Studi: Sakit Otot Jadi Gejala Baru Terinfeksi COVID-19

Rochimawati, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVA – Virus COVID-19 yang melanda dunia sejak awal tahun 2020 membuat masyarakat semakin wasapada terhadap penyebarannya. Tidak heran masyarakat selalu memperbaharui informasi terkait virus corona ini, termasuk mengenai gejala atau ciri-ciri seseorang yang terpapar dari virus ini.

Meskipun kita sudah mengetahui gejala paling umum dan klasik dari virus corona tersebut. Mulai dari demam, nyeri tenggorokan, hidung berair dan mampet, hilangnya indera penciuman dan perasa, batuk kering, nyeri dada, hingga kelelahan.

Namun, sebuah penelitian terbaru menyatakan bahwa COVID-19 juga dapat memengaruhi sistem muskuloskeletal tubuh manusia, yang menyebabkan rasa sakit yang hebat. Oleh karena itu, nyeri otot, juga dikenal sebagai mialgia, diketahui sebagai kemungkinan gejala COVID-19.

Dilansir dari laman Times of India, mialgia atau nyeri otot adalah suatu kondisi di mana pasien dapat merasakan nyeri dan nyeri pada ligamen, tendon, dan fasia, jaringan lunak yang menghubungkan otot, tulang, dan organ.

Menurut laporan terbaru oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 55.924 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi laboratorium di China, menemukan bahwa 14,8 persen pasien melaporkan mialgia atau artralgia (nyeri sendi).

Meskipun persentase orang yang berjuang melawan gejala umum lainnya jauh lebih tinggi, nyeri otot telah diidentifikasi sebagai gejala COVID-19 yang lebih mungkin terjadi daripada sakit tenggorokan, sakit kepala, dan kedinginan.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di US National Library of Medicine National Institutes of Health, mialgia diidentifikasi sebagai gejala umum pada pasien dengan infeksi virus seperti COVID-19 dan influenza.

Selain nyeri otot dan punggung, ada gejala COVID-19 lain yang kurang diketahui yang telah diabaikan atau belum dikenali. Mulai dari sakit perut, kabut atau kebingungan otak, dan infeksi mata, khususnya konjungtivitis.

Jika Anda adalah seseorang yang merasa tidak enak badan atau terus menerus batuk, Anda harus mengisolasi diri setidaknya selama seminggu. Jika seandainya Anda tinggal dengan seseorang yang telah menunjukkan gejala COVID-19, maka Anda harus meminta mereka untuk di karantina dan juga harus tetap diisolasi selama 14 hari.

Selain itu mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Oleh karena itu, praktikkan jaga jarak sosial dan lakukan semua tindakan pencegahan, bukan hanya untuk keselamatan Anda tetapi juga untuk keselamatan orang lain.