Startup 3D Tunisia cetak lengan bionik bertenaga surya

·Bacaan 3 menit

Sousse (AFP) - Sebuah startup Tunisia tengah mengembangkan lengan bionik cetak 3D dengan harapan protetik berharga terjangkau dan bertenaga surya ini bakal membantu orang-orang teramputasi dan penyandang disabilitas lainnya di seluruh Afrika.

Tidak seperti perangkat tradisional, tangan buatan dapat disesuaikan untuk anak-anak dan remaja yang sebaliknya memerlukan serangkaian model yang diubah ukurannya saat mereka tumbuh dewasa.

Perusahaan Cure Bionics ini juga berencana mengembangkan sistem realitas virtual mirip video game yang membantu anak-anak belajar cara menggunakan tangan buatan melalui terapi fisik.

Mohamed Dhaouafi, pendiri dan CEO Cure Bionics berusia 28 tahun, merancang prototipe pertamanya saat masih menjadi mahasiswa teknik di kota asalnya Sousse.

"Salah satu anggota tim memiliki sepupu yang lahir tanpa tangan dan orang tuanya tidak mampu membeli prostesis, terutama ketika dia masih tumbuh dewasa," kata dia.

"Jadi kami memutuskan untuk mendesain tangan."

Dhaouafi meluncurkan start-upnya pada 2017 dari rumah orang tuanya ketika banyak teman sekelasnya memilih pindah ke luar negeri untuk mencari gaji lebih tinggi dan pengalaman internasional.

"Ini seperti balas dendam yang positif," kata dia kepada AFP. "Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa melakukannya. Saya juga ingin meninggalkan warisan untuk mengubah hidup masyarakat."

Dhaouafi menunjuk rintangan di Tunisia di mana bisa jadi sulit atau mustahil memesan suku cadang melalui situs-situs penjualan online besar. Ada kekurangan dana, dan kata dia, "kami kekurangan visi di dalam negara ini."

Tetapi dengan mengumpulkan uang yang dikumpulkan melalui kompetisi yang disponsori dan investasi awal dari sebuah perusahaan AS, dia bisa merekrut empat insinyur muda.

Mereka sekarang menyempurnakan desain, menulis kode, dan menguji tangan buatan.

Perangkat ini bekerja dengan sensor yang dipasang di lengan yang mendeteksi gerakan otot dan software berbantukan kecerdasan buatan (AI) yang menerjemahkannya untuk mengirimkan perintah ke angka-angka itu.

Tangan itu sendiri memiliki pergelangan tangan yang bisa memutar ke samping, ibu jari dan jari mekanis yang menekuk di persendian sebagai respons terhadap impuls elektronik.

Untuk mengajari anak-anak cara menggunakannya, Cure telah mengerjakan headset realitas virtual yang "mengatur" proses terapi fisik.

"Saat ini untuk rehabilitasi, anak-anak diminta seolah-olah membuka guci, misalnya dengan tangan yang sudah tidak mereka miliki lagi," kata Dhaouafi.

"Perlu waktu agar berhasil mengaktifkan otot dengan cara ini. Ini tidak intuitif, dan sangat membosankan."

Dalam versi Cure, insinyur itu berkata: "Kami meminta mereka memanjat gedung seperti Spiderman, dengan skor game guna memotivasi mereka, dan dokter bisa menindaklanjuti secara online dari kejauhan."

Pencetakan 3D sendiri memungkinkan personalisasi prostesis seperti aksesori fesyen atau "pakaian pahlawan super", kata Dhaouafi.

Cure berharap bisa memasarkan lengan bionik pertamanya dalam beberapa bulan, pertama di Tunisia dan kemudian di tempat lain di Afrika di mana lebih dari tiga perempat masyarakat yang membutuhkannya tidak memiliki akses ke lengan bionik itu, kata Organisasi Kesehatan Dunia.

"Tujuannya agar bisa diakses secara finansial tetapi juga secara geografis," kata Dhaouafi.

Perkiraan harganya yang diperkirakan sekitar 2.000 dolar AS sampai 3.000 dolar AS adalah cukup mahal , tetapi sebagian kecil dari biaya membuat prostesis bionik itu saat ini diimpor dari Eropa.

Cure juga membidik produksi yang sedekat mungkin dengan pengguna akhir, dengan teknisi lokal mengukur pasien dan kemudian mencetak perangkat dipasang satu per satu.

"Sebuah prostesis impor hari ini perlu menunggu berpekan-pekan atau bahkan berbulan-bulan untuk Anda beli, dan terjadi lagi saat perbaikan," kata sang panemu.

Lengan bionik ini terbuat dari bagian seperti Lego yang dapat diganti jika rusak atau agar sesuai dengan pertumbuhan fisik anak.

Lengan bionik ini juga bisa bertenaga surya melalui pengisi daya fotovoltaik untuk digunakan di daerah-daerah yang pasokan listriknya tak bisa diandalkan.

Pencetakan 3D protesa yang belum sempurna ini sudah dimulai sekitar satu dekade lalu dan tengah menjadi standar.

Ini bukan solusi ajaib karena pengetahuan medis khusus masih penting, kata Jerry Evans, yang mengetuai Nia Technologies, sebuah organisasi non-komersial Kanada yang membantu rumah sakit-rumah sakit di Afrika dalam memproduksi tungkai bawah bercetakan 3D.

"Pencetakan 3D masih dalam tahap awal," kata dia, "tetapi ini adalah pengubah permainan utama dalam bidang prostetik dan ortotik."

"Negara-negara berkembang mungkin akan melompat ke teknologi ini karena biayanya jauh lebih rendah."


cnp/kl/fz/pjm/qan