Studi Sebut Tubuh Perempuan Lebih Kuat Merespons Efek Samping Vaksin COVID-19

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Sebuah studi baru menemukan bahwa tubuh perempuan lebih mungkin memiliki respon kekebalan yang lebih baik terhadap efek samping vaksin COVID-19. Dilansir dari Healthline, laporan Trusted Source dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menenmukan dari 13,8 juta dosis vaksin COVID-19 pertama yang diberikan kepada orang Amerika, efek samping yang lebih tinggi dirasakan oleh kebanyakan perempuan.

Faktanya, 79% dari efek yang samping dilaporkan berasal dari perempuan. Sementara, dari jumlah penerima vaksin COVID-19 tersebut 61% di antaranya adalah perempuan. Para peneliti menduga bahwa perempuan, terutama mereka yang memasuki pramenopause, memiliki kadar estrogen yang memabntu mengaktifkan respon kekebalan terhadap penyakit dan vaksin.

Sementara itu, para pria yang memiliki lebih banyak testosteron menjadi hormon yang agak meredam dan memperlambat timbulnya efek samping yang sama.

Bisa dikatakan jika perempuan pada umumnya memiliki respons yang lebih kuat terhadap vaksin COVID-19 karena tubuh mereka lebih cepat dan lebih kuat dalam mengaktifkan apa yang diperkenalkan vaksin dalam tubuh.

Respons lebih kuat

Ilustrasi vaksin. Sumber foto: unsplash.com/Charles Deluvio.
Ilustrasi vaksin. Sumber foto: unsplash.com/Charles Deluvio.

"Penyakit menular pada umumnya selalu tentang respon kekebalan. Pada perempuan, ada respons yang bersemangat dan lebih kuat (terhadap banyak vaksin)," ungkap dr. Larry Schlesinger selaku Presiden dan Kepala Eksekutif Texas Biomedical Research Institute.

Di masa lalu, Schlesinger menyebuat tubuh perempuan terlihat lebih kuat dan dipelajari dalam vaksin demam kuning, DPT, influence, dan penyakit lainnya. Hormon estrogen dalam tubuh perempuan mendorong tubuh memproduksi lebih banyak sel T atau sel reaktof yang melindungi terutama saat vaksin diperkenalkan.

Tantangan berikutnya

Yang menjadi tantangan saat ini adalah bagaimana otoritas kesehatan dapat membagikan informasi ini tanpa membuat masyarakat khawatir dan menjadikannya alasan untuk menghindari vaksin COVID-19. Menurut dr. William Schaffner yang merupakan pakar penyakit menular, vaksin menjadi pedang bermata dua bagi perempuan.

Ia menyebut di mana satu sisi perempuan menjadi bukti bahwa tubuhnya memberikan respons antibodi yang kuat. Namun di sisi lain, vaksin bisa berpotensi mengalami efek samping dalam sehari atau lebih.

Simak video berikut ini

#Elevate Women