Standar BBM di Indonesia Lebih Rendah Dibanding Malaysia Hingga Thailand

Merdeka.com - Merdeka.com - Pemerintah diusulkan agar sudah memulai meninggalkan penjualan bahan bakar minyak (BBM) dengan tingkat RON di bawah 90. Usulan itu disampaikan Ketua Komisi VII DPR, Sugeng Suparwoto.

Sugeng berpendapat, dengan meninggalkan konsumsi BBM dengan RON rendah, maka selaras dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 tahun 2017, tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O.

"Menurut saya pertengahan tahun depan lah paling lambat (Pertalite dan Pertamax dihapus), dikonsolidasikan bertahap," tegas Sugeng.

Sebagaimana diketahui, Pertamina sebagai perusahaan pelat merah pernah menjual premium dengan RON 89. Jenis BBM ini secara perlahan ditiadakan. Masyarakat kemudian beralih ke pertalite dengan RON 90. Jenis BBM ini, dan solar, yang kemudian diberikan subsidi oleh pemerintah.

Lantas, bagaimana penjualan BBM di negara tetangga Indonesia?

Di Malaysia, tingkat oktan yang dijual kepada masyarakat yaitu RON 95, dan RON 97, dan Diesel Euro 5. Di Singapura, masyarakat membeli BBM dengan tingkat RON 98, dan RON 95 dan Diesel. Terakhir, BBM di Thailand yang dijual yaitu RON 91, RON 92 dan RON 95.

Usulan agar penghapusan penjualan pertalite ditanggapi positif oleh Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan. Hanya saja, untuk merealisasi usulan tersebut pemerintah dan DPR dituntut mempertimbangkan berbagai aspek.

"Saya kira usulan ini bagus, memang kita harus meningkatkan kadar RON BBM kita," kata Mamit kepada merdeka.com, Kamis (15/9).

Bahkan menurut Mamit, BBM jenis pertalite yang saat ini disubsidi pemerintah tidak memenuhi ketentuan Pasal 3 Ayat 2 pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 Tahun 2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang.

Dalam aturan tersebut diatur bahwa cetus api (bensin) dengan parameter RON minimal 91, kandungan timbal minimum tidak terdeteksi, dan kandungan sulfur maksimal 50 ppm. Sementara tingkat RON pada pertalite yaitu 90.

Kendati pertalite masih berada di bawah ketentuan standat peraturan Menteri LHK, hal tersebut tidak menjadi dalih pemerintah menghilangkan BBM jenis pertalite. Sebab, harga BBM dengan RON di atas 90 masih cukup tinggi, sehingga hal tersebut akan sangat berdampak terhadap masyarakat.

"Apalagi jika sampai pertamax dihapuskan. Jadi saya kira kita bertahap dulu, RON 90 dihapuskan jika masyarakat sudah siap dan pastinya pemerintah juga siap dengan dana subsidi atau kompensasi," ujarnya. [azz]