Studi: Tak Perlu Adopsi Pola Makan Vegan Buat Selamatkan Bumi

Renne R.A Kawilarang, DW Indonesia
·Bacaan 3 menit

Umat manusia tidak perlu mengadopsi pola makan vegan untuk menyelamatkan Planet Bumi. Kesimpulan tersebut dipublikasikan sekelompok peneliti asal Amerika Serikat dan Inggris di jurnal ilmiah, Science, Kamis (5/11).

Menurut temuan ilmuwan, target reduksi emisi gas rumah kaca bisa dicapai tanpa mengorbankan protein hewani, selama kita mengubah model produksi, konsumsi dan mengurangi pemborosan bahan pangan.

Dalam studi tersebut, ilmuwan mempelajari lima faktor utama sistem makanan dan mengukur jumlah emisi yang bisa dikurangi.

Menurut temuan mereka, perbaikan parsial pada masing-masing faktor bisa membantu umat manusia memenuhi target pengurangan emisi, tanpa perlu melakukan perubahan ekstrim pada sistem makanan.

Jika sistem produksi, konsumsi dan pengolahan limbah makanan masih berlangsung seperti saat ini, manusia akan memproduksi hampir 1,5 triliun ton gas rumah kaca dalam 80 tahun ke depan. Angka tersebut berasal dari emisi ternak sapi, degradasi tanah dan limbah makanan.

Tapi bahkan jika manusia tidak lagi menggunakan bahan bakar fosil, jumlah emisi yang dihemat tidak mampu menahan laju pemanasan global di bawah level yang ditetapkan pada Perjanjian Iklim Paris, 2015 silam.

“Dunia tidak perlu mengorbankan daging untuk mencapai sasaran iklim,” kata Jason Hill, Guru Besar Teknik Biologi di Universitas Minnesota, AS, yang juga salah seorang penulis studi. “Kita bisa mengkonsumsi makanan yang lebih baik dan lebih sehat. Kita bisa memperbaiki cara kita menanam makanan, dan kita bisa mengurangi pemborosan makanan,” imbuhnya.

Solusi parsial bagi masalah global

Inilah butir kesimpulan para ilmuwan:

  • Jika sebagian besar manusia mengubah pola diet menjadi vegan, jumlah emisi gas rumah kaca yang dihemat mencapai 720 miliar ton.

  • Jika semua orang hanya mengkonsumsi jumlah kalori yang dibutuhkan sesuai berat badan, yakni sekitar 2.100 cal per hari, maka dunia bisa mengurangi 450 miliar ton gas rumah kaca.

  • Jika semua orang membuang lebih sedikit makanan di piring, restoran atau menyumbangkannya bagi warga miskin, maka jumlah emisi yang bisa dihemat adalah sebesar 400 miliar ton.

  • Jika pertanian bisa lebih hemat emisi, dengan mengurangi penggunaan pestisida, pengelolaan tanah yang baik dan melakukan rotasi tanaman, maka manusia bisa mengurangi 600 miliar ton gas rumah kaca.

  • Jika hasil panen bisa ditingkatkan melalui rekayasa genetika atau lewat cara lain, maka pengurangan emisi dari sektor pertanian akan mencapai 210 miliar ton.

Bahkan jika umat manusia hanya mampu memenuhi separuh dari masing-masing lima sasaran di atas, jumlah total produksi emisi gas rumah kaca akan anjlok sebanyak 940 miliar ton. Dan dengan dikuranginya emisi dari bahan bakar fosil, manusia punya kesempatan menghadang kenaikan suhu tambahan sebanyak 0,5 hingga 1,3 derajat Celcius, seperti yang ditargetkan Perjanjian Iklim, tulis ilmuwan lagi.

Hans-Otto Poertner, Kepala Panel PBB untuk Dampak Perubahan Iklim Global, mengatakan kesimpulan studi tentang jalur-jalur yang bisa ditempuh untuk mengurangi emisi bisa dipahami.

“Ada banyak inovasi yang memungkinkan kita menghentikan pemborosan makanan, dan menghentikan praktik pemborosan lain seperti membabat hutan tropis untuk perkebunan kedelai yang kemudian diekspor sebagai pakan ternak,” kata dia.

“Tidak bisa diabaikan bahwa mengurangi konsumsi daging ke tingkat yang berkelanjutan adalah sangat penting.”

Pola diet yang mengurangi konsumsi daging atau lemak hewani, dan pengurangan porsi makanan, bisa menjadi cara membuat Bumi dan manusia menjadi lebih sehat, menurut Prof. Jason Hill. “Studi ini menunjukkan bahwa beragam solusi teknologi dan perubahan perilaku manusia bisa membuat perbedaan yang nyata,” kata dia.

rzn/as (associated press)