Studi : Hampir satu dari empat penderita COVID-19 alami long COVID

Sebuah studi baru yang dilakukan sejumlah peneliti Amerika Serikat (AS) menemukan bahwa hampir satu dari empat penderita COVID-19 mengalami COVID-19 berkepanjangan atau long COVID, gejala yang berlangsung selama 12 pekan atau lebih.

Studi yang dipimpin oleh para peneliti dari University of Southern California (USC) itu, merekrut sekitar 8.000 responden dari seluruh negara itu untuk menjawab pertanyaan dua mingguan tentang kondisi kesehatan secara keseluruhan dan status COVID-19 mereka dari Maret 2020 hingga Maret 2021.

Setelah memperhitungkan gelaja-gejala yang sudah ada sebelumnya, sekitar 23 persen partisipan melaporkan bahwa mereka mengalami gejala onset baru pada saat infeksi yang berlangsung selama lebih dari 12 pekan, menurut studi yang dipublikasikan di Scientific Reports.

Selain itu, para peneliti itu menemukan bahwa orang-orang memiliki risiko yang jauh lebih tinggi mengalami long COVID jika mereka menderita obesitas, kerontokan rambut, sakit kepala, atau sakit tenggorokan, pada saat terinfeksi.

"Long COVID merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama. Dua puluh tiga persen adalah prevalensi yang sangat tinggi, dan itu mungkin terjadi pada jutaan orang," kata penulis pertama Qiao Wu, seorang kandidat doktor di USC Leonard Davis School of Gerontolog.

"Semakin banyak pengetahuan tentang prevalensi, gejala persisten, dan faktor risiko dapat membantu para profesional perawatan kesehatan dalam mengalokasikan sumber daya dan layanan untuk membantu para penderita long COVID kembali ke kehidupan normal," ujar Wu.


Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel