Sriwijaya Air Gelar 1 Tahun Peringatan Jatuhnya SJ182 di Perairan Kepulauan Seribu

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sriwijaya Air menggelar acara peringatan satu tahun insiden jatuhnya pesawat bernomor SJ182. Prosesi tabur bunga itu dilakukan di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang di Kepulauan Seribu, Minggu, 9 Januari 2022.

Kegiatan diawali dengan doa bersama oleh manajemen Sriwijaya Air bersama KNKT dan Basarnas. Prosesi tabur bunga dihadiri secara terbatas untuk menghormati kru dan penumpang SJ182 yang menjadi korban dalam kecelakaan pesawat Sriwijaya Air tersebut.

"Bagi Sriwijaya Air, penting untuk memperingati satu tahun musibah kecelakaan jatuhnya SJ-182 ini, karena hal ini sebagai bentuk hormat kami kepada seluruh korban," kata CEO Sriwijaya Air Capt. Ardhana Sitompul, dalam rilis yang diterima Liputan6.com, Minggu 9 Januari 2022.

Menurut Ardhana, peristiwa kecelakaan itu memacu maskapai untuk meningkatkan tingkat keamanan dan kualitas pelayanan di setiap penerbangan.

Sebelumnya diketahui, pesawat Sriwijaya Air SJ182 jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada 9 Januari 2021 pukul 14.44 WIB. Pesawat itu dinyatakan hilang kontak sesaat setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta pada pukul 14.36 WIB.

Pesawat dengan rute penerbangan Jakarta-Pontianak itu mengangkut 62 orang yang terdiri dari 12 kru pesawat, 40 penumpang dewasa, tujuh anak, dan tiga bayi. Tak ada penumpang yang selamat dalam kecelakaan nahas tersebut.

Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson Jauwena mengakui pesawat sempat mengalami keterlambatan selama 30 menit karena faktor cuaca, yakni hujan deras. Namun, ia memastikan kondisi pesawat dengan kode registrasi PK-CLC itu dalam keadaan laik terbang sebelum lepas landas.

"Kondisi pesawat dalam keadaan sehat, karena ini adalah rute kedua pesawat ini, sebelumnya Pontianak-Jakarta, informasi maintenance semua lancar," ungkapnya.

Berbagai Kesaksian Warga dan Pesawat Dipastikan Kecelakaan

Posko Crisis Center Sriwijaya Air SJ-182 di Terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (9/1/2021). Hingga kini, beberapa keluarga dari 62 penumpang dan kru pesawat Sriwijaya Air SJ-182 masih menunggu informasi di tempat tersebut. (merdeka.com/Imam Buhori)
Posko Crisis Center Sriwijaya Air SJ-182 di Terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (9/1/2021). Hingga kini, beberapa keluarga dari 62 penumpang dan kru pesawat Sriwijaya Air SJ-182 masih menunggu informasi di tempat tersebut. (merdeka.com/Imam Buhori)

Tak lama setelah hilang kontak, berbagai kesaksian bermunculan terkait hilangnya pesawat Sriwijaya Air tersebut. Warga dan nelayan di Kepulauan Seribu mengaku sempat mendengar bunyi dentuman yang sangat kencang. Namun, warga mengira itu suara petir, bukan bunyi dari pesawat yang hilang kontak.

Setelah dipastikan terjadinya kecelakaan, proses pencarian korban dan puing-puing pesawat berjalan intensif. Selama 13 hari, pencariannya mengerahkan 4.300 personel gabungan dengan total 324 kantong jenazah, 64 kantong serpihan kecil pesawat, dan 54 bagian besar pesawat berhasil ditemukan.

"43 jenazah yang sudah berhasil teridentifikasi dari total 62 penumpang pesawat, sebanyak 32 di antaranya sudah teridentifikasi dan dikembalikan kepada keluarga," kata Menteri Perhbungan (Menhub) Budi Karya saat menutup masa pencarian, Kamis 21 Januari 2021.

Sementara, black box pesawat Sriwijaya Air SJ 182 berhasil ditemukan pada Selasa, 12 Januari 2021, sekitar pukul 16.00 WIB. Bagian yang ditemukan lebih dulu adalah Flight Data Recorder (FDR), sedangkan Cockpit Voice Recorder (CVR) belum terdeteksi. Kotak hitam itu merupakan salah satu komponen penting yang harus ditemukan untuk mengungkap penyebab kecelakaan.

Hasil Investigasi Sementara Dugaan Penyebab Kecelakaan

Kondisi Black box atau kotak hitam pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di Kepulauan Seribu diperlihatkan di Dermaga JICT, Jakarta, Selasa (12/1/2021). Meski FDR sudah ditemukan, namun Cockpit Voice Recorder (CVR) masih dalam proses pencarian.  (Liputan6.com/Johan Tallo)
Kondisi Black box atau kotak hitam pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di Kepulauan Seribu diperlihatkan di Dermaga JICT, Jakarta, Selasa (12/1/2021). Meski FDR sudah ditemukan, namun Cockpit Voice Recorder (CVR) masih dalam proses pencarian. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Meski operasi pencariannya ditutup pada 21 Januari 2021, proses pencarian CVR black box pesawat SJ-182 masih berlanjut.

Setelah mengubah metode pencarian, CVR akhirnya berhasil ditemukan pada 30 Maret 2021.

Hasil investigasi sementara menunjukkan, ditemukan beberapa fakta seperti mesin pesawat yang masih hidup sebelum pesawat membentur air. Hal itu juga diketahui dari temuan turbin pesawat yang rontok.

Hingga saat ini, KNKT belum menyampaikan hasil laporan investigasi kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 secara menyeluruh. KNKT menargetkan, investigasi kecelakaan pesawat ini baru akan rampung pada pertengahan 2022.

Pesawat Sriwijaya Air Jatuh

Infografis Pesawat Sriwijaya Air Jatuh. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Pesawat Sriwijaya Air Jatuh. (Liputan6.com/Abdillah)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel