Studi 2020: Istri Berwirausaha, Suami Pegang Pekerjaan Rumah

Lutfi Dwi Puji Astuti, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pandangan bahwa seorang istri harus berdiam diri di rumah dan hanya menjadi ibu rumah tangga saja, nampaknya sudah usang dan tidak berlaku lagi di tahun 2020 ini.

Ya, menurut hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh Google, melalui program Women Will, menunjukkan bahwa semakin banyak perempuan Indonesia ingin berwirausaha. Dan separuh dari perempuan yang disurvei, menyatakan diri sebagai pewirausaha.

Penelitian Google-Kantar mensurvei 990 perempuan dan 510 laki-laki dalam dua bulan pertama 2020, tentang alasan mereka memilih untuk bekerja, serta hal-hal yang penting bagi mereka saat mencari pekerjaan.

Dalam penelitian yang berjudul Advancing Women in Entrepreneurship ini menemukan, 49 persen perempuan menyatakan diri sebagai pewirausaha, dengan bisnis yang mereka jalankan sendiri saat ini. Sedangkan, 45 persen berkata baru ingin berwirausaha. Dari sisi laki-laki, 61 persen dari mereka berkata sudah menjadi pewirausaha dan 34 persen menyatakan ingin berwirausaha.

PMM Brand and Reputation Google Indonesia, Dora Songco, mengatakan, setidaknya 8 dari 10 perempuan yang sudah atau ingin berwirausaha di Indonesia mengungkapkan, mereka ingin meningkatkan keterampilan dalam menjalankan bisnis, misalnya keterampilan berbisnis, pengelolaan uang, keterampilan digital, dan sebagainya.

"Selain itu, 83 persen perempuan menyatakan bersedia mengikuti pelatihan online, dan ini adalah angka tertinggi yang tercatat di Asia Tenggara. Di kawasan ini, pengguna internet perempuan menyebutkan bahwa mereka menghabiskan rata-rata 5,5 jam sehari untuk online, dengan 85 persennya menggunakan ponsel untuk mengakses internet," ujarnya saat sesi webinar, Kamis 26 November 2020.

Dora menambahkan, walau angka partisipasi perempuan dalam bidang kewirausahaan di Indonesia adalah yang tertinggi di Asia Tenggara, perempuan masih dianggap seharusnya berfokus untuk mengurus rumah tangga, dengan rendahnya penerimaan secara budaya terhadap ibu yang bekerja purna waktu.

"Perempuan lebih mungkin daripada laki-laki untuk bisa menerima hal tersebut. Di mana 52 persen perempuan percaya bahwa dia seharusnya boleh bekerja purna waktu setelah menjadi ibu, sementara laki-laki yang setuju hanyalah 41 persen," kata dia.

Lebih lanjut, hasil penelitian yang dipaparkan oleh Dora menyatakan, tanggung jawab untuk mengasuh anak masih diberikan kepada perempuan, tetapi jumlah perempuan yang merasa bahwa tugas itu hanya tanggung jawab mereka saja telah turun menjadi 60 persen dari 80 persen pada 2017.

"Laki-laki telah menunjukkan perkembangan, dengan 21 persen dari mereka memikul tanggung jawab pengasuhan anak, dibanding 6 persen pada 2017," tuturnya.

Menurut Dora, ketimpangan terlihat lebih jelas dalam hal pekerjaan rumah tangga. Dengan 67 persen perempuan mengatakan, mereka memikul tanggung jawab utama. Sementara hanya ada 24 persen laki-laki yang mengatakan, pekerjaan rumah tangga adalah tanggung jawab mereka.

"Perempuan menghabiskan 3,1 jam per hari untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, dibandingkan 2,5 jam untuk laki-laki. Dengan kata lain, ada selisih sebesar 24 persen," tutup Dora Songco.