Strategi Menteri Erick Genjot Kinerja Bisnis Garuda Indonesia

Raden Jihad Akbar
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menteri BUMN Erick Thohir mendorong PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) untuk memaksimalkan potensi bisnis penerbangan. Operasional pun didorong secara lebih efisien dan efektif.

Sejumlah langkah pun diinstruksikan Menteri Erick ke Manajemen Garuda Indonesia untuk mewujudkan hal tersebut. Salah satunya memastikan Garuda mengembalikan pesawat Bombardier CRJ 1.000 yang disewanya. Pesawat itu diketahui disewa dari Nordic Aviation Capital (NAC) yang akan jatuh tempo pada 2027.

"Tentu keputusan ini ada landasannya, kita tahu bagaimana kami mempertimbangkan tata kelola perusahaan yang baik transparan akuntanbilitas dan profesional," ujar Erick dikutip Kamis 11 Januari 2021.

Keputusan itu pun sudah disepakati oleh pihak manajemen maskapai pelat merah tersebut. Bahkan, Garuda Indonesia mengakui bahwa operasional pesawat CRJ 1.000 selama 8 tahun disewa merugi.

Baca juga: IHSG Diproyeksi Lanjutkan Penguatan, Intip Saham Rekomendasi Hari Ini

Selain itu menurut Erick, langkah itu juga melihat dari keputusan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Indonesia dan juga penyelidikan Serious Fraud Office (SFO) Inggris. Terhadap, indikasi pidana suap dari pihak pabrikan kepada oknum pimpinan Garuda saat proses pengadaan pesawat 2011.

Langkah pembenahan bisnis Garuda selanjutnya yang dilakukan Erick, adalah mendorong Garuda memaksimalkan bidang usaha kargo udara. Menurutnya bisnis ini memiliki potensi yang besar di masa depan.

"Bisnis model Garuda kami sedang review. Kargo jadi salah satu kekuatan," tegasnya.

Erick menjabarkan, lini bisnis kargo udara dapat didorong untuk ditingkatkan ke depannya. Karena kontribusi terhadap pendapatan Garuda Indonesia saat ini sekitar 30 persen menjadi 40 persen.

Apalagi lanjut dia, Garuda telah melakukan pengiriman kargo ke berbagai rute, mulai dari Manado ke Jepang hingga rute Sumatera ke China.

"Bukan tidak mungkin ke depan lumbung pangan ikan di Maluku jadi base di kirim ke China, Australia, Jepang," kata Erick.

Lebih lanjut Erick juga meminta Garuda Indonesia untuk mengembangkan potensi penerbangan domestik. Sebab, setelah vaksinasi, intensitasnya pasti akan meningkat, dan itu juga akan menjadi peluang penting.

"Tentu tidak bisa juga tutup mata dengan penerbangan penumpang, penumpang ini kekuatan domestik kita ada. Ini yang menjadi suatu strategi yang kita prioritaskan, penerbangan lokal menjadi kunci," katanya.

Kemudian Erick mengatakan, sistem penyewaan pesawat yang selama ini membebani Garuda Indonesia harus dikaji kembali. Sehingga, operasional bisa lebih efiisien dan transparan dan saling menguntungkan.

"Banyak pesawat yang menganggur, kita sedang perbaiki supaya win-win, untung sama untung. Jangan terjadi 'grey area' untuk kolusi," katanya. (Ant)