Studi: RI Masuk Era Keemasan Ekonomi Digital Setelah Pandemi Teratasi

Raden Jihad Akbar
·Bacaan 4 menit

VIVA – Perusahaan modal ventura bekerja sama dengan Katadata Insight Centre meluncurkan hasil studi mengenai perkembangan ekonomi digital di Indonesia. Hasilnya, tanda-tanda era keemasan ekonomi digital di Indonesia sudah terpotret saat ini.

Studi East Ventures Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2021 bertajuk 'Momentum Akselerasi Transformasi Ekonomi Digital' yang dirilis hari ini, menunjukkan bahwa daya saing digital antarprovinsi di Indonesia makin merata.

Pemerataan tersebut tampak dari kenaikan skor median indeks daya saya saing digital (EV-DCI) dari 27,9 pada 2020 menjadi 32,1 pada 2021. Ada dua faktor utama yang mendorong perkembangan dan pemerataan daya saing digital di Indonesia di tengah pandemi.

Dikutip dari studi EC-DCI, Senin 15 Maret 2021, faktor pertama adalah pembangunan infrastruktur yang makin merata. Infrastruktur merupakan pilar EV-DCI dengan kenaikan skor tertinggi, yakni 7,5 poin menjadi 54,3 pada 2021. Indikatornya adalah rasio desa yang mendapatkan sinyal 3G dan 4G, rasio rumah tangga yang memiliki sambungan telepon tetap, serta tingkat gangguan listrik.

Baca juga: Visi Media Asia Bakal Jadi Perseroan Bebas Utang

Faktor kedua adalah peningkatan pengeluaran untuk teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Hal itu mengindikasikan bahwa penduduk Indonesia di seluruh provinsi makin banyak menggunakan layanan dan transaksi berbasis digital. Pilar pengeluaran TIK dalam indeks EV-DCI naik 6,3 poin.

Sejumlah indikator yang menopang kenaikan skor ini adalah peningkatan rasio rumah tangga yang memiliki pengeluaran untuk TIK, pengeluaran rata-rata rumah tangga untuk TIK, serta balas jasa dan upah pekerja di sektor TIK.

Dijelaskan, perkembangan signifikan pada kedua pilar EV-DCI tersebut melengkapi kekuatan daya saing Indonesia dalam hal penggunaan TIK. Meskipun hanya naik 2,7 poin pada 2021, penggunaan TIK di Indonesia adalah pilar EV-DCI dengan daya saing paling tinggi dan memiliki skor yang paling merata dibandingkan dengan pilar lain

Co-Founder & Managing Partner East Ventures Willson Cuaca mengungkapkan, adanya pandemi sedikit mengerem pertumbuhan pesat ekonomi digital Indonesia. Namun, pandemi juga membantu mengakselerasi adopsi layanan digital di Indonesia.

"Seperti ketapel yang ditarik ke belakang, ekonomi digital Indonesia bakal melesat menuju era keemasan setelah setelah pandemi bisa teratasi,” ujarnya.

Lebih lanjut studi itu menunjukkan, terjadi lompatan adopsi layanan digital di beberapa vertikal di industri teknologi. Sekitar 2,5 juta merchant bergabung di platform marketplace Tokopedia sepanjang pandemi dibandingkan dengan 7 juta merchant yang bergabung selama 10 tahun sebelumnya.

Selain itu, adanya sekolah daring membuat, platform pendidikan seperti Ruangguru misalnya, kini digunakan oleh lebih dari 22 juta pelajar. Salah satu produk Ruangguru, kelas online gratis yang disediakan oleh startup tersebut selama pandemi, telah diakses sekitar 10 juta siswa dari seluruh Indonesia.

Kemudian, Traveloka bisa bangkit dengan cepat dengan berfokus mempromosikan destinasi turis domestik untuk mendukung industri hotel dan pariwisata lokal. Sementara itu, di tataran usaha mikro, Warung Pintar juga terus berekspansi untuk mendukung pemilik warung dan telah bermitra dengan230.000 peritel di 65 kota.

Pilar penyusun EV-DCI lainnya juga mengalami kenaikan skor. Seperti sumber daya manusia (SDM), perekonomian, kewirausahaan dan produktivitas, keuangan, serta regulasi dan kapasitas Pemda naik di kisaran 3-5 poin. Adapun pilar ketenagakerjaan naik 0,8 poin.

Menurut Willson, Pemerataan daya saing digital Indonesia sejatinya adalah hasil kerja gotong royong Pemerintah, korporasi, dan startup. Karena itu akselerasi pemulihan pandemi COVID-19 juga harus diupayakan dengan cepat.

“Presiden Joko Widodo telah mendorong agar segala macam hambatan yang muncul akibat pandemi COVID-19 justru dimanfaatkan sebagai momentum dalam mempercepat transformasi digital. Teknologi adalah kunci untuk terpenting agar Indonesia lebih efisien dan produktif,” kata Willson.

Daerah makin melek digital

Studi itu menjabarkan, untuk level provinsi di Indonesia terlihat bahwa provinsi DKI Jakarta memimpin daya saing digital dengan skor EV-DCI 77,6. Kemudian diikuti Jawa Barat dengan skor 57,1, dan Jawa Timur dengan skor 48,0.

Sementara itu, provinsi Papua berada di urutan terbawah dengan skor 22,0. Bali dan Kepulauan Riau menjadi provinsi yang mencatatkan peningkatan skor secara signifikan, bahkan menembus dominasi provinsi-provinsi dari Jawa. Bali berada di peringkat keempat dengan skor 47,7 (naik dari peringkat ketujuh dengan skor 40,6 pada tahun lalu).

Sedangkan Kepulauan Riau naik ke peringkat ketujuh dengan peningkatan skor dari 35,9 menjadi 43,0 pada tahun ini. Pada kedua provinsi, semakin banyak penduduk yang bergantung pada internet dalam pekerjaan atau menjalankan usahanya.

Selain itu, peningkatan skor Bali tidak lepas dari faktor infrastruktur digital di provinsi tersebut yang memiliki skor terbaik kedua setelah DKI Jakarta (82,42). Tingginya skor Infrastruktur ini didukung oleh sejumlah indikator penyusunnya, seperti rasio desa yang sudah mendapatkan sinyal 3G dan 4G.

Naiknya peringkat dan skor ekonomi digital di daerah tersebut tidak terlepas dari faktor geografis. Faktor jarak dekat dengan Singapura membuat Kepulauan Riau, khususnya Batam menjadi salah satu tujuan investasi dari Singapura, termasuk investasi di sektor ekonomi digital.

Salah satunya adalah Nongsa Digital Park, yang kini telah diisi oleh sekitar 150 perusahaan dan 1.000 pengembang teknologi dan pelaku industri kreatif.

“Kami berharap agar seluruh masyarakat Indonesia di 34 provinsi ikut menikmati era keemasan ekonomi digital Indonesia,” tutupnya.