Studi: Satu dari 10 lansia di AS menderita demensia

Satu dari 10 orang dewasa di Amerika Serikat (AS) yang berusia di atas 65 tahun menderita demensia, sementara 1 dari 5 orang mengalami gangguan kognitif, ungkap The Washington Post pada Senin (31/10), mengutip sebuah studi dilansir Xinhua pada Rabu.

Diterbitkan di jurnal JAMA Neurology pada 24 Oktober lalu, studi tersebut memperbarui estimasi yang telah ada selama 20 tahun tentang jumlah warga lanjut usia (lansia) di AS yang mengidap demensia dan gangguan kognitif ringan.

Untuk studi terbaru itu, para peneliti memeriksa hasil tes pada periode 2016-2017 dari 3.500 partisipan studi yang berusia 65 tahun ke atas. Serangkaian tes itu mengukur memori, perhatian, pemahaman, dan sejumlah faktor seperti apakah mereka dapat hidup mandiri dan bagaimana kemampuan mereka telah berubah selama dekade sebelumnya.

Hasilnya menunjukkan bahwa 10 persen orang dewasa AS yang berusia 65 tahun ke atas menderita demensia, sementara 22 persen mengalami gangguan kognitif ringan, dengan memori dan beberapa fungsi lainnya mengalami penurunan. Kondisi yang disebutkan terakhir diperkirakan terjadi selama proses transisi ke demensia.

Meski hampir seimbang untuk pria dan wanita, angka yang tercatat cenderung lebih tinggi seiring bertambahnya usia. Sebesar 3 persen partisipan berusia 60-an tahun menderita demensia, tetapi angka itu naik menjadi 35 persen untuk partisipan berusia 90-an tahun, menurut laporan itu.

Tingkat kejadian demensia lebih tinggi untuk para lansia yang teridentifikasi sebagai warga kulit hitam atau Afrika-Amerika jika dibandingkan dengan warga lansia lainnya. Sebesar 15 persen warga lansia kulit hitam menderita demensia, sedangkan hanya 11 persen warga lansia kulit putih dan 10 persen warga lansia Hispanik mengalaminya, imbuh laporan itu. Selesai