Studi SAP temukan 91 persen UKM alami ketidakstabilan tenaga kerja

·Bacaan 2 menit

Sebuah studi Perusahaan Teknologi, SAP menemukan 91 persen usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia mengalami ketidakstabilan tenaga kerja, termasuk banyaknya pengunduran diri tenaga kerja ahli yang mencari pengembangan karir di organisasi lain.

Hal ini tentu mempengaruhi proses digitalisasi bisnis mereka, mengingat 81 persen UKM menganggap transformasi digital memiliki peran kritikal bagi keberlangsungan organisasi mereka ke depannya.

“Studi ini membuktikan bahwa ketidakstabilan dan krisis tenaga kerja bukan hanya ancaman eksistensial bagi UKM saja, tetapi berlaku juga untuk organisasi lainnya,” kata Managing Director SAP Indonesia Andreas Diantoro dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.

Di saat ekonomi dunia mulai perlahan pulih dari pandemi, masifnya pengunduran diri yang mulai muncul pada tahun 2021 menjadi tantangan bagi banyak bisnis di dunia dan mengacu pada tren pengunduran diri dari pekerjaan oleh jutaan karyawan global.

Riset SAP menemukan fenomena ini memiliki dampak besar terhadap UKM di Tanah Air, dengan 25 persen responden setuju lebih banyak karyawan yang mengundurkan diri saat ini dibandingkan 12 bulan lalu, sehingga hampir 63 persen UKM mengatakan menghadapi kesulitan dalam mengatasi dampak pengunduran diri yang masif.

Maka dari itu, krisis ketenagakerjaan yang terjadi sangat mempengaruhi kemampuan UKM untuk melanjutkan proses transformasi digital mereka, karena selain membutuhkan tenaga kerja untuk menjalankan kegiatan sehari-hari, UKM di Indonesia juga membutuhkan tenaga kerja lain yang lihai mengoperasikan teknologi digital.

Andreas menjelaskan transformasi digital merupakan cara paling dasar bagi UKM untuk dapat membangun ketahanan organisasi dan melakukan strategi inovatif yang dapat mendongkrak pertumbuhan bisnis mereka.

"Tanpa adanya tenaga kerja yang tepat untuk mendukung perkembangan mereka, maka proses transformasi pun turut terhalang. Investasi terhadap tenaga kerja juga harus sejalan dengan investasi inovasi, sehingga dapat membantu UKM di Indonesia dapat bertahan dan terus berkembang.” tuturnya.

Untuk mengantisipasi pengunduran diri yang masif, dirinya menyebutkan berinvestasi pada tenaga kerja dan pengadaan pelatihan dapat dilakukan, seiring dengan sering disalahartikannya pengunduran diri masif sebagai karyawan yang meninggalkan pekerjaan mereka untuk mengejar tujuan lainnya.

Langkah tersebut juga bisa dilakukan agar UKM bisa beralih fokus dari bertahan selama pandemi menjadi fokus kepada pertumbuhan perusahaan.

Ia menuturkan UKM merupakan pelopor untuk ekonomi yang lebih luas lantaran membentuk 97 persen bisnis di Asia dan mempekerjakan 50 persen tenaga kerja.

Di Indonesia, sektor ini berkontribusi sebesar 61,1 persen terhadap perekonomian nasional, serta memiliki daya serap tenaga kerja sebanyak 117 juta pekerja atau 97 persen dari daya serap tenaga kerja dunia usaha di Tanah Air.

"Saya percaya ketika UKM berkembang, ekonomi akan tumbuh dan berpotensi membuat Asia menjadi makmur. Penggabungan optimisme, inovasi berkelanjutan, komitmen mengembangkan tenaga kerja berkualitas, serta pembentukan ekosistem kerja sama yang kuat akan menjadi akar-akar pemetaan kesuksesan UKM Indonesia dalam 10 tahun yang akan datang," ungkapnya.

Baca juga: Survei: UMKM Indonesia paling banyak serap tenaga kerja

Baca juga: Sandi: Program Gernas BBI sangat komprehensif untuk berdayakan UMKM

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel