Studi: 50% Pasien COVID-19 Ringan, Alami Komplikasi Setelah 6 Bulan

Rochimawati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sejak wabah virus corona yang panjang, sindrom pasca-COVID-19 menjadi perhatian umum. Sebuah penelitian baru-baru ini mengklaim bahwa 50 persen pasien COVID-19 dengan gejala ringan dan sedang juga mengalami komplikasi medis setelah enam bulan terinfeksi.

Sebelumnya sebuah penelitian yang dilakukan Lancet melaporkan bahwa lebih dari 75 persen orang yang menderita virus corona menghadapi gejala yang muncul setelah enam bulan setelah pemulihan.

Sebanyak 63 persen individu yang mengikuti eksperimen paling sering melaporkan gejala kelelahan dan nyeri otot, disertai kecemasan, depresi, nyeri, dan kesulitan tidur, dikutip dari Times of India.

Sementara sebagian besar kasus COVID-19 jangka panjang lazim terjadi pada pasien yang menderita infeksi COVID-19 parah. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan bulan ini oleh Journal of Clinical Microbiology and Infection menyatakan bahwa setengah dari pasien dengan gejala COVID-19 ringan dan sedang mengalami komplikasi setelah enam bulan

Studi ini mengamati 103 orang berusia di atas 18 tahun yang terkena virus corona antara April dan Oktober 2020. Para relawan yang terlibat dalam percobaan menderita gejala ringan dan sedang, yang menunjukkan bahwa meski mereka tidak asimtomatik, mereka juga tidak dirawat di rumah sakit.

Kelompok yang berpartisipasi ditanyai empat kali selama penelitian. Enam bulan setelah dimulainya penelitian, 46 persen memiliki setidaknya satu gejala yang menetap.

Gejala yang paling umum termasuk kelelahan (22%), kehilangan atau perubahan indra penciuman dan perasa (15%) atau kesulitan bernapas (8%). Sesuai laporan, 44% orang awalnya mengalami sakit kepala, 41% demam, 39% nyeri otot, dan 38% batuk kering.

Laporan akhir mencantumkan 14 gejala, 12 di antaranya sudah dicatat sebagai gejala umum COVID-19 oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat. Gejala paling umum yang dilaporkan adalah kehilangan nafsu makan, sesuai penelitian.

Menurut penelitian, “COVID panjang muncul sebagai fenomena di mana pasien memiliki gejala jangka panjang yang tidak terselesaikan.”

"Ini bisa berupa gejala COVID-19 yang berkepanjangan, atau sindrom pasca COVID-19 yang menyebabkan disfungsi sistem saraf otonom diusulkan, meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan penyebabnya," tambah studi tersebut.

Menurut Kantor Statistik Nasional (ONS), satu dari lima pasien virus corona menunjukkan gejala "selama lima minggu atau lebih". Laporan yang sama menyatakan bahwa satu dari setiap 10 pasien COVID-19 menunjukkan gejala hingga 12 minggu dan lebih lama.

Gejala paling umum dari long COVID-19

Meskipun penting untuk memahami kerangka waktu yang diperlukan agar COVID-19 menjadi skenario long COVID-19, penting juga bagi kita semua untuk mengidentifikasi tanda-tanda COVID-19 yang panjang, untuk mengobatinya secara efisien.

Berikut adalah beberapa gejala paling umum yang dapat Anda alami bahkan setelah sembuh dari penyakit.

- Kabut otak

- Sakit kepala

- Kelelahan

- Nyeri sendi

- Nyeri dada