Strategi 5 Negara di ASEAN Tekan Inflasi, Termasuk Indonesia

Merdeka.com - Merdeka.com - Kekhawatiran akan resesi global meningkat, ketika Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) bersiap untuk menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin di bulan Juli dalam upaya untuk memperlambat permintaan domestik. Ini merespon kenaikan inflasi tahunan AS juga sudah mencapai 8,6 persen pada Mei 2022.

Ekonomi ASEAN atau negara-negara Asia Tenggara belum terhindar dari dampak melonjaknya harga makanan dan minyak mentah, dan tengah dibebankan dengan risiko resesi global saat masih dalam tahap pemulihan pasca pandemi. Bank Dunia memperkirakan harga pangan akan naik sekitar 20 persen tahun ini karena tekanan yang terus terjadi pada biaya energi dan pupuk sejak awal 2021.

Pada Mei 2022 saja, harga pangan dunia naik 22,8 persen, menurut Indeks Harga Pangan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya harga sereal dan daging. Namun bagaimana negara-negara ASEAN berusaha menekan inflasi, di tengah risiko resesi global

Berikut adalah langkah-langkah yang dilakukan 5 negara ekonomi terbesar ASEAN dalam menekan inflasi, dikutip dari South China Morning Post:

Indonesia

Pada Mei 2022, DPR menyetujui permintaan pemerintah untuk meningkatkan subsidi energi sekitar USD 23,8 miliar dalam upaya untuk menahan harga energi di tengah lonjakan inflasi.

Peningkatan subsidi terjadi di saat yang sama ketika pemerintah mencabut larangan ekspor minyak sawit selama tiga minggu, yang diberlakukan untuk meningkatkan pasokan minyak goreng domestik di Tanah Air, produsen minyak nabati terbesar di dunia.

Namun, inflasi Indonesia naik 4,35 persen year-on-year di bulan Juni, laju tercepatnya dalam lima tahun dan jauh melampaui kisaran target BI untuk 2022 sebesar 2-4 persen.

Menurut kepala pusat penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Zamroni Salim, langkah-langkah untuk menekan inflasi kemungkinan akan memerlukan peningkatan pengeluaran oleh pemerintah guna memastikan ada subsidi yang cukup untuk menghindari lonjakan harga BBM dan pangan.

"Jika inflasi relatif tinggi (sekitar 10 persen), masalah itu dapat mengurangi atau mengikis pertumbuhan ekonomi serta daya beli masyarakat. Dengan inflasi di bawah 10 persen, dampaknya masih terkendali," kata Zamroni.

Tetapi tagihan subsidi yang tinggi di Indonesia diperkirakan akan menyebabkan defisit anggaran yang lebih besar tahun ini meskipun pendapatan meningkat dari harga komoditas yang tinggi, kata Trinh Nguyen, ekonom senior Asia di bank investasi Prancis Natixis.

"Pendapatan yang lebih tinggi telah mendukung, tetapi tagihan subsidi besar berarti menyisakan lebih sedikit ruang untuk pengeluaran lain yang lebih produktif seperti investasi infrastruktur. Pengeluaran subsidi menekan investasi lain dan masih mengarah pada defisit yang lebih besar dari yang diharapkan," bebernya.

Malaysia

Inflasi Malaysia pada Mei 2022 naik menjadi 2,8 persen. Dalam menekan inflasi, negara itu memberlakukan larangan ekspor ayam mulai 1 Juni di tengah kelangkaan domestik yang disebabkan oleh melonjaknya biaya produksi, yang menurut para peternak, akibat terbatasnya akses ke bahan baku seperti jagung dan kedelai, yang digunakan dalam pakan ayam.

Meski pasokan ayam di Malaysia telah stabil, larangan ekspor masih berlaku dan menimbulkan hambatan bagi negara tetangga Singapura, yang bergantung pada Malaysia untuk sepertiga pasokan dagingnya.

Keluhan publik di Malaysia atas kenaikan harga bahan pokok mendorong pemerintah negara itu mengumumkan stimulus senilai 630 juta ringgit atau USD 142,2 juta untuk keluarga berpenghasilan rendah. Baru-baru ini, Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yaakob juga membentuk satuan tugas khusus yang disebut "Jihad Melawan Inflasi".

Satuan tugas ini menyerukan pengecer dan pusat perbelanjaan mengadakan kampanye penjualan dan menginstruksikan instansi pemerintah untuk membentuk mekanisme penurunan harga eceran minyak goreng.

Seorang analis senior sekaligus konsultan risiko politik BowerGroupAsia, yakni Hafidzi Razali melihat, Malaysia memang perlu mempertahankan persediaan makanannya untuk memenuhi permintaan lokal, sambil mentargetkan tujuan jangka panjang dalam meningkatkan produksi serta meningkatkan kapasitas penyimpanan pangan nasional.

"Inflasi yang berkepanjangan dapat mempengaruhi konsumsi domestik. Konsumsi domestik sangat penting untuk pemulihan ekonomi, dengan arus masuk modal asing masih belum menunjukkan angka pra-Covid," kata Hafidzi.

"Dengan konsumsi domestik yang lebih sedikit, usaha kecil akan paling terkena dampak – terutama ketika biaya mereka juga meningkat. Jika ini tidak diatasi, bisa enyebabkan segmen tertentu dari angkatan kerja kehilangan pekerjaan karena lebih banyak bisnis tutup," paparnya.

Filipina

Lonjakan secara tiba-tiba pada harga minyak di Filipina memicu inflasi ke level tertinggi dalam hampir empat tahun. Indeks harga konsumen negara itu naik 6,1 persen di Juni 2022.

Biaya transportasi dan utilitas yang tinggi, serta pangan, menjadi pendorong di balik "inflasi tertinggi yang tercatat sejak Oktober 2018" menurut Dennis Mapa, kepala Otoritas Statistik Filipina.

Namun, Presiden Ferdinand Marcos Jnr yang baru terpilih mengatakan bahwa lonjakan harga di bulan Juni tidak mencerminkan situasi aktual di Filipina, karena sebagian besar inflasi disebabkan oleh "variabel yang tidak dapat kita kendalikan".

Marcos mengatakan berjanji akan mengendalikan inflasi dengan meningkatkan impor daging babi, ayam dan daging sapi sementara pada saat yang sama meningkatkan produksi beras dan jagung lokal.

"Itulah mengapa saya menjadikan pertanian sebagai satu-satunya, prioritas tertinggi dari semua yang kami lakukan; karena Anda tidak dapat membangun ekonomi yang kuat kecuali Anda memiliki fondasi … sektor pertanian yang kuat," ujar Marcos, yang sebelumnya mengumumkan akan mengisi jabatan menteri pertanian.

Sedangkan untuk sektor transportasi, Marcos mengatakan dia akan melanjutkan subsidi BBM untuk komuter dan membatasi perjalanan kereta gratis hanya untuk pelajar.

Singapura

Seperti negara-negara ASEAN lain, indikator inflasi utama Singapura melihat tren yang lebih tinggi dari yang diperkirakan. Inflasi di Singapura didorong oleh naiknya harga pangan dan utilitas yang lebih curam. Pada Mei 2022, inflasi Singapura naik 3,6 persen - laju tercepat dalam 13 tahun menurut data dari bank sentral.

Tetapi pemerintah yakin inflasi akan tetap terkendali melalui kebijakan moneter yang berpusat pada nilai tukar bank sentral, yang memungkinkan dolar Singapura terapresiasi seiring dengan kondisi perdagangan saat ini untuk mengurangi inflasi impor.

Wakil Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong mengatakan akan berupaya menjaga inflasi di angka 3 persen. Namun, warga Singapura masih khawatir. Endowus, penasihat keuangan digital atau robo-investor, menemukan bahwa 45 persen dari 680 warga Singapura yang disurvei khawatir akan kondisi keuangan mereka tahun ini karena inflasi.

Bulan lalu, Wakil PM Lawrence Wong mengumumkan paket bantuan tambahan senilai SGD 1,5 miliar dalam langkah meredam harga yang tinggi untuk 1,5 juta warga Singapura berpenghasilan terendah.

Thailand

Setelah menghabiskan pinjaman selama pandemi, para ekonom melihat Thailand masih memiliki beberapa pilihan untuk mengatasi inflasi – selain menaikkan suku bunga karena harga BBM menaikkan biaya hidup masyarakat.

Para ahli memperkirakan bank sentral Thailand mungkin terpaksa menaikkan suku bunga acuan pada Agustus mendatang, setelah inflasi naik 7,66 persen YoY di bulan Juni, naik 7,1 persen pada Mei 2022.

Angka itu menandai laju inflasi tercepat di antara lima negara ekonomi ASEAN. Menurut para ekonomi, kenaikan suku bunga dapat menurunkan belanja konsumen seiring pemulihan setelah pandemi, namun diperlukan untuk menahan inflasi.

Biaya solar di Thailand telah melonjak 20 persen menjadi 35 baht per liter tahun ini. Kenaikan ini ikut menyeret biaya bahan baku melambung, bahan makanan dan transportasi. Lonjakan biaya solar juga membuat pemerintah Thailand menawarkan subsidi energi, terutama untuk solar dan gas untuk memasak.

Montree Socatiyanurak, profesor ekonomi di National Institute of Development Administration menyarankan, Thailand perlu membekukan harga solar. Tetapi dengan dana BBM Thailand sekarang berada di zona merah dengan utang lebih dari USD 2,8 miliar, uang itu perlu datang dari tempat lain, kata Montree.

"Pemerintah perlu meminjam lebih banyak jika ingin membekukan harga solar,"katanya.

Montree mengharapkan bank sentral Thailand menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Agustus untuk mengatasi kenaikan inflasi, dan 25 basis poin lagi pada pertemuan berikutnya di akhir tahun untuk menaikkan suku bunga utamanya menjadi 1 persen.

Reporter: Natasha Khairunnisa Amani

Sumber: Liputan6.com [azz]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel