Status Kepemilikan Apartemen yang Wajib Anda Tahu Bila Ingin Membeli Apartemen

Status Kepemilikan Apartemen yang Wajib Anda Tahu Bila Ingin Membeli Apartemen
Status Kepemilikan Apartemen yang Wajib Anda Tahu Bila Ingin Membeli Apartemen

RumahCom – Tinggal di apartemen bagi para pekerja yang tinggal di ibu kota menjadi daya tarik tersendiri. Terutama bagi pekerja dengan mobilitas tinggi. Anda juga harus menyadari kalau apartemen dan rumah memiliki perbedaan. Tidak hanya dari sisi bentuk bangunan dan fasilitas, tetapi juga status kepemilikan apartemen. Jadi, saat berencana membeli apartemen, Anda perlu mempertimbangkan kepemilikannya.

Jika rumah dilengkapi dengan SHM (sertifikat hak milik), maka pemilik apartemen akan mendapatkan Sertifikat Hak Milik atas Satuan Rumah Susun (SHMSRS). Ketika memutuskan untuk tinggal di apartemen, Anda pun harus mendapat sertifikat ini untuk mengukuhkan kepemilikan Anda. Sertifikat apartemen merupakan dokumen legal yang berlaku sebagai hak kepemilikan seseorang atas apartemen.

Selain itu, sertifikat apartemen merupakan dokumen yang sah secara hukum sebagai tanda bukti kepemilikan unit apartemen. Sehingga, pada dasarnya pemilik unit apartemen diharuskan memiliki dokumen sertifikat apartemen secara penuh dan asli. Kepemilikan sertifikat apartemen juga dapat membantu dan memperkuat posisi seseorang dalam persoalan hukum terkait kepemilikan unit apartemen dan proses-proses lain terkait jual-beli unit apartemen tersebut.

  • Status Kepemilikan Apartemen
    1. Sertifikat Hak Kepemilikan Rumah Susun (SHKRS) / HGB Milik
    2. Sertifikat Kepemilikan Bangunan Gedung (SKGB)
    3. Hak Pengelolaan Lahan (HPL)

  • Keunggulan Masing-Masing Status Kepemilikan Apartemen
    1. Keunggulan Sertifikat Hak Kepemilikan Rumah Susun (SHKRS)/HGB Milik
    2. Keunggulan Sertifikat Kepemilikan Bangunan Gedung (SKGB)
    3. Keunggulan Hak Pengelolaan Lahan (HPL)

  • Kekurangan Masing-Masing Status Kepemilikan Apartemen
    1. Kekurangan Sertifikat Hak Kepemilikan Rumah Susun (SHKRS)/HGB Milik
    2. Kekurangan Sertifikat Kepemilikan Bangunan Gedung (SKGB)
    3. Kekurangan Hak Pengelolaan Lahan (HPL)

  • Satuan Hak Milik Satuan Rumah Susun (SHMSRS)

[ArticleCallout]{ “title”: “Apartemen SOHO (Small Office Home Office) Menggabungkan Konsep Hunian dan Kantor”, “excerpt”: “Simak penjelasan Apartemen SOHO (Small Office Home Office) di sini!”, “link”: “https://www.rumah.com/panduan-properti/apartemen-soho-69506”, “image”: “https://img.iproperty.com.my/angel/520×300-crop/wp-content/uploads/sites/5/2022/08/Alt-text-Apartemen-SOHO-Small-Office-Home-Office-Menggabungkan-Konsep-Hunian-dan-Kantor.png” } [/ArticleCallout]

Status Kepemilikan Apartemen

<em>Sertifikat apartemen menjadi dokumen legal yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum</em>.<em> Sumber: Istimewa</em>
Sertifikat apartemen menjadi dokumen legal yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Sumber: Istimewa

Status kepemilikan apartemen yang dibuktikan lewat kepemilikan sertifikat apartemen. Sertifikat ini pun  menjadi bukti kepemilikan sah bagi pemilik apartemen. Kemudian juga menjadi dokumen legal yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Dengan memiliki sertifikat apartemen, merupakan dokumen utama untuk kegiatan jual-beli unit apartemen. Karena begitu pentingnya, sertifikat apartemen juga menjadi dokumen yang wajib ditunjukkan ketika akan menyewakan apartemen kepada orang lain, dengan alasan keamanan dan kesepakatan.

Secara legal, urusan kepemilikan apartemen ini diatur dalam UU No. 20 tahun 2011 tentang Rumah Susun. Di mana di dalam Pasal 46 ayat (1) UU Rumah Susun tersebut diatur bahwa hak kepemilikan satuan rumah susun (Sarusun) merupakan hak milik atas sarusun yang bersifat perseorangan dan terpisah dengan hak bersama atas bagian bersama sarusun, benda bersama, dan tanah bersama. Hukum status kepemilikan apartemen ini harus benar-benar Anda pahami. Yang menjadi hak milik perorangan tentulah unit yang Anda beli. Misalnya, Anda membeli unit seluas 33m2 yang terdiri atas dua kamar tidur. Maka unit tersebut adalah mutlak milik Anda alias tidak dibagi dengan orang lain. Berikut ini penjelasan soal jenis  status kepemilikan apartemen

1. Sertifikat Hak Kepemilikan Rumah Susun (SHKRS)/HGB Milik

Jenis sertifikat apartemen ini merupakan pecahan dari Hak Guna Bangunan (HGB). HGB  statusnya terbagi menjadi beberapa jenis. Sebut saja seperti  HGB Milik yakni apartemen yang dibangun di atas lahan milik perorangan atau milik developer. Sertifikat ini  biasanya dibuat sama seperti Sertifikat Hak Milik, hanya yang membedakanya adalah warnanya

Jika SHM dibuat warna sampulnya hijau, maka SHMRS dibuat warna merah muda. Jenis sertifikat apartemen ini memiliki kedudukan yang kuat, sehingga bisa digadaikan di bank. Namun untuk SHKRS/HGB Milik, memiliki masa berlaku yakni 30 tahun dan dapat diperpanjang kembali selama 20 tahun.

2. Sertifikat Kepemilikan Bangunan Gedung (SKGB)

Jika apartemen tersebut dibangun di atas lahan milik pemerintah atau tanah wakaf, maka sertifikat apartemen yang akan diterima adalah Sertifikat (SKGB). Jenis sertifikat ini lebih lemah karena status pemilikan tanah dimiliki oleh orang ketiga.

3. Hak Pengelolaan Lahan (HPL)

Hak Pengelolaan (HPL) memang bukan merupakan hak atas tanah sebagaimana Hak Milik (HM), Hak Guna Usaha (HGU), Hak Guna Bangunan (HGB), dan Hak Pakai (HP) yang diatur dalam Undang-Undang Pokok Agraria (UU PA). HPL adalah sebagian dari tanah negara yang kewenangan pelaksanaan Hak Menguasai Negara (HMN) yang dilimpahkan kepada pemegang HPL.

HPL tidak dapat dialihkan dan tidak dapat dijadikan jaminan utang dengan dibebani Hak Tanggungan (HT). Namun, di  atas HPL ini dapat diberikan hak atas tanah HGB/HP dengan SPPT (Surat Perjanjian Penggunaan Tanah) ujar Ana. HGB/HP di atas HPL ini, baru dapat dialihkan kepemilikannya dan dibebani dengan HT atas persetujuan pemegang HPL.

[PropertyTip]Status kepemilikan apartemen dibuktikan lewat kepemilikan sertifikat apartemen. Sertifikat ini pun menjadi bukti kepemilikan sah bagi pemilik apartemen.[/PropertyTip]

Keunggulan Masing-Masing Status Kepemilikan Apartemen

<em>Hak milik apartemen berlaku hingga beberapa puluh tahun saja. Sumber: Istimewa</em>
Hak milik apartemen berlaku hingga beberapa puluh tahun saja. Sumber: Istimewa

Secara umum, apartemen memiliki status kepemilikan hak guna bangunan dan hak milik. Hak milik apartemen berlaku hingga beberapa puluh tahun saja, anggap saja selama 20 tahun apartemen tersebut menjadi milik Anda. Sedangkan hak guna bangunan merupakan status kepemilikan bagi penghuni yang ingin investasi properti namun tidak ingin menempati dalam kurun waktu yang lama.

Maka dari itu, status kepemilikan bangunan yang umum dimiliki di Indonesia adalah hak guna bangunan dan hak milik. Adanya perbedaan hak kepemilikan inilah yang menjelaskan status kepemilikan apartemen yaitu hak milik unit apartemen. Sedangkan untuk kepemilikan tanah, fasilitas dan yang lainnya dimiliki bersama dengan penghuni lainnya.

Anda harus mencari tahu keunggulan dan kelebihan status kepemilikan apartemen kepada pihak pengembang sebagai tanda bukti yang sah di mata hukum. Berikut ini adalah kelebihan sejumlah status kepemilikan apartemen yang bisa Anda pertimbangkan.

1. Keunggulan Sertifikat Hak Kepemilikan Rumah Susun (SHKRS) / HGB Milik

Banyak yang mengatakan kalau properti bersertifikat HGB lebih menguntungkan dibandingkan dengan properti bersertifikat SHM. Berikut ini keunggulan sertifikat HGB (Hak Guna Bangunan). Sejumlah keunggulan memiliki apartemen dengan status kepemilikan ini adalah tidak butuh dana besar. Biayanya jauh lebih murah ketimbang membeli properti dengan Sertifikat Hak Milik (SHM).

Properti berstatus HGB biasanya dijadikan pilihan bagi mereka yang menetap dalam jangka waktu sementara. Selain perorangan berstatus WNI, badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia dapat menjadi subjek atau pemegang sertifikat HGB yang sah. Bagi Anda memang tertarik membeli bangunan berstatus HGB, sebaiknya Anda mencermati status tanah tempat dibangunnya itu dengan jeli. Pastikan statusnya itu jelas pemiliknya; apakah tanah negara, tanah HPL, atau tanah hak milik (HM).

2. Keunggulan Sertifikat Kepemilikan Bangunan Gedung (SKGB)

Sertifikat Kepemilikan Bangunan Gedung Satuan Rumah Susun adalah tanda bukti kepemilikan atas Sarusun di atas barang milik negara/daerah berupa tanah atau tanah wakaf dengan cara sewa. SKBG Sarusun hanya diberikan kepada pemilik rumah susun khusus atau rumah susun umum yang berdiri diatas tanah sewa atau diatas tanah Milik Negara atau tanah wakaf.

SKBG Sarusun tidak diberikan kepada pemilik bangunan rumah susun yang telah memiliki SHM Sarusun. SKBG Sarusun tidak diberikan kepada pemilik rumah susun yang berdiri diatas tanah dengan status HM, HGB, HP, karena dengan status hak atas tanah tersebut, maka yang diterbitkan adalah bukti pemilikan satuan Rumah Susun berikut tanah bersamanya yang terkandung dalam Nilai Pokok (NPPll) yaitu SHM Sarusun.

SKBG Sarusun merupakan sebuah instrumen hukum baru tentang bukti kepemilikan unit hunian berupa rusun yang diperuntukkan khusus bagi MBR. Fasilitasi kepemilikan unit rumah lewat KPR tidak lagi dengan jaminan tanah sebagai hak tanggungan tetapi lebih kepada SKBG itu sendiri yang dijadikan jaminan utang secara fidusia. Sebaliknya, SKBG Sarusun lebih diperuntukkan mewadahi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

3. Keunggulan Hak Pengelolaan Lahan (HPL)

HPL, menurut sifatnya merupakan pelimpahan sebagian dari hak menguasai negara atas tanah yang  diberikan kepada badan-badan pemerintah/pemerintah daerah dengan suatu Hak Pengelolaan. Selain untuk mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi,  dapat juga diberikan sebagian penggunaan dan pemanfaatan oleh pemegang haknya kepada pihak lain ataupun dikerjasamakan penggunaan dan pemanfaatannya dengan pihak lain dengan suatu hak atas tanah tertentu (misalnya HGB atau Hak Pakai).

Merujuk Pasal 2 Peraturan Menteri Agraria No. 9 Tahun 1965, HPL dimungkinkan tidak hanya digunakan oleh pemegang hak untuk kepentingan instansi sendiri, namun juga dapat diberikan kepada pihak ketiga.

Kekurangan Masing-Masing Status Kepemilikan Apartemen

<em>Urusan mengenai legalitas adalah urusan vital dalam dunia properti.Sumber: Istimewa</em>
Urusan mengenai legalitas adalah urusan vital dalam dunia properti.Sumber: Istimewa

Jika hendak membeli apartemen, kelengkapan dokumen merupakan syarat paling mutlak. Terlebih terkait dengan sertifikat dan status kepemilikan apartemen. Urusan mengenai legalitas adalah urusan vital dalam dunia properti. Jika sertifikat dan status kepemilikan tidak jelas, maka akan bermasalah jugalah properti Anda.

Jadi, kalau Anda sudah mengetahui kelebihan masing-masing kepemilikan lahan. Sekarang Anda juga perlu memahami kelemahannya untuk menghindari hal yang tak diinginkan setelah Anda membelinya.

SHMSRS adalah salah satu status kepemilikan dalam apartemen yang tingkatannya sama dengan kepemilikan rumah tapak dengan SHM atau sertifikat hak milik. Nah, jika Anda lebih memilih hunian yang memiliki SHM, Anda bisa cek daftar hunian pilihan di kawasan Karawang. Berikut daftar rumah dibawah Rp500 juta di Karawang!

1. Kekurangan Sertifikat Hak Kepemilikan Rumah Susun (SHKRS)/HGB Milik

Kekurangan dari Sertifikat HGB adalah jangka waktu terbatas. Pemegang sertifikat HGB hanya memiliki masa pakai maksimal 30 tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu paling lama 20 tahun. Selain itu keleluasaan Anda sebagai pemegang HGB juga terbatas. Pemegang HGB tidak memiliki hak penuh untuk mengubah atau mengalih fungsikan bangunan tanpa izin dan persetujuan dari pemilik tanah selaku pemberi HGB terlebih dulu.

2. Kekurangan Sertifikat Kepemilikan Bangunan Gedung (SKGB)

Statusnya kurang kuat karena jangka waktu SKBG Sarusun di atas tanah milik pemerintah berupa BMN atau BMD yaitu selama 60 tahun. Apabila jangka waktu berakhir, perpanjangan SKBG Sarusun dapat dilakukan dengan didahului perpanjangan sewa tanah. Pembaruan perjanjian sewa atas tanah dilakukan antara Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun (PPPSRS/P3SRS) dengan pemilik tanah. Yakni dengan jangka waktu sewa bisa sampai 30 tahun sesuai rekomendasi teknis tentang kelayakan Bangunan Gedung berdasarkan Sertifikat Laik Fungsi (SLF).

3. Kekurangan Hak Pengelolaan Lahan (HPL)

Dalam implementasinya  menyangkut pemanfaatan tanah di atas HPL sering menimbulkan permasalahan- permasalahan hukum. Misalnya, pemegang HGB di atas HPL yang jangka waktu HGB nya sudah selesai, serta masih banyak kasus tanah HPL yang lainnya.

Satuan Hak Milik Satuan Rumah Susun (SHMSRS)

<em>Status kepemilikan apartemen juga diatur di dalam surat berkekuatan hukum yang bernama Surat Hak Milik atas Satuan Rumah Susun (SHMSRS). Sumber: Istimewa</em>
Status kepemilikan apartemen juga diatur di dalam surat berkekuatan hukum yang bernama Surat Hak Milik atas Satuan Rumah Susun (SHMSRS). Sumber: Istimewa

Status kepemilikan apartemen juga diatur di dalam surat berkekuatan hukum yang bernama Surat Hak Milik atas Satuan Rumah Susun (SHMSRS). Setelah melunasi pembelian unit apartemen bukan berarti Anda langsung mendapatkan sertifikat. Salah satu perbedaan SHMSRS dengan SHM bisa dilihat dari segi kepengurusannya.Ketika ingin mengurus SHM untuk rumah, Anda bisa mengurusnya langsung di kantor pertanahan setempat, atau melalui notaris. Namun untuk sertifikat apartemen, ini diurus melalui pengembang.

Durasi pembuatan sertifikat apartemen disesuaikan dengan luas tanah. Jika Anda mengurus SHMSRS atas nama perorangan di atas tanah yang luasnya kurang dari 2000m2, misalnya, maka prosesnya membutuhkan waktu 38 hari.

Sedangkan jika luas tanah antara 2000m2-15 hektare, proses pembuatan sertifikat mencapai 57 hari. Jika luas tanah lebih dari 15 hektare tentunya prosesnya lebih lama lagi, sekitar 97 hari.

Hanya saja pada praktiknya tidak demikian. Ada beberapa rumah susun di Jakarta misalnya, butuh waktu bertahun-tahun setelah dihuni untuk para pemiliknya mendapatkan SHMSRS. Pengembang beralasan butuh waktu lebih panjang untuk memecahkan sertifikat mengingat banyaknya unit di apartemen tersebut.

Tonton video berikut ini untuk mengetahui cara mengetahui KPR!

Temukan lebih banyak pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti dan Panduan Referensi seputar properti dari Rumah.com

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah