Starting XI Terbaik Juventus pada Era Andrea Agnelli

Turin - Sudah 10 tahun Andrea Agnelli jadi Presiden Juventus. Di bawah kepemimpinan pengusaha berusia 44 tahun tersebut, I Bianconeri berhasil mendatangkan sejumlah pemain bintang.

Perjalanan Andrea Agnelli sebagai presiden Juve tidak mudah. Tahun pertamanya bahkan sangat buruk, Juventus hanya bisa finis di peringkat ke-7 klasemen Serie A dan gagal bermain di Eropa untuk musim berikutnya.

Kendati demikian, sembilan tahun berikutnya berjalan I Bianconeri begitu sukses. Juve sangat dominan di Serie A, beberapa kali mencapai final Liga Champions, bahkan sekarang punya stadion sendiri.

Pada periode itu Juventus berhasil meraih 16 trofi mayor, termasuk delapan gelar Serie A secara beruntun, empat titel juara Coppa Italia, dan empat trofi Supercoppa Italiana. Satu-satunya gelar yang masih menjadi impian Juve adalah Liga Champions.

Ambisi untuk meraih gelar juara paling bergengsi itu terbukti pada kerja keras Agnelli mendatangkan pemain-pemain terbaik. Pada eranya, selalu ada pemain-pemain top di tiap-tiap posisi untuk membentuk skuat terbaik Eropa.

Kini, merangkum skuat Juventus dalam 10 tahun terakhir, setidaknya ada 11 pemain spesial yang layak masuk starting XI terbaik era Andrea Agnellli. Siapa saja mereka? Berikut ini adalah perinciannya.

 

Kiper: Gianluigi Buffon

Kiper Juventus, Gianluigi Buffon, mengangkat trofi usai melawan Verona pada laga Serie A Italia di Stadion Allianz, Turin, Sabtu (19/5/2018). Laga ini menjadi yang terakhir bagi Buffon setelah 17 tahun membela Juventus. (AFP/Andreas Solaro)

Mantan kiper Timnas Italia itu adalah satu di antara penjaga gawang terbaik dalam sejarah sepak bola. Tidak hanya untuk penampilannya di lapangan, Buffon juga penting dalam banyak hal.

Dia adalah pemain senior yang dikagumi dalam skuat Juventus. Dia pemimpin dengan aura positif yang bisa membimbing rekan-rekannya.

Tercatat, Buffon menorehkan 323 penampilan di era Agnelli, meski sempat menghabiskan satu musim bersama Paris Saint-Germain.

Bek kiri: Giorgio Chiellini

Bek Juventus, Giorgio Chiellini (Twitter/Giorgio Chiellini).

Chiellini adalah satu di antara pemain paling konsisten dan setia bersama Juventus. Chiellini dianggap sebagai salah satu bek terbaik produksi Italia. Dia selalu menyuguhkan permainan presisi dengan tekel-tekel bersih.

Giorgio Chiellini sudah melewati 342 penampilan untuk Juve sejak awal musim 2010-2011. Penyesalan terbesar bek asal Italia itu mungkin ada ketika tidak bisa membela Juve pada duel kontra Barcelona pada final Liga Champions 2014-2015.

Bek tengah: Andrea Barzagli

Striker Real Madrid, Karim Benzema, berebut bola dengan bek Juventus, Andrea Barzagli, pada laga Liga Champions di Stadion Allianz, Selasa (3/4/2018). Juventus takluk 0-3 dari Real Madrid. (AP/Luca Bruno)

Transfer Barzagli dari VfL Wolfsburg merupakan satu di antara kebijakan transfer terbaik Juventus di era Agnelli. Kariernya terus melonjak sejak transfer tersebut.

Andrea Barzagli jadi figur penting dalam pertahanan I Bianconeri, dengan 281 penampilan di semua kompetisi.

Barzagli memutuskan pensiun pada 2019 lalu. Dia sempat dipercaya jadi staf pelatih defensif Juve di bawah Maurizio Sarri, tetapi baru-baru ini memilih mundur.

Bek tengah: Leonardo Bonucci

8. Leonardo Bonucci: 6,5 juta euro per tahun. (AP/Alessandro Di Marco)

Bonucci sempat dikritik keras saat memutuskan hengkang ke AC Milan pada 2017 lalu. Kabarnya Leonardo Bonucci pergi dari Juventus karena berselisih dengan Massimiliano Allegri, setelah kegagalan di final Liga Champions 2017.

Sayangnya, karier Bonucci di Milan singkat dan buruk. Dia hanya bertahan satu musim di AC Milan. Meski transfer ini masih menyebalkan bagi sebagian besar fans Juve, kontribusi Bonucci dalam 10 tahun terakhir tidak bisa diabaikan.

Bek kanan: Stephan Lichsteiner

Stephan Lichsteiner (ALBERTO LINGRIA / AFP)

Lichsteiner mungkin merupakan satu di antara pemain yang paling diremehkan selama mengenakan kostum Juventus. Padahal peran dan kontribusinya sangat besar.

Dia pindah dari Lazio pada awal musim 2011 dan selalu tampil konsisten sejak saat itu. Mungkin Lichsteiner adalah satu di antara bek sayap paling energik yang pernah dimiliki Juventus.

Dia bisa menyesuaikan diri pada perubahan formasi. Entah 3-5-2 atau 4-3-1-2, dia selalu bisa diandalkan bermain apik.

Gelandang tengah kiri: Arturo Vidal

Pahlawan kemenangan Juventus, Arturo Vidal merayakan gelar Scudetto. (AFP PHOTO / MARCO BERTORELLO)

Banteng di lapangan, Vidal tampil dominan untuk Juventus pada rentang 2011-2015. Mungkin perannya dipandang sebelah mata karena hanya soal merusak permainan lawan. Tetapi sebenarnya, Vidal memikul beban penting.

Pasalnya, dia adalah pemain-pemain kreatif seperti Andrea Pirlo dan Paul Pogba bisa bebas berkreasi. Terlebih, Vidal juga terbukti bisa mencetak gol-gol penting, tidak hanya menjegal lawan.

Gelandang tengah: Andrea Pirlo

Pemain berjuluk Il Metronome itu sempat memperkuat tiga kesebelasan besar Italia, Inter Milan, AC Milan dan Juventus.(AFP/ Guiseppe Cacace)

Mungkin merupakan maestro lini tengah terbaik dalam sejarah sepak bola Italia, Andrea Pirlo tiba di Juventus pada musim panas 2011.

Pirlo adalah otak permainan Juventus. Dia melakukan segala hal penting dari lini tengah, memberikan umpan-umpan kunci yang mengejutkan bek-bek lawan.

Pirlo meraih empat gelar Serie A, satu Coppa Italia, dan dua Supercoppa Italiana bersama Juventus. Entah apa alasan AC Milan membiarkan Andrea Pirlo pergi secara cuma-cuma.

Gelandang sentral kanan: Claudio Marchisio

Pemain Juventus, Claudio Marchisio (tengah) berebut bola dengan pemain Bologna, Adam Nagy pada lanjutan Serie A di Allianz Stadium, Turin, (5/5/2018). Juventus menang 3-1. (Alessandro Di Marco/ANSA via AP)

Claudio Marchisio merupakan satu di antara produk terbaik akademi Juventus. Dia benar-benar menjunjung tinggi nama klub. Mungkin tidak ada pemain yang berjuang demi Juve sebesar Marchisio.

Gelandang asal Italia itu selalu menjadi andalan Antonio Conte pada musim pertamanya. Marchisio punya energi luar biasa, konstan, tangguh, dan bisa memimpin tim.

Gelandang serang: Paulo Dybala

Pemain Juventus Paulo Dybala melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Brescia pada pertandingan Serie A di Turin, Italia, 16 Februari 2020. Meski terjangkit virus corona COVID-19, Dybala dilaporkan baik-baik saja dan tidak menunjukkan gejala. (Isabella BONOTTO/AFP)

Karier Dybala tidak selalu mulus. Tetapi, peran Paulo Dybala jelas sangat penting. Dia bahkan merupakan satu di antara pemain terbaik dalam skuat Juventus saat ini.

Kedatangan Cristiano Ronaldo sempat menyulitkan Dybala, khususnya di era Massimiliano Allegri. Untungnya sekarang Maurizio Sarri cenderung memainkan dua pemain top ini bersamaan.

Dybala jelas masih punya waktu untuk terus berjuang membuktikan kualitasnya bersama Juve.

Striker: Cristiano Ronaldo

2. Cristiano Ronaldo (Juventus) - 21 Gol (7 Penalti). (AP/Alessandro della Valle)

Meski belum genap dua musim, rasanya sulit mencoret Cristiano Ronaldo dari daftar ini. Kedatangannya adalah bukti ketegasan Juventus dalam usaha menjuarai Liga Champions, trofi impian mereka.

Kehadiran Ronaldo langsung membawa dampak instan. Tidak hanya soal perkembangan permainan tim di lapangan, dia juga mendatangkan sponsor dan berbagai sumber finansial lainnya.

Sekarang Ronaldo sudah berusia 35 tahun. Namun, kemampuan dan ancamannya masih menakutkan untuk bek-bek lawan.

Striker: Carlos Tevez

5. Carlos Tevez, bomber Argentina ini mengalami kejenuhan di Manchester City, yang membuatnya dibuang manajemen The Citizens ke Juventus. Bersama Si Nyonya Tua, dirinya seperti terlahir kembali dengan mencetak 50 gol dari 95 laga. (AFP/Olivier Morin)

Carlos Tevez jadi pemain penting Juventus setelah didatangkan dari Manchester City pada 2013 lalu. Dia pencetak gol luar biasa, dengan keterampilan dan keberanian yang dibutuhkan Juventus pada saat itu.

Tevez mencetak 50 gol dalam 95 pertandingan untuk Juve. Dia berperan penting dalam membantu I Bianconeri mencapai final Liga Champions 2015, sayangnya kalah di hadapan Barcelona.

Sumber: Sportskeeda

Disadur dari: Bola.com (penulis/editor, Rizki Hidayat, published 28/5/2020)