Stafsus Edhy Prabowo Akui Terima Titipan Uang dari Suharjito

Hardani Triyoga, Edwin Firdaus
·Bacaan 2 menit

VIVAStaf khusus Edhy Prabowo, Safri Muis, mengakui pernah menerima titipan uang dari pemilik PT Dua Putera Perkasa Pratama (DPP), Suharjito.

Hal itu disampaikan Safri saat bersaksi dalam sidang perkara dugaan suap izin ekspor benur dengan terdakwa Suharjito.

Safri awalnya memberikan kesaksian mengenai pertemuan antara dirinya dengan Suharjito serta Manager Operasional Kapal PT DPP, Agus Kurniyawanto. Pertemuan itu membahas soal perizinan ekspor benur yang belum didapat.

"Saya bilang dilengkapi berkas-berkas yang disampaikan di tim due deligence," kata Safri di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu, 24 Februari 2021.

Jaksa lantas mengkonfirmasi kembali ihwal penerimaan tersebut. Safri menjawab saat itu tidak ada permintaan ataupun pemberian uang. Bahkan, ia menegaskan tidak pernah meminta uang kepada siapapun.

"Nggak ada pak. Seingat saya nggak pernah meminta uang, seingat saya. Saya nggak pernah minta uang," ujar Safri.

Tapi, Safri mengaku Suharjito sempat memberikan 'titipan' berupa uang. Pemberian uang itu terjadi pada pertemuan selanjutnya.

"Suharjito waktu itu menitipkan uang, titipan kepada saya. Titipan aja tapi jumlahnya nggak tahu, titip uang untuk pokoknya titip saja. Saya nggak tahu jumlahnya berapa," jelas Safri.

Jaksa kemudian mengkonfirmasi perihal titipan uang tersebut diperuntukan kepada siapa. Dia mengaku tak mengetahui titipan itu diperuntukan kepada siapa.

Ia kemudian menyerahkan titipan yang berisi uang tersebut kepada sekretaris pribadi (Sespri) Edhy Prabowo bernama Amiril Mukminin.

"Saya pikir karena beliau (Suharjito) temannya Pak menteri, ya saya ambil pak. Saya sampaikan ke Pak Amiril. Karena waktu itu Amiril ada tanya ke saya bilang 'ada titipan nggak?' Saya bilang ada, dan saya serahkan," kata Safri.

Menurut Safri, pemberian titipan uang itu dilakukan di ruang kerjanya. Sebab, pertanyaan dari Amril soal titipan dari Suharjito dilontarkan ketika keduanya bertemu di dekat ruang kerjanya.

"Ya saya pikir Amiril sudah tahu, soalnya dia nanya 'ada titipan nggak', saya bilang ada, saya kasih. Jadi (posisinya) saya keluar dari toilet, ketemu Amiril, terus Amiril tanya, lalu dia ke ruangan saya, saya serahkan uangnya," kata Safri.

Baca Juga: KPK Duga Edhy Prabowo Bagi-bagi Mobil Pakai Uang Suap Benih Lobster

Dalam perkara ini, Suharjito didakwa menyuap Menteri Keluatan dan Perikanan Edhy Prabowo.

Jaksa KPK mengatakan Suharjito menyuap Edhy sebesar USD 103 ribu dan Rp706 juta.

Suharjito menyuap Edhy Prabowo melalui Safri dan Andreau Misanta Pribadi selaku staf khusus Menteri Kelautan dan Perikanan (KP), Amiril Mukminin selaku sekretaris pribadi Edhy Prabowo, Ainul Faqih selaku staf pribadi Iis Rosita Dewi sebagai anggota DPR sekaligus istri Edhy Prabowo, dan Siswandi Pranoto Loe selaku Komisaris PT. Perishable Logistics Indonesia (PT. PLI) sekaligus Pendiri PT. Aero Citra Kargo (PT. ACK).

Jaksa mengatakan, pemberian suap yang diberikan Suharjito kepada Edhy melalui lima orang itu dengan tujuan agar Edhy Prabowo mempercepat persetujuan perizinan ekspor benih lobster di KKP tahun anggaran 2020.

Menurut Jaksa, uang tersebut diperuntukkan untuk kepentingan Edhy Prabowo dan istrinya, Iis Rosita Dewi.