Startup Studio Indonesia masuki sesi "1-on-1 coahing"

·Bacaan 4 menit

Program inkubasi Startup Studio Indonesia (SSI) Batch 3 yang diadakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika telah memasuki sesi Founder’s Camp dan 1-on-1 Coaching.

Dalam sesi yang berlangsung selama empat bulan ini, 15 startup early-stage yang terpilih menjadi partisipan berkesempatan dibina dan dilatih langsung oleh para coach yang terdiri dari pendiri dan praktisi startup aktif dan terkemuka, seperti Aviandri Hidayat (Vice President of Product Mekari), Dimas Harry Priawan (Co-Founder Dekoruma), Maria Sahara (Group Product Manager Xendit), serta Italo Gani (Managing Partner Impactto, sekaligus Advisor program SSI).

Dalam fase ini, pelatihan difokuskan pada upaya penyempurnaan produk dan model bisnis, serta peningkatan loyalitas/retensi pengguna, sebelum startup masuk tahap ekspansi pasar. Fase ini biasa disebut juga dengan product-market fit, yakni upaya mempersolid tawaran produk digital agar dapat memenuhi kebutuhan atau permintaan pengguna.

"Untuk memilih tim coach terbaik se-Indonesia, kami melihat rekam jejak para pendiri dan praktisi startup yang perusahaannya sudah berhasil mencapai tahap product market fit. Kami juga mempertimbangkan keahlian, spesialisasi, dan peran mereka dalam membawa startup tersebut hingga ada di titik sekarang," jelas Italo dalam siaran pers, Senin.

Baca juga: Kominfo buka Startup Studio Indonesia gelombang tiga

Baca juga: Kominfo buka program inkubasi Startup Studio gelombang dua

Dengan menjunjung konsep ‘more brainstorming, less classes’, Startup Studio Indonesia menitikberatkan pada pembekalan ilmu dan wawasan praktis melalui sesi coaching, alih-alih hanya secara teoretikal. Tim SSI juga secara berkala melakukan penilaian terhadap jajaran coach, untuk memastikan bahwa ilmu-ilmu yang dibagikan dapat berdampak langsung dan menyelesaikan tantangan yang dihadapi masing-masing startup peserta Batch 3.

Proses 1-on-1 Coaching dimulai dengan Sesi Diagnosa, dimana peserta SSI Batch 3 akan mendiskusikan pain point atau tantangan-tantangan yang selama ini dihadapi. Setelah itu, tim SSI akan memasangkan peserta tersebut dengan coach yang paling cocok.

Kurikulum yang didapat pun akan bersifat personalized. Dengan begitu, SSI bisa menjadi program inkubasi intensif yang benar-benar efektif, karena menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan para peserta, dan bukan sebaliknya.

Setiap dua minggu sekali, para peserta SSI akan menjalani sesi dengan Italo Gani, Co-Founder dan Managing Partner dari early-stage startup builder Impactto, untuk mengkalibrasi ulang, saling memberikan input atau umpan balik, dan berdiskusi dengan para peserta SSI tentang ilmu yang didapat dari coach.

“Di awal mengembangkan Dekoruma, kami mendapatkan banyak sekali nasihat dan masukan bermanfaat dari teman-teman. Karena itu, sekarang adalah saat bagi kami untuk berkontribusi dan membantu generasi startup berikutnya agar bisa menjadi lebih baik lagi," kata Dimas Harry Priawan, Co-Founder Dekoruma yang menjadi salah satu coach.

Sementara itu, Maria Sahara selaku Group Product Manager Xendit mengaku senang bisa berbagi pengetahuan dan pengalamannya selama bekerja di perusahaan multi-teknologi dalam tujuh tahun terakhir. "Terkadang, dalam perjalanan mengembangkan startup, kita membutuhkan pihak eksternal untuk memberikan perspektif baru. Semoga dengan sesi coaching ini, saya juga bisa sharing pengalaman untuk membantu para founders menyelesaikan tantangan yang sedang mereka hadapi.”

Aviandri Hidayat, Vice President of Product Mekari dan salah satu coach SSI, selalu berpesan kepada para peserta untuk terus belajar dan berinovasi, serta membuka pikiran untuk berbagai kemungkinan.

"Dari pengalaman selama membesarkan startup, prinsip yang ingin saya tekankan adalah: jangan terlampau ‘jatuh cinta’ dengan produk startup kita sendiri. Artinya, kita harus ingat bahwa kehadiran bisnis kita adalah untuk menyelesaikan sebuah problem bagi pengguna. Kita harus terbuka akan semua feedback, baik dari pengguna, mentor, dan teman-teman. Memang tidak mengenakkan menerima kritikan, tapi itulah yang akan membuat kita bisa selalu berkembang," ujarnya.

Program SSI hadir untuk memperkuat dan melengkapi program Gerakan Nasional 1000 Startup Digital dan Nexticorn yang telah lebih dulu diluncurkan oleh Kominfo RI. Melalui program ini, Kominfo menargetkan untuk mencetak 150 startup digital yang mampu mengembangkan skala bisnisnya, dari segi jumlah pengguna, jumlah pendapatan, penyerapan tenaga kerja, dan pendanaan dari Venture Capital pada tahun 2024 mendatang.

Tahun ini, melalui tahap seleksi yang ketat, terdapat 15 startup early-stage dari total 5.723 pendaftar yang akhirnya terpilih sebagai partisipan. Daftar startup tersebut di antaranya adalah: AturKuliner, AyoBlajar, Bicarakan, Bolu, Eateroo, Finku, FishLog, Gajiku, Imajin, Keyta, KreatifHub, Powerbrain, Sgara, Soul Parking, dan Zi.Care.

Sejak diluncurkan pertama kali pada bulan September 2020, program inkubasi SSI telah diikuti oleh total 50 startup early-stage di Indonesia. Setelah menyelesaikan program, mayoritas dari peserta mampu melakukan scale-up dan inovasi dengan lebih efektif dan efisien, sehingga menarik lebih banyak pengguna dan bahkan berhasil meraih pendanaan tahap awal dari investor.

Beberapa startup yang merupakan alumni program SSI diantaranya adalah Justika, Schoters, Verihubs, Woobiz, Feedloop, Rekosistem (Batch 1), dan Appskep, Legalku, Dibimbing, Sribuu, LingoTalk, dan Wehelpyou (Batch 2).

Baca juga: Kemenko Marves harap startup SSI Batch 3 bantu pulihkan pariwisata

Baca juga: Startup Studio Indonesia "batch" 2 masuki tahap akhir

Baca juga: Tips menggaet investor untuk pendiri startup pemula

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel