Studi: Batasi Konsumsi Daging, Cegah Gejala Parah COVID-19

·Bacaan 3 menit

VIVA – Riset terbaru menemukan bahwa asupan tinggi protein nabati serta beragam jenis ikan, berisiko rendah mengalami gejala parah COVID-19, dibandingkan mereka yang lebih gemar mengonsumsi daging.

Bagaimana penjelasannya?

Kita mungkin melihat penurunan kasus COVID-19, tetapi itu tidak berarti pandemi telah berakhir. Dengan ketakutan akan virus corona jenis baru yang masih menghantui, kita perlu menjaga kewaspadaan dengan segala cara untuk mengurangi risiko tertular penyakit mematikan itu.

Salah satu faktor terpenting yang dapat membantu mengurangi risiko adalah pola diet. Tak diragukan lagi bahwa nutrisi yang imbang sangat penting untuk menjaga status kesehatan yang baik.

Tetapi dibutuhkan makanan yang tepat untuk mendorong sistem kekebalan tubuh dalam melawan virus SARS-CoV-2 itu.

Terbukti, sebuah survei terhadap enam negara, berdasarkan gejala yang dilaporkan, telah menemukan bahwa pola diet yang tinggi protein nabati dan berbasis ikan dapat menurunkan risiko COVID-19 dengan gejala sedang atau parah. Berikut penjelasannya.

Makan makanan berbasis nabati dan ikan

Dikutip dari laman The Health Site, menurut survei yang diterbitkan dalam jurnal BMJ Nutrition Prevention & Health, diet vegetarian dan berbasis ikan dikaitkan dengan risiko penyakit serius hingga 73 persen dan 59 persen lebih rendah.

Survei tersebut mencakup tanggapan dari 2.884 dokter dan perawat garis depan dengan paparan luas terhadap SARS-CoV-2. Survei online berlangsung antara Juli dan September 2020.

Tim menciptakan beragam diet yang menggabungkan diet nabati yakni lebih kaya akan sayuran, kacang-kacangan, dan kacang-kacangan.

Lalu, pola makan dengan asupan ayam, daging merah dan olahan, serta diet pescatarian atau nabati yang ditambah ikan atau kerang, juga diet rendah karbohidrat tinggi protein.

Hasil survei

Sesuai hasil survei, 568 responden mengalami gejala sesuai dengan infeksi COVID-19 atau tidak menunjukkan gejala tetapi hasil tes swab positif COVID-19. Sekitar 2.316 orang menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki gejala apa pun atau tidak terdiagnosis positif.

Menurut para peneliti, 138 dari 568 pasien memiliki infeksi COVID-19 sedang hingga berat, sementara 430 lainnya memiliki infeksi sangat ringan hingga ringan.

Responden yang menyatakan mengonsumsi pola makan nabati atau pola makan nabati serta ikan memiliki penurunan risiko infeksi COVID-19 sedang hingga berat masing-masing sebesar 73 dan 59 persen.

Sementara, orang yang makan makanan rendah karbohidrat tinggi protein memiliki hampir empat kali kemungkinan infeksi COVID-19 sedang hingga parah dibandingkan dengan mereka yang makan makanan nabati.

Mengapa diet tanpa daging cegah keparahan infeksi COVID-19?

Para peneliti menyoroti pentingnya diet ini untuk pasien COVID-19, yang mengatakan bahwa diet nabati tinggi nutrisi, termasuk fitokimia, vitamin dan mineral, yang semuanya penting untuk berfungsinya sistem kekebalan tubuh.

Ikan, di sisi lain, adalah sumber yang kaya vitamin D dan asam lemak omega-3, yang keduanya memiliki sifat anti-inflamasi.

“Hasil kami menunjukkan bahwa diet sehat yang kaya akan makanan padat nutrisi dapat dipertimbangkan untuk perlindungan terhadap COVID-19 yang parah,” kata para peneliti.

Mereka lebih lanjut menyoroti bahwa diet berkualitas tinggi penting untuk meningkatkan respons imun yang memadai, yang akan mengurangi kerentanan serta keparahan penyakit.

Namun, para peneliti memperingatkan bahwa penelitian ini bersifat observasional dan tidak membuktikan hubungan sebab akibat antara nutrisi dan tingkat keparahan COVID-19, sehingga temuan tersebut harus ditafsirkan dengan hati-hati.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel