Stok Daging Sapi Masih Defisit 9.424 Ton untuk Lebaran 2021

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat total kebutuhan daging sapi untuk wilayah Jabodetabek dan Bandung Raya mencapai sebanyak 53.707 ton. Jumlah tersebut dengan asumsi 50 persen stok daging beku disalurkan.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), Syailendra mengatakan untuk stok daging sapi di bulan Maret surplus sebanyak 7.427 ton, dan di bulan April surplus 1.104 ton. Namun, di bulan Mei pada Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, masih defisit 9.424 ton.

Dia menyebut untuk menutupi kekurangan stok daging sapi pada bulan Mei, para pemasok mengajukan impor daging sapi maupun daging kerbau.

Misalnya saja Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (Aspidi) akan melakukan impot sebanyak 2.000 ton, Asosiasi Pengusaha Protein Hewan Indonesia (APPHI) sebanyak 3.830 ton, PT Berdikari sebanyak 893 ton, dan Perum Bulog sekitar 20.000 ton daging kerbau dari India.

Kemendag pun berharap daging-daging tersebut bisa masuk pada bulan Mei, tepatnya sebelum Lebaran yang kemungkinan jatuh pada 12-13 Mei 2021.

"Kemudian Bulog, hasil koordinasi kami dari 80.000 ton penugasan, informasinya akan masuk 2.722 ton di Maret April 20.000 ton, dan Mei 14.000 ton. Tapi Mei ini kita berharap akan masuk sebelum hari raya, karena kalau lewat ya sudah lewat momennya," ujarnya dalam diskusi Mahalnya Harga Daging Sapi dan Kerbau, Apa Solusinya?, Senin (29/3).

Dia menambahkan, jika daging-daging impor tersebut masuk sebelum Lebaran, maka akan sangat membantu untuk menstabilisasi harga yang cenderung melambung menjelang Lebaran. Terlebih lagi, saat ini harga daging sapi masih terus bertahan di level tinggi, yakni sekitar Rp126.000 di wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat menurut Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional.

"Ini sangat-sangat membantu untuk menyeimbangkan harga pasar," imbuhnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Populasi Sapi di Indonesia Capai 18 Juta Ekor, Masih Perlu Impor?

Pedagang memotong daging sapi dan kerbau yang dijual di Pasar Ciledug, Tangerang, Rabu (13/6). Dua hari menjelang Lebaran, pedagang daging musiman menjamur dengan menggelar dagangan di pinggir-pingir jalan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pedagang memotong daging sapi dan kerbau yang dijual di Pasar Ciledug, Tangerang, Rabu (13/6). Dua hari menjelang Lebaran, pedagang daging musiman menjamur dengan menggelar dagangan di pinggir-pingir jalan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Populasi sapi di Tanah Air jumlahnya cukup besar. Bahkan berdasarkan catatan Kementerian pertanian ada sekitar 18 juta sapi tersebar di Indonsia. Namun ternyata sapi tersebut tidak bisa dijadikan sapi potong. Mengapa?

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Syailendra menjelaskan, Indonesia mempunyai kemampuan untuk mengembangkan komoditas sapi. Terbukti, sejauhini jumlah sapi yang ada di Indonesia mencapai angka belasan juta.

"Kalau lihat angkanya Pak Dirjen PKH (Kementan), 18 juta lebih populasi kita seluruh Indonesia," kata dia dalam diskusi Mahalnya Harga Daging Sapi dan Kerbau, Apa Solusinya?, Senin (29/3/2021).

Meski demikian, dari 18 juta populasi sapi tersebut tidak semuanya bisa dipotong. Karena sebagian ada yang merupakan sapi betina, sehingga tidak bisa dipotong.

"Kalau 18 juta mungkin 9 jutanya masih belum bisa, mungkin 9 juta. Kalau itu betina, mungkin separuhnya kita bisa potong, ya 4,5 juta ekor. Nah perhitungan saya, bahkan 4 juta saja, sapi yang saya lihat di Jawa Tengah dan Jawa Timur itu setara dengan 700.000 ton kalau bisa siap potong," terang dia.

Dia menambahkan, jika 700.000 ton daging sapi itu bisa diperoleh seluruhnya dari sapi lokal, maka Indonesia tak perlu lagi impor. Sebab, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kebutuhan daging nasional ialah sekitar 690.956 ton atau jika digenapkan sebanyak 700.000 ton.

"Kalau 700.000 ton, ya saya mohon nih ke Pak Joni, feedloter-nya diisi dengan sapi lokal sajalah, tidak usah sapi impor, ini bagus-bagus, sapi limosin, sapi brahman, itu bagus-bagus sapinya," tutur Syailendra.

Cara Tradisional

Aktivitas jual beli daging sapi di Pasar Senen, Jakarta, Jumat (5/8). Pemerintah mencabut ketentuan kewajiban importir daging untuk menyerap daging lokal sebanyak tiga persen dari total kuota impor yang diperoleh. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Aktivitas jual beli daging sapi di Pasar Senen, Jakarta, Jumat (5/8). Pemerintah mencabut ketentuan kewajiban importir daging untuk menyerap daging lokal sebanyak tiga persen dari total kuota impor yang diperoleh. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Peternakan dan Perikanan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Pujo Setio mengungkapkan, peternak Tanah Air sebagian besar beternak dengan cara tradisional/konvensional.

Sehingga, banyak sapi yang sudah siap potong namun tetap disimpan oleh peternak, dan baru akan dipotong ketika dibutuhkan. Misalnya untuk mendanai anak masuk sekolah, pada saat Idul Adha, dan sebagainya.

"Kita punya data di atas kertas, tapi kita tidak bisa mengatakan bahwa itu semua sapi siap potong. Karena kita tahu persis bahwa basis peternakan rakyat ini tradisional. Jadi dia lebih banyak menyimpan sapi-sapinya pada saatnya dia dijual untuk sesuai kebutuhan," jelas Pujo.

Untuk mengatasi masalah tersebut, menurut Pujo diperlukan solusi jangka panjang, yakni dengan mengajak para peternak rakyat bergabung dengan kemitraan. "Pertama memang harus menuju masyarakat ke arah komersialisasi. Jadi yang selama ini konvensional/tradisional, kita arahkan komersialisasi. Tapi tetap mempertahankan budayanya. Inilah yang kita sebut pola kemitraan atau korporasi di peternak," imbuh dia.

Dengan demikian, maka populasi ekor sapi yang siap potong bisa tercatat, dan bisa diperhitungkan ke dalam stok daging sapi nasional. "Sehingga ada stok siap potong yang kita ketahui setiap tahunnya dari data-data populasi ternak tersebut, sehingga kita bisa konversi ke pasokan daging untuk satu tahun. Ini solusi jangka panjang dengan adanya peralihan paradigma peliharaan ternak di masyarakat dari tradisional/konvensional ke komersial," tutup Pujo.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: