Studi: Perubahan Iklim Memicu 218 Penyakit Menular Makin Berbahaya

Merdeka.com - Merdeka.com - Profesor Camilo Mora merasakan dampak perubahan iklim di lututnya.

Ketika berkunjung ke negara asalnya Kolombia pada 2014, hujan lebat menyebabkan banjir terburuk yang pernah terjadi di kampung halamannya sehingga meningkatkan populasi nyamuk.

Seekor nyamuk menggigit Mora, memindahkan virus chikungunya dan menjadikannya pasien dari wabah yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah tersebut. Sendi-sendinya bahkan masih sakit sampai sekarang. Namun, Mora menyalahkan dunia yang semakin panas.

Dikutip dari NBC News, Selasa (10/8), dalam sebuah penelitian yang diterbitkan Senin lalu, Mora dan rekan-rekannya di University of Hawaii mempelajari puluhan ribu penelitian untuk menganalisis dampak perubahan iklim secara global terhadap penyakit menular yang mempengaruhi manusia. Mereka menyimpulkan hampir 220 penyakit menular – 58 persen dari total yang diteliti – menjadi ancaman yang lebih besar bagi manusia karena bahaya iklim.

"Sistem telah berevolusi selama jutaan tahun dan sekarang manusia hadir dan mengubah banyak hal," kata Mora. "Kita menyakiti alam dan alam membalas."

Studi tersebut, yang pada akhirnya menganalisis lebih dari 3.200 karya ilmiah, adalah salah satu pengamatan paling menyeluruh atas dampak keseluruhan perubahan iklim terhadap penyakit di seluruh dunia.

"Hanya penelitian penyakit menular baru-baru ini saja yang benar-benar fokus kami amati terhadap perubahan iklim sebagai pemicu penyakit menular," kata Jessica Leibler, ahli epidemiologi lingkungan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Boston.

Lima puluh delapan persen "tampak seperti angka yang sangat tinggi," katanya, "tetapi ini mencerminkan kenyataan bahwa penyakit menular didorong oleh apa yang terjadi di lingkungan kita."

Ketika Mora dan timnya meneliti efek dari 10 bahaya iklim pada 375 penyakit menular, mereka menemukan lebih dari 1.000 cara perubahan iklim memicu penularan penyakit. Kenaikan suhu adalah pemicu terbesar penyakit patogen, diikuti oleh curah hujan, banjir dan kekeringan.

Paling sering, penyakit menular menyebar ke manusia dari hewan seperti nyamuk, ular, burung atau hewan pengerat.

Tikus, misalnya, bergantung pada tutupan salju untuk habitat musim dingin, kata Mora. Tetapi tumpukan salju yang berkurang membuat tikus-tikus itu mencari perlindungan di dalam rumah-rumah penduduk. Tikus-tikus itu diketahui menularkan hantavirus.

"Iklim mendorong perubahan habitat dan gangguan di seluruh dunia. Hal tersebut membuat manusia berkontak dengan spesies hewan lewat cara yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Leibler.

"Pandemi kita saat ini adalah contoh dari kesimpulan bahwa kelelawar mungkin berperan."

Meningkatnya suhu juga meningkatkan kisaran habitat makhluk seperti kutu, nyamuk, menimbulkan jejak infeksi seperti virus West Nile, Zika, dan demam berdarah.

Reporter Magang: Gracia Irene [pan]