Studi: Rajin Menyikat Gigi Baik Untuk Kesehatan Jantung

Liputan6.com, Jakarta Menyikat gigi bukan hanya menjaga kesehatan gigi itu sendiri. Sebuah penelitian menyatakan bahwa kebiasaan tersebut juga memiliki manfaat bagi jantung.

Dalam sebuah studi terbaru di European Journal of Preventive Cardiology, menyikat gigi secara teratur dapat memangkas risiko terkena gagal jantung serta atrial fibrilasi (A-fib) atau sejenis gangguan pada irama jantung.

"Kebersihan mulut yang buruk dapat memicu bakterimia dan peradangan sistemik, mediator atrial fibrilasi dan gagal jantung," tulis peneliti Tae-Jin Son dari Ewha Womans University di Seoul, Korea seperti dikutip dari Medical News Today pada Rabu (4/12/2019).

Dalam penelitiannya, Jin Song bersama timnya melakukan studi terhadap keterkaitan dua masalah jantung tersebut terhadap kebersihan mulut yang buruk. Mereka menggunakan data dari 161.286 orang yang tergabung dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional Korea Selatan.

Pangkas Risiko Gagal Jantung 12 Persen

Sikat gigi dibasahi setelah diolesi odol. (iStockphoto)

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menemukan bahwa menyikat gigi tiga kali atau lebih memiliki pengurangan risiko 10 persen terkena A-fib serta 12 persen pada risiko gagal jantung.

"Perawatan kebersihan mulut yang baik dikaitkan dengan penurunan risiko atrial fibrilasi dan gagal jantung."

"Kebersihan mulut yang lebih sehat dengan seringnya menyikat gigi serta pembersihan gigi oleh profesional dapat mengurangi risiko atrial fibrilasi dan gagal jantung," tulis para peneliti.

Kritik pada Penelitian

Ilustrasi sikat gigi (iStockphoto)

Namun, penelitian ini mendapatkan kritik. Batasan dalam penelitian ini adalah tidak dijelaskan penyebab itu bisa terjadi.

"Penyebab hubungan ini tidak jelas dan tentu saja terlalu dini untuk merekomendasikan bahwa menyikat gigi bisa menjadi pencegahan," tulis Pascal Meyre dari Cardiovascular Research Institute Basel University Hospital di Swiss dan David Conen dari Population Health Research Institute, McMaster University, Kanada.

Kritik juga datang karena tidak dikesampingkannya tingkat pendidikan, status perkawinan, serta informasi tentang penanda inflamasi yang dimiliki para peserta.

Selain itu, studi tersebut juga hanya dilakukan pada kelompok masyarakat di satu negara. Maka dari itu, belum tentu hasilnya bisa digeneralisir pada kelompok lain.

Saksikan juga video menarik berikut ini