Startup Indonesia Punya Kelemahan Meski Tumbuh Cepat

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Perkembangan ekonomi digital di Indonesia sangat potensial. Hal itu dilihat dari tingkat penetrasi internet yang tinggi dan populasi generasi anak atau milenial yang besar.

Menurut hasil studi Google, Temasek dan Bain & Company, nilai transaksi ekonomi digital Indonesia diprediksi bakal tumbuh pesat, atau mencapai US$124 miliar (Rp1.700 triliun) pada 2025.

Baca: Startup Lokal Sukses Ubah Serat Pisang Jadi Karpet, Siap Dikirim ke AS

Angka ini merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Adapun dengan proyeksi nilai transaksi sebesar itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika atau Kominfo memproyeksikan Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar ke-9 di dunia pada 2030.

Perkembangan ekonomi digital ini selaras dengan pertumbuhan perusahaan rintisan atau startup di Indonesia yang terbilang sangat cepat. Berdasarkan data yang dikutip dari laman Startupranking.com, Indonesia saat ini menduduki posisi kelima negara dengan jumlah startup terbanyak di dunia, yakni mencapai 2.229 startup pada April 2021.

Indonesia berada di bawah India atau menjadi yang kedua terbesar di Asia. Meskipun pertumbuhan startup Indonesia tergolong sangat cepat, hasil East Ventures Digital Competitiveness Index (EVDCI) menunjukkan bahwa Indonesia masih perlu bekerja ekstra keras.

Terutama dalam meningkatkan daya saing digitalnya terutama dalam hal membangun talenta digital yang terampil, cekatan, dan berwawasan dalam mengembangkan kewirausahaan.

Studi yang dilakukan oleh Tan and Tang dan disadur dalam Laporan Bank Dunia ini menyebutkan Indonesia membutuhkan rata-rata 600 ribu sumber daya manusia (SDM) digital setiap tahunnya. Hal inilah yang melatarbelakangi Kominfo meluncurkan program Startup Studio Indonesia pada September tahun lalu.

Tujuannya, untuk memajukan ekosistem startup Indonesia melalui penyediaan fasilitas akses bagi early-stage startup untuk mengembangkan potensi bisnis. Adapun program ini akan menitikberatkan pada penguatan produk (product-market fit) dan akses jejaring bisnis.

"Keberhasilan akselerasi ekonomi digital suatu negara bergantung pada tingkat keberhasilan ekosistem startup. Terutama dalam menjaga keberlangsungan bisnis serta mengembangkan produknya secara konsisten," kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan, Selasa, 27 April 2021.

Ia melanjutkan, tahap early-stage startup merupakan tahapan yang krusial dan menjadi pondasi dalam membangun startup berdaya saing tinggi. Program inkubasi dan akselerasi menjadi kendaraan bagi early-stage startup untuk dapat mencapai tahapan tersebut.

Startup Studio Indonesia merupakan program inkubasi intensif yang difokuskan pada iterasi penyempurnaan produk dan model bisnis, serta program retensi pelanggan awal sebelum masuk dalam tahap perluasan pasar.

Program batch 1 sudah dilaksanakan pada September hingga November 2020 dan mendapat tanggapan positif dari para pelaku startup. Tercatat sekitar 668 early-stage startup mendaftarkan diri mengikuti program inkubasi ini, yang disaring menjadi 20 startup terpilih untuk mengikuti kegiatan coaching dan mentoring selama 3 bulan.

Selain mengikuti program inkubasi, para pendiri startup juga mendapatkan coaching berkelanjutan dalam program Startup Studio Indonesia Alumni Brainstorming selama 12 bulan.

Kominfo kembali menggelar program batch 2 pada Mei hingga Juli 2021, yang akan diikuti 15 early-stage startup terpilih, serta menampilkan berbagai pendiri startup aktif dan terkemuka sebagai mentor antara lain Grady Laksmono (Co-Founder Moka Pos), Melisa Irene (Partner East Ventures), dan Amanda Cole (Co-Founder & CEO Sayurbox).

"Harapannya program ini dapat menjadi wadah pengembangan kewirausahaan dan talenta digital di industri startup, serta menjadi wadah kolaborasi membangun industri startup nasional yang tangguh," ungkap Semuel.