Studi: COVID-19 Bikin Otak Menua 10 Tahun

Adinda Permatasari, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kabut otak dan penurunan kognitif yang tajam, yang dapat membuat otak menua, adalah efek samping terbaru pasca virus corona atau COVID-19, yang membingungkan pasien maupun dokter.

Sementara gejala seperti sesak napas, batuk berkepanjangan, dan kelelahan kronis, menjadi beberapa gejala umum pasca COVID-19 paling umum, yang memengaruhi 75 persen pasien. Beberapa gejala dapat bersifat lebih kompleks, bahkan mengganggu fungsi otak dalam jangka panjang.

Dilansir Times of India, penelitian terbaru membuktikan fakta, beberapa pasien terus mengalami penurunan kognitif yang signifikan dan kehilangan memori selama berbulan-bulan setelah didiagnosis dengan infeksi positif.

Baca juga: Vaksin COVID-19 Dibuat Super Kilat, Apa yang Beda?

Banyak juga yang mengalami kehilangan ingatan kronis, kebingungan, dan delirium. Faktanya, penelitian menetapkan bahwa kerusakan yang disebabkan oleh virus Sars-CoV-2, dapat membuat otak menua 10 tahun.

Penelitian yang telah dilakukan pada 84.000 pasien yang sembuh dari COVID-19 ini sebenarnya menakutkan bagi para dokter di seluruh dunia. Analisis tersebut diamati setelah pasien yang pulih dari COVID-19, menjalani sejumlah tes yang menentukan keterampilan kognitif mereka.

Teramati bahwa orang yang terjangkit COVID-19, memiliki kinerja lebih buruk pada tes ini dibanding yang diharapkan, tergantung pada usia, keterampilan dan demografi mereka. Diamati juga bahwa penurunan kognitif terbukti tidak hanya pada pasien yang memiliki infeksi COVID-19 aktif, tetapi juga pada mereka yang telah pulih beberapa minggu dan bulan sebelumnya.

Menariknya, penelitian tersebut juga menemukan bahwa dampak terberat terlihat pada mereka yang sebelumnya pernah dirawat di rumah sakit, atau menderita infeksi COVID-19 yang parah. Para ahli mengamati, pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit, menderita penuaan otak yang parah hingga 10 tahun, atau mengalami penurunan IQ 8,5 poin.

Ini bukan pertama kalinya hasil buruk dikaitkan dengan rawat inap pasien virus corona. Para ahli mengatakan, bentuk penyakit yang parah dapat menyebabkan sejumlah kerusakan bertahap dan seumur hidup, mulai dari fibrosis paru, kelelahan yang menyiksa, dan kerusakan jantung.

Meskipun COVID-19 awalnya hanyalah infeksi saluran pernapasan, namun dapat memiliki konsekuensi yang luas bagi organ-organ vital, termasuk otak. Sebuah studi lebih kecil yang dilakukan pada 509 pasien, yang telah diterbitkan dalam Annals of Clinical and Transitional Neurology mendapatkan hasil serupa.

Sesuai laporan, 215 pasien telah mengembangkan manifestasi neurologis pada awal penyakit, 315 pasien selama rawat inap dan 419 pasien selama perjalanan penyakit.

Baca juga: Kisah Pasien COVID-19 Alami Sakit Kepala Parah

Para peneliti menemukan bahwa manifestasi neurologis yang paling umum dari penyakit ini termasuk mialgia (44,8 persen), sakit kepala (37,7 persen), 31,8 persen menderita ensefalopati, 29,7 persen mengalami pusing, 5,9 persen menderita dysgeusia (indera perasa terdistorsi), dan 11,4 persen pasien menderita anosmia (kehilangan penciuman).

Saat ini jumlah kasus COVID-19 di Indonesia masih tinggi. Untuk itu jangan lupa tetap patuhi protokol kesehatan dan lakukan 3M: Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Jauhi Kerumunan serta Mencuci Tangan Pakai Sabun,

#pakaimasker
#jagajarak
#cucitangan
#satgascovid19
#ingatpesanibu