Stres saat Pandemi COVID-19 Picu Herpes Zoster, Kok Bisa?

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVAHerpes Zoster (HZ) juag dikenal sebagai penyebab cacar api atau cacar ular yang kerap menimpa banyak orang. Faktanya, kondisi pandemi membuat penyakit ini lebih rentan mengintai. Kok bisa?

CEO Klinik Pramudia, dr. Anthony Handoko, SpKK, FINSDV, menjelaskan pandemi COVID-19 bisa berisiko terhadap kesehatan mental. Imbasnya, tubuh rentan mengalami stres sehingga penurunan daya tahan tubuh pun terjadi.

"Pandemi ini risikonya ya daya tahan menurun karena kita selalu waspada. Mindset itu tanpa sadar membuat imunitas menurun karena energi capek untuk memikirkan itu sehingga berlanjut ke timbulnya virus herpes zoster dan berlanjut ke nyeri pasca herpes," kata dia dalam acara media virtual, baru-baru ini.

Kendati demkian, virus SARS-CoV-2 sendiri belum dapat dibuktikan kaitan langsung terhadap HZ. Sebab, secara ilmiah, penyakit herpes ini ditimbulkan oleh jenis virus yang sama pada penyakit cacar air di waktu usia anak.

"Disebabkan oleh reaktivasi virus varicella zoster (VZV). Virus ini merupakan virus yang sama yang menyebabkan cacar air. Reaktivasi ini terjadi ketika kekebalan terhadap VZV menurun karena penuaan atau imunosupresi," ujar dokter Anthony.

Saat virus HZ masuk kedalam tubuh manusia, virus tersebut berdiam di sistem syaraf dan menetap di dalamnya, dan akhirnya aktif pada waktu yang tak terduga-duga.Penularan virusnya bisa melalui pertukaran napas dan kontak dengan lesi/gejala di kulit. Penularan HZ terjadi ketika ada kontak langsung dengan cairan pada lepuhan ruam yang dialami penderita.

"Mereka yang belum pernah menderita cacar air atau tidak pernah menerima vaksin cacar air memiliki risiko tinggi tertular. Jika terinfeksi, mereka akan terkena cacar air, bukan herpes zoster. Lalu kemudian virus itu bisa berkembang sewaktu-waktu menjadi Herpes Zoster. Masa inkubasi setelah pertama kali kontak hingga timbulnya lesi di kulit sekitar 10-21 hari," kata dia.

HZ terutama terjadi pada kelompok usia 45-64 tahun. Namun, saat ini tren kasus HZ cenderung terjadi pada usia yang lebih muda dan lebih sering terjadi pada wanita. Sebaliknya, dalam pengalaman di lapangan, dokter Anthony menilai proporsi pasien HZ bisa mengintai wanita maupun pria.

"Saya rasa semuanya punya risiko itu. Apalagi kalau stres, semua yang kerja bisa alami stres," tuturnya.