Studi PBB Sebut Bahaya Kematian Mengintai Pekerja 55 Jam Per Minggu

·Bacaan 2 menit

Berlin - Kesimpulan sebuah studi terbaru oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dirilis Senin 17 Mei 2021 menyebutkan, bekerja lebih dari 55 jam seminggu meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung dan stroke.

Studi terbaru itu menyimpulkan bahwa terlalu lama bekerja dapat meningkatkan risiko stroke sebesar 35% dan risiko kematian akibat penyakit jantung iskemik sebesar 17%.

Mengutip DW Indonesia, Kamis (20/5/2021), laporan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) itu dirilis di tengah pandemi COVID-19 yang telah mempercepat terjadinya perubahan tempat kerja dan memperkuat kecenderungan bagi seseorang untuk bekerja lebih lama.

Studi WHO dan ILO yang diterbitkan dalam jurnal Environment International ini adalah analisis global pertama, tentang risiko terhadap kehidupan dan kesehatan yang terkait dengan panjangnya jam kerja.

Studi ini tidak hanya berfokus pada masa pandemi, tetapi juga pada tahun-tahun sebelumnya. Para penulis menyimpulkan data dari puluhan studi sebelumnya yang melibatkan ratusan ribu partisipan.

"Bekerja 55 jam atau lebih per minggu adalah bahaya yang serius bagi kesehatan," kata Maria Neira, direktur departemen lingkungan, perubahan iklim, dan kesehatan di WHO.

"Sudah waktunya kita semua - pemerintah, pengusaha, dan karyawan - menyadari fakta bahwa jam kerja yang panjang dapat menyebabkan kematian dini," imbuhnya.

Risiko Lebih Tinggi pada Pekerja Laki-Laki

Studi tersebut menyimpulkan periode terbaik bekerja agar tak berlebihan.

Disebutkan bahwa bekerja 55 jam atau lebih per minggu dikaitkan dengan perkiraan peningkatan risiko menderita stroke sebesar 35%, dan peningkatan risiko kematian akibat penyakit jantung iskemik sebesar 17%, bila dibandingkan dengan bekerja dalam rentang waktu antara 35 hingga 40 jam per minggunya.

Pada 2016, WHO dan ILO memperkirakan sekitar 398.000 orang meninggal karena stroke dan 347.000 karena penyakit jantung setelah bekerja setidaknya 55 jam per minggu.

Antara tahun 2000 dan 2016, jumlah kematian akibat penyakit jantung terkait dengan jam kerja yang panjang meningkat sebesar 42%, sedangkan angka stroke meningkat sebesar 19%.

Menurut studi tersebut, sebagian besar kematian terjadi pada orang berusia 60 hingga 79 tahun yang telah bekerja selama 55 jam atau lebih per minggu pada saat mereka berusia antara 45 dan 74 tahun.

Selain itu, studi tersebut juga mendapati bahwa beban penyakit yang terkait dengan pekerjaan ini sangat signifikan terlihat pada laki-laki. Sebanyak 72% kematian terjadi pada laki-laki. Lalu terhadap orang yang tinggal di Pasifik Barat dan kawasan Asia Tenggara, serta para pekerja paruh baya atau yang lebih tua.

Tidak Ada Pekerjaan yang Sebanding dengan Risiko Stroke

Ilustrasi bekerja di tempat tidur (Sumber: Unsplash.com)
Ilustrasi bekerja di tempat tidur (Sumber: Unsplash.com)

Organisasi itu juga mengatakan bahwa krisis Virus Corona COVID-19 mempercepat tendensi perubahan yang dapat mendorong tren peningkatan waktu kerja.

"Pandemi COVID-19 telah mengubah cara kerja banyak orang secara signifikan," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

"Teleworking telah menjadi norma di banyak industri, sering mengaburkan batas antara rumah dan kantor. Selain itu, banyak bisnis terpaksa mengurangi atau menghentikan operasi untuk menghemat uang, dan orang yang masih berada dalam daftar karyawan akhirnya bekerja dalam rentang waktu yang lebih lama.

"Tidak ada pekerjaan yang sebanding dengan risiko stroke atau penyakit jantung. Pemerintah, pengusaha, dan pekerja perlu bekerja sama untuk menyetujui batasan untuk melindungi kesehatan pekerja."

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel