Studi Temukan Misinformasi terkait Krisis Iklim Meningkat di Facebook

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Penyebaran misinformasi seputar krisis iklim dilaporkan meningkat di platform media sosial Facebook. Temuan ini dilaporkan oleh kelompok pengawas independen Real Facebook Oversight Board dan organisasi nirlaba lingkungan Stop Funding Heat.

Mereka menganalisis data lebih dari 195 halaman dan grup Facebook pada Kamis (4/11/2021). Para peneliti menemukan sekitar 818.000 unggahan yang meremehkan atau menyangkal krisis iklim. Dengan menggunakan alat analisis Facebook, CrowdTangle diketahui ada 41 unggahan dianggap kelompok "masalah tunggal".

Unggahan ini muncul dengan nama seperti "Perubahan Iklim itu Alami", "Perubahan Iklim adalah Omong kosong", dan "Realisme Iklim".

Kelompok-kelomok ini membagikan meme yang menyangkal adanya perubahan iklim dan mencemooh para politisi yang berusaha mengatasinya lewat undang-undang.

Rilis studi ini bertepatan dengan KTT iklim Cop 26 di Glasgow, Skotlandia. Dengan adanya laporan ini, mereka mendesak pemerintah untuk segera menangkap misinformasi krisis iklim di media sosial dan langkah nyata mengurangi emisi gas rumah kaca.

"Disinilah ambisi Cop 26 dan pengungkapan Makalah Facebook bertabrakan, dengan data kami menunjukkan Facebook adalah salah satu pemasok disinformasi iklim terbesar di dunia," kata para peneliti, dikutip dari theguardian.com, Kamis (4/11/2021).

Penyebaran misinformasi soal krisis iklim yang semakin merajalela ini berpotensi merugikan masyarakat, kata Sean Buchan, peneliti dan manajer kemitraan untuk Stop Funding Heat. Dengan laporan yang menemukan interaksi per pos dalam kumpulan datanya telah meningkat 76,7 persen pada tahun lalu.

"Jika terus meningkat, ini dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan di dunia nyata," kata Buchan.

Facebook hingga kini belum berkomentar terkait masalah ini. Sebelumnya, Facebook menyatakan bahwa pihaknya terus melawan penyebaran informasi yang salah dengan menandai konten yang dianggap bermasalah. Kemudian mengajak pengguna merujuk sejumlah sumber kredibel, misalnya Pusat Sains Perubahan Iklim.

Sementara, menurut hitungan Facebook, Pusat Sains Perubahan Iklim menerima sekitar 100 ribu kunjungan harian secara global. Menurut penelitian Facebook, sebagian kecil dari jumlah pengguna melihat misinformasi terkait krisis iklim.

Saat KTT iklim Cop 26 berlangsug, para aktivis menyerukan masalah ini ke Kongres Amerika Serikat, Parlemen Inggris, dan Kongres Uni Eropa untuk meloloskan undang-undang yang menargetkan kekuatan besar Facebook karena ketidakmampuannya untuk membendung misinformasi iklim.

"Facebook tidak dapat dan tidak akan mengawasi diri mereka sendiri. Kami membutuhkan pengawasan dan regulasi luar yang nyata, independen, transparan, dan penyelidikan terhadap semua aktivitas Facebook termasuk penyebaran disinformasi iklim yang berbahaya," ujar Dewan Pengawas Real Facebook Oversight Board.

Penulis: Geiska Vatikan Isdy

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel