Strategi Jual Beli Menara Telko Dinilai Bakal Direspons Positif Pasar

Raden Jihad Akbar
·Bacaan 2 menit

VIVA – Bidang telekomunikasi (Telko) menjadi salah satu yang bertahan di tengah pandemi saat ini. Meski demikian sejumlah perusahaan besar dinilai tetap akan tetap akan menjalankan efisiensi untuk memperkuat keuangan operasionalnya.

Salah satu bentuk strategi penguatan keuangan tersebut adalah menjual menara telekomunikasi yang dimiliki lalu tetap menggunakan fasilitas itu dengan cara menyewa menggunakan. Strategi tersebut pun dinilai akan direspons baik oleh investor dan pelaku pasar keuangan.

Direktur Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengungkapkan, strategi ini lah yang tampaknya akan dilakukan oleh salah satu pemain besar bisnis telekomunikasi, Indosat Ooredoo. Perusahaan itu kabarnya akan menjual tahun ini, sekitar 4.000 unit menara yang dimilikinya.

Baca juga: BI Tegaskan Tak Rilis Rupiah Gambar Jokowi, Apa Kabar Redenominasi?

Bahkan menurutnya, rencana lelang itu akan mendapat respons baik dari pemain besar di sektor menara telekomunikasi. Seperti, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) melalui Protelindo, Mitratel, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), dan PT Centratama Telekomunikasi (CENT).

"Jika Indosat kembali melakukan aksi monetisasi menaranya seperti tahun 2019, maka pasar akan merespons positif meskipun saat ini masih dalam kondisi pandemi," ujar Heru dikutip dari keterangannya di Jakarta, Selasa 9 Januari 2021.

Respons positif dari pelaku pasar itu lanjutnya, bisa membuat menara yang dijual laku dengan harga yang baik. Lebih mahal dari yang dilakukan Indosat pada 2019 lalu.

“Untuk transaksi rencana penjualan menara tahun 2021 ini, harganya bisa saja naik signifikan karena aset yang dijual memiliki kualitas lebih baik," kata Heru.

Sebagai informasi, Indosat Ooredoo pada 2019 menjual 3.100 menaranya kepada PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) dan PT Protelindo. Nilai transaksi yang didapatkan sebesar Rp6,39 triliun.

Dengan rincian, Sebanyak 2.100 menara dilepas kepada Mitratel, anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Sedangkan, 1.000 menara dilepas kepada Protelindo, anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).

Dia mengatakan rencana penghapusan daftar negatif investasi dalam Omnibus Law pun mendukung strategi itu. Sebab, membawa angin segar yang meningkatkan minat investor asing terhadap sektor menara telekomunikasi di Indonesia.

Selain itu, seluruh operator seluler sedang berlomba untuk menerapkan layanan 5G yang memacu tingginya permintaan layanan data. Sehingga permintaan menara telekomunikasi terus bertumbuh.

Karenanya Lanjut Heru, jika lelang tersebut sukses maka Indosat Ooredoo akan mendapatkan dana segar untuk memperkuat belanja operasinya.

"Ini akan menjadi modal tambahan bagi Indosat untuk menuju era 5G, karena makin agile dan kompetitif," katanya.

Sementara itu, Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, jika strategi penjualan menara itu sama dengan skema 2019 di mana setelah dijual, disewa kembali. Maka Indosat akan diuntungkan.

"Karena untuk keperluan pendanaan, dan opsi sewa lebih murah dibandingkan dengan jika dimiliki sendiri karena ada biaya maintenance," katanya.

Seperti diketahui, belum lama ini Tower Bersama menandatangani unsecured revolving credit facility senilai US$275 juta setara Rp4,1 triliun. Penandatanganan fasilitas pinjaman dari sejumlah bank ini dilakukan pada 20 Januari 2021.

Sementara, Telkom dikabarkan berencana membawa Mitratel melantai di bursa saham pada kuartal IV 2021 atau semester I 2022 untuk meningkatkan kualitas portofolio dan ekuitas perusahaan. (Ant)