Studi: tujuh komoditas pokok alami kenaikan pesat

·Bacaan 2 menit

Data Indeks Bulanan Rumah Tangga (Indeks BU RT) dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menunjukkan harga tujuh dari sembilan komoditas pokok mengalami kenaikan yang pesat dan berkontribusi pada laju inflasi di bulan Mei hingga mencapai 0,38 persen di sektor makanan dan minuman.

Peneliti CIPS Indra Setiawan dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Rabu, memaparkan di antara komoditas tersebut, harga daging mengalami kenaikan yang paling ekstrem dengan kenaikan dari bulan April ke Mei 2021 yang naik sekitar tujuh persen, jauh lebih tinggi dibanding harga komoditas lainnya.

Harga daging sapi meningkat dari Rp154.750 menjadi Rp165.900. Harga ayam juga merangkak naik dari Rp36.900 ke Rp40.722. CIPS menilai kenaikan ini bisa disebabkan beberapa faktor, seperti adanya peningkatan permintaan yang terjadi semenjak awal bulan Ramadhan.

Peningkatan ini jauh lebih pesat dibandingkan Ramadhan tahun lalu dan berbarengan dengan permintaan menjelang Idul Adha. Selain itu, para pedagang tidak memiliki stok daging yang mencukupi sehingga terpaksa menyembelih sapi betina, yang seharusnya mampu bereproduksi, untuk menjaga ketersediaan sapi jantan di Idul Adha.

Kebijakan impor juga ditengarai menjadi penyebab kenaikan harga daging yang juga disebabkan dari anjloknya ketersediaan sapi di Australia sebagai negara importir daging untuk Indonesia.

Baca juga: Pengamat ungkap dampak rencana pemberlakuan PPN sembako
Baca juga: Kementan fasilitasi biaya distribusi pangan dari daerah surplus

Sementara itu kenaikan harga ayam juga dipengaruhi sengketa Indonesia dengan World Trade Organization (WTO) perihal impor ayam dari Brasil yang terus menurun. Selain itu, harga ayam juga didorong oleh mahalnya harga pakan dan jagung yang ada di atas rerata Rp3.000 dan Rp5.000 untuk masing-masing. Kekurangan pasokan ini bisa menjadi faktor inflasi ayam yang cukup tajam.

CIPS juga mencatat harga telur naik sebesar tujuh persen dari Rp26.619 ke Rp28.170. Kenaikan harga ini terjadi setelah sebelumnya harga telur jatuh cukup dalam.

Indra berpendapat bahwa kenaikan harga ini disebabkan oleh naiknya konsumsi telur jelang Idul Fitri. Kenaikan ini cukup pesat, hingga bisa menyaingi penurunan harga di periode sebelumnya.

Harga gula tidak mengalami banyak pergerakan dari segi harga. Harga gula di Indonesia pun justru cenderung menurun akibat masuknya gula impor. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) juga menunjukkan bahwa harga gula naik dari Rp16.400 menjadi Rp18.000 pada bulan Mei.

“Namun, harga gula bisa menurun. Beberapa faktor, seperti serangan hama juga dapat menjatuhkan harga gula ke depannya. Kami menyimpulkan bahwa perbedaan ini disebabkan oleh impor yang lebih berefek ke harga gula di daerah,” jelas Indra.

Tren pergerakan harga beras juga tidak jauh berbeda dengan pergerakan harga gula. Harga beras hanya sedikit meningkat dari Rp12.508 ke Rp12.589.

“Dapat disimpulkan bahwa bulan Mei dipenuhi dengan inflasi komoditas. Namun, inflasi yang ada belum tentu menggambarkan peningkatan dari permintaan konsumen. Permintaan yang meningkat hanya dapat dilihat dari perubahan harga daging," katanya.

Di sisi lain, sejumlah komoditas masih cenderung dipengaruhi oleh kebijakan impor dan guncangan eksternal. Pemerintah perlu menganalisis masalah rantai pasokan dan ketersediaan di lapangan guna mencegah pergerakan harga yang ekstrim dan mengontrol inflasi.

Baca juga: Gubernur Jatim: Tenang "emak-emak" harga kebutuhan pokok stabil
Baca juga: Pemda diminta fokus kembangkan komoditas hortikultura

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel