Strategi Raksasa Bank di AS Hadapi Fintech

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, New York - Raksasa perusahaan Fintech, Square dan Paypal, mengambil alih perdagangan Wall Street. Konsumen mayoritas kaum muda dengan memanfaatkan aplikasi Square's Cash and Venmo untuk pembayaran mobile.

Bank konvensional tidak tinggal diam dan melawan. Investor memperhatikannya dengan serius. Goldman Sachs (GS) memiliki kinerja baik dengan saham melonjak 55 persen. Sejalan dengan American Express (AXP) yang membuntuti di belakangnya dengan kenaikan 45 persen. Kedua perusahaan mulai merangkul perbankan digital guna menarik pelanggan baru.

Goldman Sachs memulai pergerakan sebagai bank investasi pembangkit tenaga listrik dan wealth manager untuk orang kaya. Hal ini berkat bank online Marcus. Platform yang diluncurkan pada 2016, tidak memiliki cabang dan menawarkan pinjaman pribadi tanpa biaya.

"Tidak diragukan lagi bahwa aktivitas yang kami lakukan adalah digitalisasi dengan cepat. Saya pikir ada akselerasi yang berarti dalam disrupsi yang terjadi akibat digitalisasi layanan keuangan,” kata CEO Goldman Sachs David Solomon pada konferensi keuangan awal bulan ini yang dilansir dari CNN, ditulis Minggu (31/10/2021).

American Express juga memperbaiki citranya yang dipandang kuno. Perusahaan mengumumkan pada Kamis, 28 Oktober 2021 terkait rencana digital checking baru untuk usaha kecil dan menengah (UMKM).

Sebagai bagian dari peluncuran, AmEx bahkan meluncurkan kartu debit pertamanya. Executive Vice President of Global Business Financing Payments and Digital Experience, Dean Henry menuturkan, ini adalah bagian dari strategi multi tahun untuk melampaui kartu kredit. Ia menuturkan, hal tersebut adalah manifestasi terbaru.

"Kami memiliki kewajiban untuk pergi ke mana klien bertransaksi. Terbaru adalah kartu debit AmEx. Kami memodernisasi jaringan dan mengikuti jenis pembayaran yang populer,” ujar Dean.

Perusahaan keuangan besar juga menyadari bermitra dengan fintech bisa sangat menguntungkan.

"Fintech juga telah mendorong pertumbuhan kami. Tahun 2020, hampir 30 persen lebih banyak fintechmengeluarkan kredensial Visa dan mereka memiliki lebih dari dua kali lipat volume pembayaran mereka,” tutur CEO Visa Al Kelly saat konferensi keuangan, Selasa, 26 Oktober 2021.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Buy Now and Pay Later

Ilustrasi pinjaman (Foto: Unsplash/Scott Graham)
Ilustrasi pinjaman (Foto: Unsplash/Scott Graham)

Jargon buy now and pay later (beli sekarang dan bayar nanti) semakin besar di bidang fintech. Langkah Goldman Sachs, AmEx, Visa, dan lainnya adalah tanda perusahaan keuangan konvensional menyadari harus ada perubahan yang lebih modern.

Seperti apa yang dilakukan Square (SQ) , PayPal (PYPL) dan fintech top lainnya yang semakin besar dari hari ke hari.

Stripe, sebuah perusahaan pembayaran swasta, sekarang senilai USD 95 miliar atau Rp 1.349.6 triliun (asumsi kurs Rp 14.207 per dolar AS). Baru-baru ini Square bermitra dengan Amazon (AMZN), Walmart (TPL), Target (TGT) dan raksasa ritel lainnya.

Affirm pun mengembangkan fitur yang memungkinkan pelanggan membayar pembelian dengan cicilan bulanan. Startup ini go public awal tahun ini. Sahamnya meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak pertama

IPO. Klarna, unicorn swasta teratas lainnya yang bernilai USD 45,6 miliar setara Rp 6.748,3 triliun. Square membeli startup BNPL (buy now puy later) Australia, Afterpay, musim panas ini seharga USD 29 miliar atau Rp 412 triliun.

Pesaing Visa, Mastercard (MA) meluncurkan program BNPL-nya sendiri bernama Mastercard Installments (angsuran Mastercard). Sayangnya tren BNPL ini akan hilang dalam waktu dekat.

Bank Konvensinal Sulit Ikuti Perkembangan

Ilustrasi Bank
Ilustrasi Bank

Chief Financial JPMorgan Chase Jeremy Barnum membenarkan tren BNPL menjadi buah bibir di tengah masyarakat. Hal ini diungkapkan ketika konferensi keuangan perusahaan awal bulan ini.

"Kami sedang menghadapi semua jenis gangguan potensial, terutama gangguan jenis fintech yang cukup serius. Dalam kasus BNPL, jelas sangat menonjol karena pertumbuhan yang telah kami lihat," tambah Barnum.

CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon berjanji bank juga akan mengimbangi pesaing fintech yang muncul.

"Kami akan menghabiskan apa pun yang harus kami keluarkan untuk bersaing dengan semua orang ini di ruang kami," kata Dimon di saat yang bersamaan.

Namun, bank-bank besar harus melangkah dengan hati-hati di dunia yang berkembang ini. Regulator di Washington terus mengawasi raksasa keuangan. Faktor itulah yang menyebabkan Visa membatalkan rencana untuk membeli startup fintech Plaid pada awal 2021. Pemerintah AS lakukan pengawasan ketat terkait antimonopoli.

The Wall Street Journal melaporkan pada Kamis, 28 Oktober 2021, Departemen Kehakiman sekarang sedang menyelidiki hubungan Visa dengan Square, PayPal, dan Stripe. Sebagai bagian dari penyelidikan yang lebih luas yang pertama kali diungkapkan Visa kepada investor pada Maret.

Reporter: Ayesha Puri

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel