Stok Cabai Melimpah di Sumut, Harga Turun Drastis ke Rp17 Ribu per Kg

Daurina Lestari, Putra Nasution (Medan)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pasokan cabai merah di tingkat petani terus melimpah di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Hal ini, akan memicu harga komoditas cabai merah di pedagang akan turun drastis.

Saat ini harga cabai merah di petani berkisar Rp17 ribuan per kilogram.

"Dari pantauan di sejumlah petani cabai di wilayah Kabupaten Karo, masih memberikan keuntungan bagi petani. Namun marginnya terus menipis," ungkap Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumut, Gunawan Benjamin kepada wartawan, Rabu 27 Januari 2021.

Sementara itu, untuk cabai hijau, Gunawan mengatakan, harganya berada di kisaran Rp9 ribuan per kilogram di tingkat petani. "Sangat murah, dan di tingkat konsumen harganya mungkin berkisar Rp17 ribuan per kg nantinya," katanya.

Gunawan memperkirakan harga cabai yang mulai turun ini akan berlangsung setidaknya hingga Maret 2021. Sejauh ini, ia menjelaskan ekspektasinya seperti itu.

Baca juga: Kapolri Listyo Puji Karakter Idham Azis seperti Elang Pemimpin

Namun, kondisi di lapangan nantinya bisa saja berubah. Tergantung kondisi cuaca, serta kemungkinan permintaan dari wilayah lain.

"Jadi cabai akan berkontribusi pada kemungkinan deflasi di bulan depan (Februari 2021)," ungkap Gunawan.

Sejauh ini, selain cabai merah, cabai rawit harganya masih mahal meskipun turun. Saat ini, Gunawan menjelaskan, cabai rawit di tingkat petani dijual Rp7.500 per kilogram. Kemudian, sampai di pasar induk Medan berada di kisaran angka Rp9 ribuan per kg.

"Namun untuk bawang merah karena konsumen lebih senang bawang Jawa, mungkin harganya sulit untuk digiring di bawah Rp15 ribu nantinya," tutur Gunawan.

Menurut Gunawan, bawang merah diperkirakan terjangkau setidaknya hingga menjelang bulan Ramadan mendatang. Hal ini dipicu oleh masih banyaknya stok bawang di tingkat petani.

"Dan di Kabupaten Karo saat ini tengah memasuki musim panen bawang merah," kata Gunawan.

Jadi di bulan Februari, Gunawan menambahkan, Sumut berpeluang besar mencetak deflasi. Sekalipun harganya bertahan seperti harga yang berlaku saat ini.

"Dan potensi deflasi kian besar seandainya justru limpahan produksi terus meningkat. Ditambah lagi jika cuaca bersahabat dan tidak ada permintaan tinggi dari luar wilayah Sumut," tuturnya.