Strategi Kelola Keuangan Saat Resesi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 3,49 persen pada kuartal III 2020. Dengan demikian, Indonesia resmi resesi setelah alami pertumbuhan ekonomi dalam dua kuartal berturut-turut. Pada kuartal II 2020, Indonesia alami pertumbuhan ekonomi minus 5,3 persen. Lalu bagaimana mengatur keuangan di tengah situasi pelemahan ekonomi ini?

Perencana Keuangan One Shild Financial Mohamad Andoko menuturkan, pelemahan ekonomi seiring penurunan bisnis dan produksi. Hal itu berpengaruh terhadap sektor usaha dan bisa mendorong pemutusan hubungan kerja (PHK). Selain itu, pelemahan ekonomi juga berdampak terhadap pendapatan dan pengeluaran individu.

Meski demikian, Andoko melihat tak seluruh sektor usaha alami dampak negatif karena pelemahan ekonomi. Ia menuturkan, di tengah perlambatan ekonomi, ada sisi positif yang dirasakan pihak lain. Andoko mencontohkan, profesi pengacara menjadi salah satu diuntungkan karena kondisi sekarang membuat banyak perusahaan pailit.

Hal itu membutuhkan profesi pengacara untuk mengurus kepailitan. Selain itu, ia melihat omzet dokter kulit meningkat karena meski sekarang diterapkan work from home, tetapi masyarakat alami kulit bermasalah karena stres.

"Jadi individu mindset. Ada profesi-profesi juga yang diuntungkan,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com, Jumat, (6/11/2020).

Di tengah resesi, Andoko pun membagikan tips mengelola keuangan. Pertama, keluarga dan individu harus memiliki bahasa yang sama menghadapi situasi perlambatan ekonomi.

"Jadi ketika sang suami alami krisis, dan pengaruhi income, maka istri dan anak juga tidak memikirkan diri sendiri dengan belanja atau gaya hidup yang berlebihan. Keluarga harus punya bahasa yang sama,” ujar dia.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Tips Lainnya

Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski pertumbuhan ekonomi masih di level negatif, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut setidaknya ada perbaikan di kuartal III 2020. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski pertumbuhan ekonomi masih di level negatif, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut setidaknya ada perbaikan di kuartal III 2020. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Kedua, Andoko mengatakan, keluarga dan individu juga tetap harus review anggaran. Keempat, Andoko mendorong juga individu dan keluarga bisa membedakan kebutuhan dan keinginan.

"Keinginan tidak pernah ada batasnya. Jadi buatlah kebutuhan yang menjadi utama. Misalkan kita sama-sama makan, tetapi ada makan Rp 50 ribu, ada yang Rp 300 ribu, tetapi sama-sama makan. Jadi tahu keinginan yang dibatasi dan dikurangi," kata dia.

Kelima, Andoko menuturkan, individu dan keluarga harus tetap menyiapkan dana darurat. Hal ini untuk mengantisipasi situasi yang akan terjadi.

"Kalau kondisi normal kita harus punya dana darurat tiga hingga enam kali gaji. Ini situasi tidak normal dan beda, jadi harus lebih tinggi,” ujar dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini