Stok Aman, Mendag Pastikan Tak Impor Beras hingga 12 Bulan ke Depan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menegaskan dalam 12 bulan ke depan dipastikan Indonesia tidak akan impor beras. Sebab, diprediksi tahun ini hasil panen padi akan mencapai 33 juta.

“Kita bisa pastikan bahwa tidak ada impor beras dan kesediaan stok di Bulog itu juga cukup bisa menampung setidaknya untuk 12 bulan depan. Karena KPSH itu 8000 ton per bulan,” kata Mendag dalam Konferensi Pers Ketersediaan Bapok dan Stabilisasi Harga, Senin (5/7/2021).

Mendag menjelaskan, keyakinan itu berdasar pada angka prediksi dari Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa Tahun 2021 ini hasil panen gabah padi akan lebih baik dibanding tahun 2020.

“Saya ingin ke tekan kan di sini ya. Kita lihat angka prediksi dari BPS itu bahwa tahun ini kita akan sedikit lebih baik daripada tahun lalu hasil panen yaitu 33 juta dan stok bulog pada hari ini di gudang itu ada 1,39 juta,” ujarnya.

Dengan demikian, Mendag mengatakan jika mengikuti prediksi dari BPS maka stok beras di Bulog sebanyak 1,39 juta itu cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam 1 tahun ke depan.

“Saya merasa bahwa ini bagus stok nasional juga baik dan saya tidak ada ekspektasi sama sekali untuk mengimpor beras dalam waktu yang dekat ini,” ujarnya.

Sebelumnya, Rencana pemerintah mengimpor satu juta ton beras sempat ramai diperbincangkan dan tentunya mendapat penolakan dari berbagai pihak. Pengumuman rencana impor beras hanya membuat petani Indonesia kian terpuruk.

Buwas Usul ke Pemerintah Jual Cadangan Beras Bulog dengan Harga Murah

Seorang kuli angkut menurunkan beras dari atas truk di Pasar Induk Cipinang, Jakarta, Senin (25/9). Pedagang beras Cipinang sudah menerapkan dan menyediakan beras medium dan beras premium sesuai harga eceran tertinggi (HET). (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Seorang kuli angkut menurunkan beras dari atas truk di Pasar Induk Cipinang, Jakarta, Senin (25/9). Pedagang beras Cipinang sudah menerapkan dan menyediakan beras medium dan beras premium sesuai harga eceran tertinggi (HET). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso mengaku telah mengajukan usulan kepada pemerintah untuk menangani beras yang sudah menahun tersimpan di gudang Bulog. Pembahasan ini pun telah dilakukan dalam rapat koordinasi terbatas bersama Presiden Joko Widodo.

"Kami sudah mengajukan dan sudah dua kali rapat untuk menyelesaikan beras menahun ini agar bisa digunakan," kata Budi Waseso dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR RI dengan Perum Bulog, Jakarta, Selasa (18/5/2021).

Salah satu usulan yang diajukan Buwas (Budi Waseso) meminta izin kepada pemerintah agar cadangan beras pemerintah (CBP) yang sudah menahun dijual dengan harga murah. Semula beras dijual Rp 8.300 per kilogram diturunkan menjadi Rp 6.500 per kilogram.

"Jadi ada penurunan harga supaya bini bisa laku dan bisa ditangani," kata dia.

Lalu, lanjut Buwas selisih harga dari diturunkan ini nantinya akan ditagih kepada pemerintah. "Kita usulkan dijual dengan harga turun, ini beras CBP ini selisihnya ditagih ke negara," sambungnya.

Namu dua kali rapat tersebut masih belum menghasilkan keputusan. Buwas mengklaim dalam rapat tersebut Presiden Jokowi telah menyetujui usulannya.

"Secara lisan Presiden ini minta ditangani, dan setuju kalau ini dijual harga murah," kata dia.

Hanya saja masih belum ada keputusan resmi karena pemerintah harus membayarkan selisih bayar mencapai Rp 740 miliar. "Tapi persoalannya negara harus keluarkan uang untuk selisih Rp 740 miliar dan ini masih dicari solusinya," kata orang nomor satu di Perum Bulog itu.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel