Stigma masih Melekat pada Perempuan di Hari Kartini 2022: Tak Layak Sekolah Tinggi

·Bacaan 2 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Analisa Widyaningrum, psikolog dan juga pegiat sosial mengungkapkan masih terdapat stigma tentang perempuan di Hari Kartini tahun 2022 ini. Dia menyebutkan, perempuan masih dipandang tidak layak untuk berpendidikan tinggi, tidak layak memiliki peran penting dalam masyarakat, dibatasi kemampuan dan kebebasan berpikir serta terbatas hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

"Dengan stigma - stigma yang ada di masyarakat tentang perempuan, terutama perempuan bekerja, kita sebagai perempuan terkadang ditempatkan dalam dua pilihan antara bekerja dan keluarga padahal kita bisa menjalankan dua peran tersebut dengan cara tetap me-manage perasaan, emosi dan waktu kita," ujar Analisa, Kamis (21/4).

Wanita yang juga selaku director dan founder Analisa Personality Development Center (APDC) ini mengatakan terdapat beberapa hal yang menjadi penghalang bagi wanita untuk berkembang serta terlibat dalam berbagai sektor. Seperti ketakutan dalam menghadapi risiko, insecure/rendahnya kepercayaan diri, takut akan kegagalan, diskriminasi dan stigma masyarakat serta budaya high power distance atau perempuan dianggap tidak lebih mampu daripada laki-laki.

"Padahal berdasarkan riset yang ada, perempuan dalam dunia kerja terbukti dapat memberikan keputusan yang lebih cepat karena mereka mempunyai empati yang lebih tinggi sehingga perempuan dapat melengkapi para pria yang cenderung lebih menggunakan logika. Perempuan juga bisa lebih terbuka dan komunikatif sehingga hubungan dalam pekerjaan lebih positif," jelas dia.

"Perempuan dalam perusahaan, terutama sebagai pengambil keputusan juga dapat menambah profit perusahaan. Kemampuan multitasking yang dimiliki perempuan juga memungkinkan perempuan dapat tetap fokus dalam pekerjaannya dan juga mengurus rumah tangga sekaligus," tambah Analisa.

Sementara itu, Johanna Gani, CEO Grant Thornton Indonesia mengatakan emansipasi menjadi kata yang melekat di benak perempuan saat ini. Ibu Kartini, kata dia, benar-benar memikirkan nasib bangsa, nasib wanita Indonesia pada khususnya.

"Memiliki peran ganda sebagai seorang ibu dan perempuan bekerja merupakan tantangan tersendiri. Besarnya peran dan tanggung jawab yang diemban perempuan semakin terasa sejak masa pandemi Covid-19 dua tahun terakhir. Maka dari itu Grant Thornton Indonesia bersama dengan Mbak Analisa berbagi kiat-kiat memperkuat kesehatan mental bagi para perempuan Indonesia dalam menjalankan perannya sebagai ibu dan perempuan bekerja secara optimal," jelas dia. [ded]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel