magma, tapi kan jaraknya terbatas dan tetap di atas," ujar Sultan HB X di Kantor Gubernur DIY, Kamis 9 Juli 2020.

Sultan HB X meminta, masyarakat yang tak paham kondisi ini untuk tak menggurui warga yang tinggal di lereng Gunung Merapi. Sebab, masyarakat yang selama ini tinggal di lereng Gunung Merapi lebih paham kondisi di lapangan dibandingkan orang lain.

Baca juga: Gunung Merapi Menggelembung, Waspada Tapi Jangan Panik

"Selama ini warga masyarakat lereng Merapi tahu persis. Jadi biar kita mengatakan bahaya, masyarakat tahu persis. Selama tidak ada hewan yang akan mengungsi, tak akan ada lava turun, mereka juga tahu itu," ucap Sultan.

"Jadi tidak usah ada campaign masalah bencana di Merapi karena mereka sudah tahu dan tidak usah diajari (Soal erupsi). Apalagi yang ngajari orang kota yang tidak mengerti. Dia (masyarakat lereng Merapi) yang lebih mengerti. Jadi tidak usah khawatir," tegas Sultan HB X.

Sultan HB X mengapresiasi langkah tanggap BPPTKG yang memasang peralatan pendeteksi Gunung Merapi. Terlebih alat deteksi ini dinilai memiliki teknologi yang lebih bagus.

"BPPTKG juga akan memasang peralatan-peralatan untuk melakukan identifikasi. Yang kemarin ada yang rusak, itu lebih baik karena sekarang teknologi lebih maju," ungkapnya.

Sultan HB X mewanti-wanti agar alat pendeteksi Gunung Merapi yang dipasang BPPTKG ini bisa dijaga bersama oleh masyarakat. Sebelumnya, pernah ada laporan hilangnya alat deteksi milik BPPTKG yang dipasang di Gunung Merapi.

"Harapan saya teknologi canggih penting untuk memperingatkan publik. Tapi harapan saya jangan dicuri dan dirusak lagi, itu aja. Karena itu barang penting," ungkap Sultan HB X.