Studi Ungkap Video Hoaks Lebih Cepat Disebar Ketimbang Teks dan Audio

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Penyebaran informasi palsu atau hoaks telah menjadi permasalahan yang serius di berbagai negara. Studi terbaru yang diunggah di The Journal of Computer-Mediated Communication mengungkap bahwa masyarakat cenderung membagikan video hoaks dibanding versi teks dan audio.

Sekitar 78 persen peserta studi menjawab bahwa mereka akan membagikan informasi tersebut jika berupa video. Sementara ada 63 persen yang akan membagikan informasi jika hanya mendengarnya dan 67 persen jika hanya membacanya.

Hal ini tentu menjadi suatu hal yang sangat mengkhawatirkan jika mereka tidak dapat memilah informasi tersebut.

"Ketika Anda melihat sesuatu, Anda lebih mempercayainya karena tampak begitu nyata," ujar S. Shyam Sundar, Profesor Media Effects James P. Jimirro di Donald P. Bellisario College of Communications, salah satu peneliti dalam studi itu dilansir PSU.

"Dengan teks, Anda harus menggunakan imajinasi Anda dan menempatkan diri Anda dalam situasi atau adegan yang digambarkan dalam rangkaian kata. Tetapi dengan video, ini adalah pengalaman yang jauh lebih langsung. Anda melihatnya dan Anda merasakannya. Jadi, orang jarang berhenti untuk berpikir ketika mereka melihat video, bahwa mereka telah melihat sesuatu yang tidak benar," Sundar menambahkan.

Diungkapnya, akibat kemajuan teknologi menjadikan format video jadi lebih kompleks. Hal itu menjadikan beberapa fact checker kesulitan menemukan titik ketidakakuratan informasi.

“Ketika orang menerima semua informasi ini (informasi hoaks berupa video, mereka secara mental kelebihan beban, membuat mereka cenderung tidak meneliti detailnya,” ujar Sundar.

Untuk mengatasi hal tersebut, para peneliti menyarankan setiap media sosial terutama aplikasi daring berbasis chatting melakukan penggunaan fitur peringatan saat penggunanya menerima video yang berasal dari pihak yang belum terverifikasi kebenarannya.

(MG/ Azarine Jovita Halim)

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi partner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel