Strategi AS Ingin Lemahkan Kekuatan Militer Rusia dalam Perang di Ukraina

Merdeka.com - Merdeka.com - Perang Rusia-Ukraina masih berlangsung dan telah memasuki dua bulan pertempuran. Pasokan senjata untuk Ukraina terus mengalir dari negara-negara sekutunya, khususnya Amerika Serikat (AS).

Beberapa hari lalu, Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin dan Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken berkunjung ke Kiev, bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Dalam kunjungannya, Austin mengatakan AS akan mengalokasikan tambahan dana bantuan militer sebesar USD 713 juta atau sekitar Rp 10,2 triliun untuk Ukraina dan negara Eropa lainnya.

Menurut Austin, Ukraina bisa memenangkan peperangan ini jika diberikan dukungan yang tepat.

Dengan bantuan tersebut, kata Austin, AS ingin melemahkan Rusia sehingga tidak bisa lagi menginvasi negara lain sebagaimana yang dilakukan di Ukraina, seperti dikutip dari BBC, Selasa (26/4).

Apakah strategi bantuan militer untuk Rusia ini salah satunya bertujuan untuk melemahkan militer Rusia?

Menurut koresponden diplomatik BBC, James Landale, komentar orang nomor satu Pentagon itu sangat keras untuk seorang Menteri Pertahanan AS. Menurut Landale, tujuannya untuk membantu Ukraina menghadapi agresi Rusia, dan lainnya untuk melemahkan kemampuan Rusia.

Dari USD 713 juta bantuan baru yang digelontorkan, sekitar USD 332 juta dialokasikan untuk Ukraina atau sekitar Rp 4,7 triliun. Sampai saat ini, total bantuan keamanan yang digelontorkan AS untuk Ukraina sejak invasi Rusia lebih dari USD 3,7 miliar atau sekitar Rp 53 triliun.

Presiden AS, Joe Biden sejak awal menegaskan tidak akan mengintervensi langsung perang di Ukraina dan tidak akan mengerahkan pasukan AS untuk bertempur.

Namun, menurut analisis koresponden pertahanan BBC, Jonathan Beale, kenyataannya AS terlibat semakin dalam di Ukraina. Ini juga ditegaskan oleh komentar Lloyd Austin.

Beale mengatakan, AS meningkatkan pasokan senjatanya ke Ukraina secara drastis. Walaupun diperingatkan Rusia, AS tetap mengirim lebih banyak senjata.

Duta besar Rusia di Washington mengatakan Moskow telah mengirim nota diplomatik meminta AS mengakhiri pasoka senjatanya ke Ukraina.

"Kata-kata Bapak Austin menegaskan bahwa Amerika bukanlah penonton dalam perang ini. Amerika ingin melihat Rusia kalah," tulisnya.

"Lebih dari itu, AS ingin melihat mesin militer Rusia hancur sedemikian rupa sehingga tidak bisa lagi mengancam sekutu Eropa lainnya di masa yang akan datang. Ketakutan yang dirasakan para sekutu NATO yaitu kekalahan Ukraina hanya akan memperkuat ambisi Presiden Putin."

Menurut analisis Beale, Austin telah memperjelas tujuan strategis AS dalam perang ini, walaupun secara teoretis tidak terlibat. Tujuannya adalah menghentikan Presiden Putin dan memperlemah militer Rusia sehingga tidak bisa lagi mengancam negara lain.

Para ahli militer, lanjutnya, percaya Rusia butuh waktu bertahun-tahun untuk mengembalikan kekalahan militernya.

"Itu juga bisa menjadi isyarat bagi negara lain yang sangat dikhawatirkan AS, seperti China," kata Beale.

"Bagi Presiden Putin, itu akan semakin membuktikan dia tidak hanya berperang dengan Ukraina. Tidak diragukan lagi itu akan mendukung narasinya untuk meraih dukungan di dalam negeri. Dia sejak lama menggambarkan NATO sebagai ancaman bagi Rusia." [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel