Status Militer Israel di Jalur Gaza Siaga Tinggi

Ezra Sihite
·Bacaan 2 menit

REPUBLIKA.CO.ID,RAMALLAH -- Pasukan militer Israel memberlakukan siaga tinggi sejak Rabu (11/11) guna mengantisipasi kemungkinan meningkatnya eskalasi di Jalur Gaza dengan peringatan satu tahun pembunuhan komandan jihad Islam Palestina, Abaha Abu Al Atta.

Seperti dilansir Asharq Al Awsat pada Jumat (13/11), antisipasi itu dilakukan Israel sehari sebelum peringatan wafatnya Abu Al Atta pada 12 November 2019 hingga memicu pertempuran sengit kala itu. Menurut pejabat keamanan Israel, Yedioth Ahronoth perisai pertahanan rudal Irone Dome lebih banyak diarahkan ke Selatan. Sedang penerbangan baik masuk dan keluar Israel nampaknya telah diarahkan menggunakan jalur Bandara Internasional Ben Gurion guna menjaga agar lebih jauh dari Jalur Gaza.

Perubahan dalam rute lalu lintas udara yang terlihat dengan perangkat lunak pelacakan jalur penerbangan sipil adalah umumnya terlihat ketika ada pertempuran aktif. Setelah perubahan ini, pesawat sipil akan lepas landas dan mendarat tanpa terbang di atas Tepi Barat, melainkan di atas wilayah utara Tel Aviv.

Selain itu tentara Israel terus mengawasi bagian utara, di mana ketegangan meningkat sejak seorang operasi Hizbullah tewas pada Juli dalam serangan di Damaskus yang dikaitkan dengan Israel. Israel juga telah menembak jatuh drone Hizbullah yang telah menyusup ke wilayah Israel.

Proyeksi Israel untuk eskalasi dengan Gaza bukanlah hal baru, karena badan keamanan telah memperingatkan bahwa pasukan jihad Islam telah mencari konfrontasi selama beberapa waktu. Bukan saja karena kelompok itu tidak puas dengan jalannya perjanjian gencatan senjata, mereka juga mendapat tekanan dari Iran untuk meningkatkannya.

Situs Israel Walla! News melaporkan bahwa beberapa anggota sayap militer kelompok itu percaya bahwa tanggapan terhadap pembunuhan al-Atta tidak cukup, dan karena itu akan mencari pembalasan yang tepat untuk menandai peringatan kematiannya.

Pemimpin Jihad Islam Ziyad al-Nakhalah dalam pidato publik pada Selasa menegaskan kembali komitmen kelompoknya terhadap perlawanan dan ideologi jihadis, ia menambahkan bahwa kelompok tersebut siap untuk berperang.Ketakutan Israel akan eskalasi datang meskipun ada gencatan senjata yang disponsori oleh Qatar di Gaza. Israel mengatakan perjanjian gencatan senjata telah rapuh.