Studi Menyatakan Donor Plasma Kurang Efektif Untuk Obati Virus Corona

·Bacaan 1 menit

DREAMERS.ID - Sampai saat ini, studi terbaru telah menyatakan bahwa pasien Covid-19 yang menerima plasma dari pasien yang pulih dari corona tidaklah menurunkan angka risiko kematian akibat penyakit tersebut.

Melansir Tempo.co, Aparna Mukherjee, seorang ilmuwan epidemiologi dan penyakit menular di Dewan Riset Medis India meneliti plasma darah terhadap sebanyak 464 orang di India dengan penyakit Covid-19 sedang.

Ia menyatakan bahwa pasien dalam studinya kemungkinan akan dianggap sakit parah di negara lain, karena definisi penyakit sangat bervariasi di seluruh dunia.

Beberapa pasien yang sampai di rumah sakit dalam penelitian ini telah menerima dua dosis plasma penyembuhan, dari mereka yang telah sembuh dari virus corona. Jika dibandingkan dengan mereka yang dirawat dengan perawatan standar, pasien yang sudah diberi plasma rupanya memiliki rata-rata kematian setelah 28 hari.

"Studi ini memiliki ukuran sampel yang besar dan menunjukkan bahwa ketika plasma diinfuskan pada pasien dengan Covid-19 sedang (serupa dengan yang parah di negara lain), itu tidak mengurangi kematian atau perkembangan menjadi Covid-19 yang lebih kritis," kata Aparna Mukherjee dikutip dari Time.

Hasil studi juga menambahkan perdebatan yang berkelanjutan tentang seberapa berguna plasma penyembuhan untuk bisa jadi pengobatan untuk Covid-19. Karena sistem kekebalan manusia sangat bervariasi, volume sel yang melawan penyakit juga tidak dapat diprediksi.

Variabilitas tersebut menyebabkan hasil yang bertentangan pada keefektifan terapi plasma, termasuk dalam penelitian ini, yang menggunakan plasma donor dari orang yang sakit selama rata-rata enam hari dengan apa yang penulis gambarkan sebagai penyakit ringan.

Berita Lainnya :

Hasil Penelitian, Covid-19 Picu Reaksi Antibodi Serang Tubuh Sendiri

Hasil Survei Menunjukan Anak Muda Tak Percaya Covid-19